Riwayat Kemenyan Sumatera di Panggung Dunia

Guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Batujajar dan Content Writer, Instagram: @agungrifna
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agung Rifna Ajie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan Anda berdiri di dermaga Sibolga pada suatu pagi di tahun 1885. Bau laut yang asin mendadak kalah oleh aroma manis yang berat dan tajam. Aroma itu datang dari peti-peti kayu yang sedang diangkut ke dalam lambung kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij. Di dalamnya, tersimpan kristal kuning kecokelatan yang akan berlayar menuju jantung Eropa: Kemenyan Sumatera.
Bagi orang modern, bau ini mungkin memicu bulu kuduk berdiri karena identik dengan ritual mistis. Namun, di abad ke-19, kepulan asap kemenyan adalah simbol status dan kesehatan. Di Paris, ia adalah nyawa bagi industri parfum mewah. Sementara di apotek-apotek Amsterdam, ia menjadi bahan baku obat-obatan yang sangat dicari.
Kesakralan kemenyan sebenarnya punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar bisnis. Pada 5 Februari 1863, sebuah catatan di surat kabar Bolswarder Nieuwsblad mengingatkan tentang etika kuno: kemenyan adalah milik para dewa. Ada semacam hukum tidak tertulis bahwa aroma ini terlalu suci untuk sekadar pemuasan indra manusia; ia adalah jembatan asap yang membawa doa-doa dari bumi menuju langit.
Jejak harum ini membawa kita melintasi waktu ke ribuan tahun silam. Sebelum kolonialisme datang, Barus di Sumatera Utara sudah menjadi mercusuar dunia. Bangsa Mesir kuno rela berlayar jauh hanya untuk menjemput getah ini sebagai bahan pengawet mumi firaun mereka. Hal ini bukan sekadar mitos. Catatan arkeologis yang diulas dalam koran Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant edisi 21 Februari 1897 bertajuk "Reukwerken in alouden tijd", mengonfirmasi betapa mewahnya penggunaan wangi-wangian ini di istana-istana kuno Romawi dan Mesir.
Masuk ke era 1880-an, wajah suci kemenyan perlahan mulai "turun takhta" menjadi wajah industri. Pemerintah Hindia Belanda mulai terobsesi untuk menata bisnis ini secara modern. Dalam artikel "Nieuwe Producten. Styrax Benzoin" di koran Java-Bode edisi 14 September 1885, dilaporkan upaya mempromosikan kemenyan sebagai komoditas strategis bagi industri farmasi. Kemenyan tak lagi hanya berakhir di atas bara dupa, tapi mulai diekstrak kandungan asam benzoatnya di laboratorium.
Secara komersial, kemenyan menjadi denyut nadi pelabuhan besar. Di Batavia, perdagangan ini dipantau ketat dan dicatat dalam bursa saham dunia. Namun, bisnis ini tidak bisa dipaksa tumbuh seperti tebu atau kopi. Pohon kemenyan (Styrax) butuh kesabaran luar biasa. Seorang petani di pedalaman Tapanuli harus menunggu hingga sepuluh tahun sebelum bisa memberikan sayatan pertama pada kulit pohonnya.
Koran De Locomotief edisi 25 September 1885 menggambarkan betapa seriusnya para pengamat botani kolonial memperhatikan hasil hutan ini sebagai bagian dari kekayaan sains Nusantara. Keunikan biologis ini membuat kemenyan menjadi hasil hutan non-kayu yang paling eksklusif pada zamannya.
Dunia luar mungkin melihat ini sebagai bisnis yang menguntungkan, tapi bagi petani lokal, ini bukan hanya soal angka. Jika bursa saham di Amsterdam melaporkan harga jatuh, para petani lebih memilih membiarkan pohonnya tetap utuh di hutan. Mereka tidak tunduk pada fluktuasi global; mereka lebih memilih menyimpan keharuman itu di dalam batang pohon daripada menjualnya dengan harga murah.
Hari ini, kemenyan mungkin hanya dipandang sebelah mata, tersisih dalam ruang-ruang gelap yang dianggap klenik. Namun, sejarah yang tersimpan dalam arsip-arsip abad ke-19 adalah saksi bisu sebuah ironi: bahwa kemenyan adalah "emas" yang lahir dari luka-luka pada kulit pohon. Ia adalah bukti bahwa peradaban besar dunia pernah bergantung pada getah yang mengalir dari pelosok Sumatera.
