Bak Sampah Otomatis Berbasis Pneumatic Menggunakan Barang Bekas

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Agung Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata kelompok 40, melaksanakan KKN pada kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya secara mandiri dengan menjalankan Program Pemilahan sampah anorganik, organik, elektronik, baterai, dan lain-lain dengan menggunakan energi pneumatic. Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan kenyamanan para crew pekerja pada workshop elektrik yang ada di tempat kerja tersebut. Di daerah Sekongkang, Kab. Sumbawa Barat. Program ini dibuat dengan latar belakang para pekerja yang masih melakukan pemilahan ulang pada sampah-sampah yang ada di sekitar wokrshop.
Program ini dilaksanan sebagai bentuk kontribusi oleh para mahasiswa untuk melihat latar belakang sebelum menjalankan program KKN ini. Kendalanya hanya saja tempat yang jauh dari perkotaan atau ada di pelosok, sehingga harus lebih memutarbalikan pikiran untuk mendapatkan judul tersebut. Kegiatan ini juga dilandasi dengan minimnya pemilahan tempat sampah dengan berbagai jenis dan dengan skala yang medium. Karena di wokrshop sendiri sampah akan diambil setiap 1 bulan sekali untuk sampah kabel, lampu, baterai dan bersifat kimia, sedangkan untuk sampah anorganik dan organik diambil setiap harinya, permasalahan inilah yang diangkat menjadi judul sebagai bahan pengabdian serta membuat tempat sampah yang proper dengan menggunakan teknologi tepat guna.
Pada kegiatan awal, diawali dengan pemberian sosialisasi tentang kesadaran akan membuang sampah, lalu dilanjut dengan knowledge tentang jenis-jenis sampah yang ada di workshop itu sendiri. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan bagaimana crew pekerja memiliki niat dan wawasan bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya dan dibedakan berdasarkan jenis-jenisnya.
Kegiatan setelahnya yaitu survey lokasi, survey lokasi ini diperlukan karena digunakan untuk observasi dan identifikasi dimana tempat titik sampah tersebut akan ditempatkan, karena penempatan titik sampah juga akan mempengaruhi niat para crew pekerja untuk membuang sampah pada tempat yang sesuai jenis sampahnya. Untuk itu perlu dipikirkan tempat yang dianggap menjadi central atau penempatannya ditempat yang sering dilalui crew pekerja.
Kegiatan ketiga yaitu Persiapan alat dan Bahan, kegiatan ini bertujuan untuk merencanakan apa saja alat dan bahan yang perlu disiapkan sebelum pembuatan tempat sampah tersebut. Karena disini semua menggunakan barang-barang bekas, jadi tidak memakan biaya yang signifikan, sehingga dapat menekan keuangan yang sangat minim dan meningkatkan efisiensi.
Tahap berikutnya yaitu pembuatan tempat sampah tersebut, di tahap ini memerlukan progress yang agak lama, karena membuat untuk dudukan support atau ganjal untuk tempat sampah tersebut dan bagaimana menginstallnya dengan energi pneumatic. Kenapa membutuhkan waktu yang agak lama, karena tempat sampah ini nantinya akan jadi tempat pembuangan sampah sementara, sehingga harus dibuat kokoh dan kedepannya bisa di preventive maintenace oleh crew pekerja wokrshop itu sendiri.
Tahap berikutnya yaitu instalasi dan integrasi sistem mekanik berbasis energi pneumatik pada unit tempat sampah yang telah difabrikasi. Penggunaan energi pneumatik ini memanfaatkan ketersediaan pasokan udara bertekanan (compressed air system) yang sudah menjadi fasilitas standar di workshop elektrik Sekongkang. Mahasiswa merancang sistem aktuator pneumatik sederhana yang dihubungkan dengan pedal foot-valve atau katup kendali udara.
Dengan mekanisme pneumatik ini, penutup tempat sampah dapat membuka dan menutup secara mekanis tanpa memerlukan kontak fisik langsung (touchless operation) dari tangan pekerja. Fitur ini sangat vital bagi crew pekerja elektrik yang sering kali bekerja dengan tangan terlumur oli, grease, atau bahan kimia. Kontak minim sentuhan ini secara otomatis meningkatkan higienitas kerja, mencegah kontaminasi silang pada peralatan elektrik, serta menjaga kerapian lingkungan workshop.
1. Tahap Uji Coba, Kalibrasi, dan Testing Operasional
Setelah proses instalasi mekanis dan perpipaan udara pneumatik selesai dipasang, kegiatan dilanjutkan ke tahap uji coba (commissioning & testing). Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh katup pneumatik, silinder penggerak, dan mekanisme penutup dapat beroperasi secara halus, responsif, dan aman bagi pengguna.
