Konten dari Pengguna

Tidak Semua Orang Mau Mengakui Dirinya Gemuk

Agung Han

Agung Han

agungatv(at)gmail.com - S1 Ekonomi - Wiraswasta - Blogger

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agung Han tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pria atau suami berbadan gemuk. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Pria atau suami berbadan gemuk. Foto: Shutter Stock

“Saya dulu, tidak pernah merasa gemuk. Orang bilang saya cantik, akhirnya saya merasa diri saya cantik.” Dewi Hughes

Jujur, saya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. Saya dapati di sebuah vlog membahas masalah diet, di channel yang dikelola Hughes.

Hughes presenter hiburan, pernah naik daun di awal tahun 2000. Identik dengan perawakan besar, dengan pembawaan yang cerdas. Dan kini di usia yang sudah tidak muda, Hughes berhasil menurunkan berat badan.

oh iya, soal senyum –dengan pernyataan di atas--, sesungguhnya sedang mengingat diri sendiri. Saya pernah di posisi tersebut, berbadan gemuk tetapi denial. Saya selalu mencari alasan, untuk membenarkan sikap diri.

Terlebih sikap saya, didukung oleh orang-orang terdekat. Yang alih-alih menyadarkan, justru memberi dukungan melalui komentar-komentarnya.

“Gak papa gemuk, sudah punya anak dan istri ini”

“Kamu itu tinggi, jadi gak kelihatan kalau gemuk”

“Kalau kurus, kamu malah gak pantes”

“Kalau kurus, dikira gak diurus istri”

Begitu seterusnya dan seterusnya, kalimat demi kalimat (pembenaran) satu persatu masuk telinga, kemudian disimpan dalam benak.

Lama-lama menjadi pemakluman, menumbuhkan perasaan nyaman alias merasa tidak ada yang salah dengan badan gemuk.

Memang sih, tidak ada yang salah dengan orang gemuk. Toh, yang merasakan akibatnya juga diri sendiri.

“Ya, perawakan saya sudah pas”

“Ya, saya pantas dengan badan seperti sekarang”

kalimat-kalimat ini tertanam di bawah sadar, biasanya membuat diri sendiri terlena.

Saya merasa, tidak perlu melakukan diet. Pun ketika orang lain memberi masukan ini dan itu, otomatis tak kalah sengit melakukan pembelaan diri.

Si orang yang (tidak merasa) gemuk, berusaha meyakinkan orang lain, bahwa dirinya memiliki perawakan ideal. Bahwa dengan tinggi badan yang dimiliki, cukup pas dengan berat tubuh yang disandangnya.

Bagaimana mau menjalani diet, bagai orang tidak merasa gemuk. Diet kan, tentu bagi orang yang (merasa) gemuk. Kalau sudah begitu keadaannya, susah kan?

0o0-

Titik balik terjadi, pada suatu waktu tubuh ini sakit kalau digerakkan sedikit saja. Untuk sekadar bangkit dari ranjang, istri harus menarik dua tangan suami malang ini— kasian istri, badan suaminya kan berat.

Setelah dibawa periksa ke dokter, diagnosa membuat saya tercengang. Angka di tensimeter, menyatakan bahwa ada potensi hipertensi. Kalau tidak segera berubah, pelemakan hati sudah siap mengancam.

Pada vlog sedang saya simak, Dewi Hughes pernah mengalami rasa sakit yang sangat. Situasi dialami, memantik semangat perempuan asal Bali ni, bergegas melakukan perubahan. Membenahi pola makan dan gaya hidup, demi mendapatkan kesehatan.

Point penting, dari informasi dalam vlog yang saya saksikan -- kemudian mengamini--. Bahwa hal paling utama, sebelum memulai diet adalah memperbaiki mindset atau pola pikir

Sadarkan diri dan akui, bahwa Ya, saya memang gemuk”, “Ya, badan saya tidak sehat”, “Ya, saya musti segera berubah.”

Pernah saya mendengar, seseorang bisa dikategorikan gemuk, kalau lingkar pinggang lebih dari empat jengkal telapak tangannya sendiri. (silakan dipraktikkan ya)

Penyadaran seperti ini penting, agar diri mau bangkit dan punya komitmen untuk berubah. Komitmen dan disiplin, menjadi dua sikap yang (penuh perjuangan) harus dipegang.

Penyadaran atau mau menyadari kekeliruan, seperti ujung lorong gelap, yang membersitkan sinar pencerahan. Ternyata, selama ini sedang berjalan dalam gelap.

Pelaku diet, tak ubahnya seperti seorang pejuang, yang berjuang keras melawan ego diri sendiri. Segala macam kesukaan pada makanan dan atau minuman, mesti ditahan sekuat tenaga demi kebaikan diri sendiri.

Mumpung masih awal tahun, segera masukan dalam daftar resolusi. Bagi yang sudah waktunya diet, jangan tunda-tunda. Senyampang diberi kesehatan, segera lakukan, jangan menunggu merasakan sakit –seperti saya.