Ruang Publik: Panggung Politik Masyarakat Sub-Urban

Agung Rifna Ajie
Pengajar dan Content Writer, Instagram: @agungrifna
Konten dari Pengguna
2 Maret 2024 13:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Agung Rifna Ajie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ilustrasi membumikan politik di ruang publik. Foto: wellphoto/Shutterstock
Walaupun sering dikatakan bahwa orang Indonesia itu kurang literasi dan rentan berita hoax, secara kasat mata prihal gosip politik, kebijakan publik, bahkan isu di luar negeri, orang kita nampak cukup terdepan. Dari warung kopi 3000-an pinggir jalan sampai pangkalan ojek depan gang (apalagi selama gelaran Pemilu) selalu menjadi topik yang seru menjadi bahan pembicaraan.
ADVERTISEMENT
Saya agak kaget saat jajan camilan menjelang Isya, topik berat seperti Hilirisasi menjadi pembahasan abang-abang pedagang kaki lima, pun begitu saat konflik Israel-Palestina, dan Ukraina-Rusia yang tidak luput dari pembicaraan bapak-bapak komplek, padahal rasa-rasanya Yarusalem dan Semenanjung Krimea cukup jauh dari Batujajar.
Menurut hasil survey World Values Survey (WVS) selama periode 2017-2022 sebenarnya tingkat Kepedulian Politik dari masyarakat Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, namun anehnya lingkungan tempat tinggal saya yang kategorinya sub-urban dan masih bersifat komunal ini menunjukan perilaku sebaliknya. Bagi masyarakat seperti ini, silaturahmi sambil bertukar informasi layaknya bagian dari Sunnah Muaakad.
Di sinilah perkumpulan berubah menjadi forum informal yang tidak hanya sekadar kegiatan sosial, tetapi juga memiliki nilai penting dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan berbagai isu yang terjadi di sekitarnya. Ruang publik seperti warung kopi, pangkalan ojek, lapak jualan, dan tempat serupa adalah tempat di mana beragam strata sosial bersatu dan berbagi pengalaman masing-masing, yang kadang-kadang menghasilkan sudut pandang yang unik.
ADVERTISEMENT
Meskipun demikian, kita perlu mengakui bahwa informasi yang disampaikan di tempat-tempat tersebut kadang-kadang bisa terdistorsi atau bahkan sering kali salah kaprah. Tingkat literasi politik memang masih perlu ditingkatkan. Namun, interaksi sosial dalam lingkungan sehari-hari tetap menjadi elemen penting dalam proses demokratisasi serta meningkatkan kesadaran politik di kalangan masyarakat.
Hal ini menunjukkan potensi besar untuk memperkuat keterlibatan dan kepedulian politik melalui diskusi dan pertukaran pendapat. Sehingga, kesadaran akan pentingnya pemahaman politik dan informasi yang benar semakin tersebar luas, melalui interaksi sosial yang terjaga dan berkualitas di berbagai lapisan masyarakat.
Dengan pendekatan holistik, pendidikan politik yang inklusif, dan promosi literasi media, masyarakat dapat lebih aktif terlibat dalam diskusi yang kritis dan informatif yang berkualitas. Peran penting dalam menggerakkan inisiatif ini dimiliki oleh institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah.
ADVERTISEMENT
Selain itu, peningkatan akses dan partisipasi dalam kegiatan politik lokal juga menjadi langkah efektif dalam meningkatkan pemahaman akan isu-isu politik yang relevan. Melalui partisipasi aktif dalam forum-forum komunitas dan diskusi publik, masyarakat dapat langsung merasakan dampak dari keputusan politik yang diambil.
Dengan pendekatan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, masyarakat Indonesia dapat satu langkah menuju masyarakat yang lebih berpendidikan secara politik dan lebih terlibat dalam proses demokratisasi.