Pengujian dilakukan berulang kali dengan simulasi beban sampah yang bervariasi—mulai dari sampah ringan seperti kertas dan plastik, hingga limbah komponen elektrik bekas yang berbobot lebih berat. Kalibrasi tekanan udara juga dilakukan agar tekanan pneumatik berada pada batas aman (safe operating pressure), sehingga pergerakan penutup tidak menimbulkan dentuman berlebih maupun risiko terjepit bagi para pekerja.
2. Tahap Pelatihan Preventive Maintenance dan Serah Terima Fasilitas
Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan teknis pemeliharaan preventif (preventive maintenance training) kepada para crew pekerja elektrik workshop. Karena sistem ini ditempatkan di lingkungan kerja mereka, mahasiswa KKN memberikan buku panduan ringkas dan demonstrasi langsung mengenai cara melakukan pemeriksaan berkala.
Pelatihan mencakup:
Cara membersihkan filter udara pneumatik.Pengecekan kebocoran slang udara (air hose leakage inspection).Pembersihan kompartemen internal tempat sampah.Pelumasan berkala pada engsel mekanisme penggerak.
Setelah sesi pelatihan selesai, dilakukan prosesi serah terima secara resmi atas fasilitas tempat sampah berteknologi pneumatik dari Mahasiswa KKN Mandiri Kelompok 40 kepada Kepala Workshop dan perwakilan Crew Pekerja Elektrik di Sekongkang.
3. Tahap Evaluasi, Monitoring Berkelanjutan, dan Dampak Program
Tahap akhir dari program pengabdian ini adalah evaluasi dan monitoring dampak jangka panjang pasca-penyerahan alat. Mahasiswa KKN melakukan pemantauan berkala selama beberapa pekan untuk mengamati tingkat kepatuhan dan perubahan perilaku pekerja dalam membuang sampah.
Indikator Keberhasilan Program yang Teramati:
Eliminasi Pemilahan Ulang: Pekerja tidak perlu lagi melakukan pemilahan ulang di akhir jam kerja karena limbah kabel, baterai, bahan kimia, anorganik, dan organik telah terpisah sejak awal pembuangan.Peningkatan Budaya K3 & 5R/5S: Tempat kerja menjadi jauh lebih bersih, rapi, dan teratur, sejalan dengan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).Efisiensi Waktu Operasional: Crew pekerja elektrik dapat menghemat waktu operasional yang sebelumnya terbuang untuk mengemas ulang sampah bercampur.Otonomi Maintenance: Tim pekerja elektrik mampu menangani pemeliharaan ringan pada sistem pneumatik secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar.
ANALISIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA PNEUMATIK DALAM LINGKUNGAN INDUSTRI
Penerapan teknologi pneumatik dalam program KKN ini menjadi contoh nyata bagaimana prinsip keteknikan dapat diadaptasikan pada tempat kerja pelosok industri dengan biaya efisien. Pneumatik, yang bekerja dengan memanfaatkan perbedaan tekanan udara terkompresi, dikenal sangat andal, bebas percikan api (spark-free), dan sangat aman diterapkan di lingkungan workshop elektrik yang memiliki potensi bahaya bahan mudah terbakar.
Dengan mengintegrasikan silinder pneumatik bekas yang diubah fungsinya (repurposed) serta katup kendali sederhana, mahasiswa berhasil menciptakan solusi inovatif yang tidak hanya mempermudah pekerjaan sehari-hari para crew, tetapi juga mengedukasi tentang pentingnya pemanfaatan energi bersih dan terbarukan di area kerja.
Sebagai Kesimpulan dan penutup, program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa KKN Mandiri Kelompok 40 yang dijalankan oleh mahasiswa yaitu Agung Wibowo dengan NIM 20251330006 di Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, merupakan bukti nyata kontribusi akademisi dalam menjawab permasalahan spesifik di wilayah industri lokal. Melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur—diawali dari sosialisasi kesadaran, survei lokasi spasial, pemanfaatan bahan bekas, fabrikasi tempat sampah kokoh, instalasi pneumatik touchless, hingga pelatihan pemeliharaan preventif—program ini sukses menciptakan perubahan perilaku positif bagi para pekerja elektrik.
Keberhasilan inovasi tempat sampah pneumatik ini membuktikan bahwa keterbatasan lokasi di daerah pelosok bukanlah penghalang untuk melahirkan karya tepat guna yang bernilai tinggi. Sinergi antara mahasiswa, manajemen workshop, dan crew pekerja di Sekongkang ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi role model bagi pengelolaan limbah industri mandiri di wilayah Sumbawa Barat dan sekitarnya.
