Rahmat Gobel: Kebijakan Indonesia Harus Pro Industri

Juru Ketik
Tulisan dari ATP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mantan Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel, berbicara tentang masalah perindustrian Indonesia dalam On Boarding Kumparan Batch 2 yang diselenggarakan pada hari, Kamis 14 November 2017 bertempat di Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan. Mantan Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel, berbicara tentang masalah perindustrian Indonesia dalam On Boarding Kumparan Batch 2 yang diselenggarakan pada hari, Kamis 14 November 2017 bertempat di Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan.
Mantan Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel, berbicara tentang masalah perindustrian Indonesia dalam On Boarding Kumparan Batch 2 yang diselenggarakan pada hari, Kamis 14 November 2017 bertempat di Kuningan City Mall, Kuningan, Jakarta Selatan.
Menurut Rahmat Gobel, Indonesia mempunyai potensi pasar yang besar, terutama di bidang perindustrian. Potensi itu harus dimanfaatkan dengan baik, kalau kita ingin menjadi pemain besar di pasar global. Menurutnya, selama ini kebijakan di Indonesia cenderung lebih pro sektor perdagangan, ketimbang sektor perindustrian. Padahal bidang perindustrian di Indonesia potensial sebagai tulang punggung pembangunan.
"Pasar kita (Indonesia) itu luar biasa, kalau nggak kita manfaatkan, sayang", ungkapnya
Beliau menambahkan apabila Indonesia tidak memberdayakan potensi pasar yang dimilikinya, maka nanti orang asing lah yang akan memanfaatkan potensi kita ini. Oleh sebab itu, Ia menekankan agar Indonesia tidak hanya mengundang investor datang semata-mata hanya untuk mempekerjakan sumber daya manusia di Indonesia, tetapi juga untuk membangun nilai lebih (added value).
Selain itu, beliau juga mengungkapkan agar Indonesia segera mendorong perkembangan industri berbasis tradisi dan budaya. Karena berpotensi besar meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Di samping industri budaya, setidaknya ada tiga sektor lain yang perlu diperhatikan yaitu industri pertanian, perikanan, dan kelautan. Menurutnya, ketiga sektor tersebut perlu diindustrialisasi karena berkaitan dengan isu strategis, isu ketahanan pangan.
