Konten dari Pengguna

Akar Krisis Kebijakan: Mengapa Kita Sering Mencari Kambing Hitam?

Agung Pajar Sidiq

Agung Pajar Sidiq

Musyrif Pondok Pesantren Al-Majidiyah NWDI Majidi

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agung Pajar Sidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Miniatur otak yang dikelilingi klip kertas berbentuk bola lampu di atas latar hitam, melambangkan pentingnya membedah pola pikir mendasar untuk menemukan akar krisis kebijakan dan memecahkan masalah publik secara sistematis (Sumber Gambar: https://images.pexels.com/photos/6192337/pexels-photo-6192337.jpeg)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Miniatur otak yang dikelilingi klip kertas berbentuk bola lampu di atas latar hitam, melambangkan pentingnya membedah pola pikir mendasar untuk menemukan akar krisis kebijakan dan memecahkan masalah publik secara sistematis (Sumber Gambar: https://images.pexels.com/photos/6192337/pexels-photo-6192337.jpeg)

Akar krisis kebijakan sering kali terlihat ketika sebuah permasalahan publik menyeruak ke permukaan—mulai dari kemacetan kronis, krisis ekologis, hingga kegagalan program sosial—di mana respons cepat yang muncul bukanlah evaluasi mendalam, melainkan pencarian pihak yang bisa disalahkan. Fenomena ini menunjukkan adanya akar krisis kebijakan yang berulang: ketimbang membedah kegagalan sistemik, kita lebih sering sibuk menunjuk kambing hitam untuk meredam kekecewaan sesaat.

Fenomena ini sejatinya mencerminkan cara berpikir reaktif yang telah mengakar. Dalam konteks tata kelola publik, kecenderungan untuk menyalahkan faktor eksternal atau individu tertentu kerap dijadikan jalan pintas demi menghindari tanggung jawab struktural. Akibatnya, solusi yang dihadirkan berorientasi jangka pendek dan sekadar memadamkan kebakaran tanpa pernah benar-benar memadamkan sumber apinya.

Mengapa Akar Krisis Kebijakan Berasal dari Budaya Reaktif?

Salah satu tantangan terbesar dalam pembentukan kebijakan publik adalah tiadanya tradisi debat yang berbasis data dan kompetensi. Sering kali, ruang diskusi kita terjebak dalam adu artikulasi yang sifatnya superfisial—berdebat sekadar untuk terlihat unggul, bukan untuk menemukan kebenaran substansial. Tanpa adanya kebiasaan menguji gagasan secara kritis dan terbuka, kebijakan yang lahir rentan kehilangan pijakan ilmiahnya.

Selain itu, ketakutan akan akuntabilitas membuat banyak pihak enggan mengakui keterbatasan atau kekeliruan dalam perencanaan awal. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, narasi "kambing hitam" menjadi mekanisme pertahanan diri yang paling mudah diakses. Padahal, kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada sejauh mana para pemangku kepentingan berani melakukan introspeksi dan pembenahan secara fundamental.

Menggeser Budaya Reaktif Menuju Pola Pikir Preventif

Untuk mengakhiri lingkaran setan ini, dibutuhkan transformasi mendasar dalam cara kita memandang masalah publik. Kita perlu membangun budaya kepemimpinan dan kewarganegaraan yang mengedepankan pola pikir preventif, yakni kemampuan untuk mengantisipasi risiko sebelum krisis terjadi. Hal ini hanya bisa terwujud jika teladan kepemimpinan mau membuka ruang bagi diskusi yang berbobot dan berbasis pada integritas intelektual.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa mencari siapa yang bersalah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dengan memberanikan diri membedah akar krisis kebijakan secara jujur, objektif, dan berlandaskan kompetensi nyata, kita dapat menciptakan tatanan publik yang lebih tahan banting, adil, dan berorientasi pada kemajuan jangka panjang.