Konten dari Pengguna

Analisis Kebijakan Moneter Bank Indonesia Melalui Lensa Kurva Phillips

Agnesya Maharani

Agnesya Maharani

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agnesya Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi (Sumber: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi (Sumber: Penulis)

Memahami alasan di balik kebijakan ekonomi yang rumit seringkali membuat kita bertanya-tanya. Kita sering membaca berita tentang Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga, lalu muncul pertanyaan: mengapa BI melakukan itu? Bukankah langkah ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan membuat pekerjaan lebih sulit didapat? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat salah satu konsep dasar dalam ekonomi makro yang dikenal sebagai Kurva Phillips.

Dilema Bank Sentral: Menjaga Harga vs. Lapangan Kerja

Pada dasarnya, Kurva Phillips menunjukkan adanya hubungan yang saling bertolak belakang antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Teori ini mengatakan bahwa ketika inflasi sedang tinggi, biasanya tingkat pengangguran akan rendah. Sebaliknya, saat inflasi rendah, pengangguran cenderung tinggi.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bayangkan kondisi ekonomi sedang bergairah. Perusahaan-perusahaan sedang berkembang pesat dan membutuhkan banyak karyawan. Mereka akan bersaing untuk merekrut tenaga kerja, yang membuat upah naik. Ketika upah naik, daya beli masyarakat pun meningkat, sehingga permintaan terhadap barang dan jasa juga ikut melonjak. Pada akhirnya, tingginya permintaan ini bisa mendorong harga-harga barang naik, dan terjadilah inflasi. Di sisi lain, saat ekonomi melambat, banyak perusahaan menunda ekspansi atau bahkan melakukan efisiensi dengan mengurangi karyawan. Akibatnya, pengangguran meningkat, dan daya beli masyarakat menurun, yang pada gilirannya menekan inflasi.

Menghadapi Pilihan Sulit: Penerapan Kurva Phillips oleh Bank Indonesia

Di sinilah Bank Indonesia menghadapi dilema. Sebagai otoritas moneter, salah satu tugas utama BI adalah menjaga stabilitas harga, artinya mengendalikan inflasi agar tidak terlalu tinggi. Namun, BI juga harus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja.

Ketika inflasi melonjak tinggi, seperti yang sering kita lihat dari berita harga-harga bahan pokok yang naik, BI akan mengambil langkah yang terkesan "keras." Mereka menaikkan suku bunga acuan. Tujuannya adalah untuk mengerem laju peredaran uang di masyarakat. Suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal, baik bagi kita yang ingin mengambil cicilan KPR atau kredit kendaraan, maupun bagi perusahaan yang ingin meminjam modal untuk ekspansi.

Inilah sisi lain dari kebijakan tersebut. Akibat suku bunga yang tinggi, aktivitas ekonomi bisa melambat. Perusahaan mungkin menunda rencana investasi atau ekspansi mereka, yang bisa berujung pada pembekuan perekrutan atau bahkan PHK. Di sinilah "pengorbanan" itu terjadi: BI berupaya keras menurunkan inflasi, namun risiko terburuknya adalah meningkatnya pengangguran.

Ketika Teori Berhadapan dengan Realita

Meskipun Kurva Phillips menjadi panduan penting, realitanya tidak selalu sesederhana itu. Terkadang, inflasi bisa disebabkan oleh faktor di luar kendali BI, seperti kenaikan harga minyak dunia atau gangguan rantai pasok global. Dalam kondisi seperti ini, BI bisa saja menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, namun di saat yang sama pengangguran juga tetap tinggi—situasi yang disebut stagflasi.

Pada akhirnya, kebijakan moneter adalah seni menyeimbangkan dua tujuan yang seringkali bertentangan. Bank Indonesia harus terus-menerus menimbang-nimbang antara menjaga harga stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi agar kita semua bisa memiliki pekerjaan yang layak. Kebijakan suku bunga yang sering kita dengar di berita bukanlah sekadar angka, melainkan cerminan dari dilema rumit yang harus dihadapi oleh para pengambil keputusan ekonomi.