Konten dari Pengguna

Refleksi Kisah Duryodana: Kejahatan karena Ketidakadilan

Agung Rifna Ajie

Agung Rifna Ajie

Guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Batujajar dan Content Writer, Instagram: @agungrifna

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agung Rifna Ajie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kresna menjadi Kusir Kereta Arjuna pada Perang Kurukshetra (Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kresna menjadi Kusir Kereta Arjuna pada Perang Kurukshetra (Unsplash)

Pada akhir perang Kurukshetra, Yudistira memberikan pilihan kepada Duryodana untuk melawan salah satu dari kelima Pandawa agar bisa memenangkan perang. Duryodana tidak memilih melawan Yudistira, Nakula, atau Sadewa yang lebih lemah dari dia. Namun Duryodana menginginkan lawan yang sepadan yaitu Bima, dan berakhir di mana Duryodana tewas di tangan Bima.

Itu adalah sedikit ringkasan bagaimana puncak konflik Pandawa dan Kurawa dalam wiracarita Mahabharata. Kebanyakan pembaca akan melihat Duryodana sebagai sosok antagonis yang curang, angkuh, serakah, temperamental, dan akan berbuat apapun untuk menyingkirkan sepupunya: Pandawa terutama Yudistira dari takhta Hasitapura.

Padahal di beberapa kejadian Duryodana sebenarnya adalah sosok yang adil dan berani menentang sistem kasta yang berlaku seperti kisahnya ketika membela kehormatan Karna—anak dari kusir kereta dari ejekan Pandawa dan kesatria lain dengan berkata “seseorang harus dilihat dari kemampuan, bukan dari kasta mana ia dilahirkan” dan tentunya banyak kisah-kisah lain yang memperlihatkan sisi baiknya.

Memang benar bahwa ia telah melakukan berbagai kejahatan. Namun dalam sudut pandang yang lain, Doryodana adalah sosok yang dibentuk karena ketidakadilan yang menimpanya serta kerjahatannya itu adalah upaya untuk mendapatkan kembali haknya.

Ayah Duryodana, Dretarastra, adalah pewaris takhta Hastinapura yang disabotase karena kondisi fisiknya yang buta sejak lahir. Kemudian Duryodana juga digagalkan oleh tetua Hastinapura untuk menjadi raja dengan diangkat sepupunya yaitu Yudistira yang bahkan bukan keturunan langsung dari dinasti Kuru.

Momen-momen ketidakadilan yang dialami, ketidakmampuan orang tua untuk membela haknya, dan bujuk rayu nasihat pamannya Sengkuni pada akhirnya menjerumuskannya dia menjadi yang kita kenal sebagai antogonis utama yang jahat.

Kejahatan karena Ketidakadilan

Ilustrasi Pengadilan. Foto: Shutter Stock

Seperti halnya yang dialami Duryodana, dalam teori Deprivasi Relatif dikatakan bahwa kejahatan dan perilaku-perilaku tercela yang lain bisa muncul dari rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan yang dialami oleh seseorang.

Dorongan dalam diri bukanlah satu-satunya faktor yang membuat seseorang terjerembab dalam jurang kenistaan. Ada berbagai faktor-faktor di luar kehendaknya yang mungkin memicu seseorang berbuat tindakan tercela seperti pergaulan, lingkungan, pendidikan, ekonomi, bahkan sampai perilaku tidak adil oleh orang-orang di sekitarnya termasuk mungkin dari seorang guru.

Melihat hanya pada dikotomi hitam dan putih, salah dan benar, bodoh dan pintar, jahat dan baik akan membuat kita tidak mampu melihat masalah secara komperhensif. Padahal hidup manusia tidaklah sesederhana itu, kita perlu menelusuri jauh lebih pada konteks serta alasan-alasan atas perbuatan dan keputusan seseorang.

Sebagai seorang yang mungkin nantinya memiliki hierarki yang lebih tinggi dari pihak lain dan bisa memiliki kuasa untuk menentukan keputusan seperti: orang tua, guru, tokoh masyarakat, atau pemimpin, kita dituntut untuk tidak langsung menghakimi pihak-pihak yang dalam sudut pandang awam adalah tercela.

Perbuatan yang salah dan baik memang selayaknya mendapatkan konsekuensi yang sesuai sebagaimana konsep karmapala dalam kisah Mahabharata. Namun bagaimana membuat keputusan atas perbuatan salah dan benar tersebut dengan adil tanpa tendensi nafsu untuk menghakimi secara sepihak dan tekanan orang lain bukanlah perkara yang mudah.

Kita perlu mendalami masalah sesuai realitas yang sebenarnya, mempertimbangkan segala motivasi atas perbuatan, mencari sudut pandang yang berbeda, serta faktor-faktor lain yang mungkin perlu diperhatikan dengan begitu nisyaca kita dapat membuat keputusan yang lebih tepat.

Karena jangan-jangan kejahatan seorang itu adalah akibat dari perilaku sewenang-wenang yang tidak disadari oleh kita. Walahhualam bissawab.