Kita dan Bahasa

Mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agung Pratama Satria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita dan bahasa; jadi bagaimana "hubungan" kita dengan bahasa? Sedikit melihat ke belakang, tepatnya tahun-tahun masa Sekolah Menengah Atas (SMA), Bulan Bahasa dirayakan dengan sebuah perayaan dengan mengadakan sebuah acara dengan dikoordinir ekstrakurikuler bahasa. Acara tersebut sendiri terdiri dari perlombaan antar kelas dan angkatan, namun yang standar yang melibatkan bahasa, seperti lomba puisi, menulis essai, dan musikalisasi puisi.
Acara tersebut rutin terus diselenggarakan setiap tahunnya, setidaknya sejak saya menginjak kelas 10 hingga kelas 12 selalu melewati perayaan tersebut. Sayangnya, lomba-lomba tadi terkesan hanya formalitas untuk ‘memeriahkan’ acara ekstrakurikuler tersebut, lebihnya hanya menjalankan program kerja turunan.
Bagi saya, peserta lomba sendiri belum tentu memaknai dengan betul esensi perlombaan yang mereka ikuti dan kaitannya dengan bulan bahasa, apalagi murid seperti saya yang hanya menonton, bahkan terkadang dibuat sibuk dengan lomba-lombaan kebersihan kelas?
Sudahkah Kita Mengenal Bahasa?
Jauh sebelum mengenal bahasa melalui pendidikan formal, saya mengenal bahasa melalui lingkungan keluarga. Ayah dan Bunda saya yang bersalah dari ranah Minang membuat sedari kecil Bahasa Minang jadi hal yang tidak asing dan "diharuskan" saya pelajari, bahkan sekadar untuk mengirim pesan pendek ke Ayah.
Seiring berjalannya waktu, setelah 19 tahun saya hidup, saya semakin paham maksud dari kedua orang tua yang mengharuskan saya mempelajari Bahasa Minang. Hal ini bisa menjadi identitas saya saat berada di lingkungan asing ataupun saat pulang ke kampung halaman. Contohnya sesederhana saat saya sedang membeli nasi padang di lingkungan kosan, bahasa minang saya menjadi identitas yang menandai saya sebagai sesama Orang Minang dengan penjualnya.
“Ohh urang awak juo? Dima kampuang?” pertanyaan yang akan terlontar dari uda atau uni penjual Nasi Padang biasanya.
Begitu pula Bahasa Indonesia, hal yang sudah seharusnya menjadi identitas kita sejak 93 tahun lalu, tepat pada 28 Oktober 1928. Saat itu para pemuda berikrar,
“kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”
Namun sayang seiring jalan, bahasa sendiri menjadi sebuah hal yang abu-abu, antara penting tak penting untuk dipelajari.
Seperti perayaan Bulan Bahasa di SMA tadi yang terkesan hanya menjadi program kerja rutin yang dilaksanakan karena memang sudah biasa ada, bukan untuk mengembangkan bahasa itu sendiri. Hal yang sangat disayangkan namun juga menjadi dilema pada masa globalisasi saat ini di mana bahasa universal sendiri yang banyak digunakan masyarakat dunia merupakan bahasa asing.
Bahasa dan Identitas Kita
Melihat dari contoh kasus acara Bulan Bahasa di SMA dan juga mungkin perayaan-perayaan lainnya yang dilaksanakan pada bulan oktober ini, sudah seharusnya acara-acara tersebut lebih bisa menekankan pada esensi pemahaman dan pengembangan bahasa itu sendiri. Karena seperti yang disinggung di atas, selain bahasa adalah salah satu bentuk dari identitas seseorang, pendahulu kita juga sudah sama-sama berikrar salah satunya atas bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Kita seharusnya bangga memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa kita sendiri. Karena banyak juga negara-negara yang bahkan bahasa nasionalnya merupakan bahasa dari negara asing. Pada era globalisasi seperti sekarang, memang sangat penting untuk mempelajari bahasa asing guna bersaing dengan masyarakat dunia lainnya, namun jangan sampai lupa dengan bahasa sendiri.
Kita mungkin menganggap bahwa berbahasa itu mudah dan kita lakukan sehari-hari. Namun sebetulnya, bahasa salah satunya Bahasa Indonesia tidak sesederhana apa yang kita gunakan sehari-hari. Banyak kosa kata yang terus bertambah di Kamus Besar Bahasa Indonesia, banyak juga kata dalam bahasa asing yang biasa kita gunakan ternyata terdapat padanan Bahasa Indonesaianya. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita setidaknya mau mempelajari Bahasa Indonesia ini lebih baik lagi.
Dengan momentum Bulan Bahasa ini, sudah seharusnya jadi pengingat sekaligus stimulus bagi seluruh rakyat Indonesia untuk bukan sekadar paham berbahasa namun juga mahir dalam menggunakan Bahasa Indonesia.
