Konten dari Pengguna

Di Tengah Tekanan Hidup, Banyak Orang Kehilangan Bagian Terbaik dari Dirinya

Agnes Pryzynta Ujung

Agnes Pryzynta Ujung

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agnes Pryzynta Ujung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini menggambarkan tekanan hidup modern yang membuat banyak anak muda perlahan kehilangan semangat, hobi, dan dirinya sendiri. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini menggambarkan tekanan hidup modern yang membuat banyak anak muda perlahan kehilangan semangat, hobi, dan dirinya sendiri. Foto: Generated by AI

Ada masa ketika seseorang bisa merasa hidup hanya karena melakukan hobi yang sangat disukai. Menari, menggambar, bermain musik, menulis, bermain gim, membaca novel, atau sekadar menikmati sore tanpa merasa bersalah. Hobi pada awalnya bukan tentang pencapaian, melainkan ruang untuk bernapas di tengah kehidupan yang melelahkan.

Namun hari ini, banyak orang perlahan kehilangan hubungan dengan hal-hal yang dulu mereka cintai. Bukan karena mereka berubah sepenuhnya, melainkan karena realitas hidup semakin menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Dunia bergerak terlalu cepat, sementara manusia dituntut untuk terus mengejar sesuatu tanpa henti.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling dekat dengan situasi ini. Di usia yang seharusnya menjadi masa eksplorasi diri, banyak anak muda justru hidup dalam tekanan produktivitas yang konstan. Kampus menuntut prestasi, lingkungan sosial menuntut pencapaian, media sosial menampilkan standar hidup yang tinggi, sementara realitas ekonomi membuat banyak orang merasa harus terus bekerja keras agar tidak tertinggal.

Akibatnya, hobi perlahan berubah menjadi kemewahan.

Banyak orang kini merasa bersalah ketika beristirahat terlalu lama. Menonton film dianggap membuang waktu, bermain musik terasa tidak produktif, bahkan melakukan hal yang disukai sering kali kalah prioritas dibanding tugas, pekerjaan, organisasi, atau tuntutan sosial lainnya. Kita hidup dalam budaya yang mengukur nilai seseorang berdasarkan seberapa sibuk dan produktif dirinya.

Tanpa disadari, keadaan ini membuat manusia kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Ironisnya, masyarakat modern sering mendorong narasi “self improvement” secara berlebihan tanpa menyadari bahwa manusia juga membutuhkan jeda. Tidak semua waktu harus menghasilkan uang, pencapaian, atau validasi sosial. Ada bagian dalam diri manusia yang hanya ingin menikmati hidup tanpa tekanan untuk selalu berkembang setiap saat.

Ilustrasi mengambil jeda. Foto: U__Photo/Shutterstock

Ketika hobi mulai ditinggalkan, yang hilang sebenarnya bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Banyak orang kehilangan tempat paling aman untuk menenangkan pikirannya. Hobi sering kali menjadi ruang emosional yang membantu seseorang bertahan dari stres, rasa cemas, dan kelelahan mental. Saat ruang itu hilang, hidup terasa semakin mekanis dan kosong.

Fenomena ini terlihat jelas di sekitar kita. Banyak mahasiswa yang dulunya aktif berkarya kini merasa terlalu lelah untuk memulai lagi. Banyak pekerja muda yang dulu memiliki mimpi kreatif perlahan kehilangan semangat karena hidup hanya berputar antara tugas, tekanan finansial, dan kecemasan masa depan. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa asing dengan dirinya sendiri.

Kita hidup di era ketika burnout menjadi hal yang dinormalisasi. Orang-orang dipuji karena kurang tidur demi pekerjaan, dianggap hebat karena selalu sibuk, dan merasa tertinggal ketika tidak terus bergerak. Padahal, manusia bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa kehilangan sisi emosionalnya.

Di tengah realitas hidup yang semakin keras, menjaga hubungan dengan hal-hal yang kita sukai sebenarnya menjadi bentuk bertahan hidup yang penting. Hobi bukan tanda seseorang malas atau tidak ambisius. Justru di situlah, banyak orang menemukan alasan untuk tetap waras di tengah tekanan hidup modern.

Mungkin, tidak semua orang bisa langsung kembali memiliki waktu luang yang ideal. Namun setidaknya, kita perlu berhenti merasa bersalah karena ingin menikmati hidup. Sebab jika seluruh hidup hanya diisi tuntutan untuk bertahan dan memenuhi ekspektasi, perlahan manusia akan kehilangan bagian terbaik dari dirinya sendiri.