Naturalisasi: Polemik yang Tak Kunjung Usai

Mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agung Pratama Satria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 2010 di perhelatan Piala AFF, Indonesia tampil gemilang karena kembali berhasil tampil ke partai puncak, berhadapan dengan saudara tua kita yaitu Malaysia. Piala AFF 2010 ini cukup berkesan bagi pencinta sepak bola Indonesia, bukan sekadar karena haus akan gelar juara, namun juga dari susunan pemain yang dibawa oleh pelatih tim nasional sepak bola senior saat itu, Alferd Riedl.
Selain nama-nama seperti Markus Haris Maulana, Zulkifli Syukur, sang kapten Firman Utina, dan Bambang Pamungkas, juga terdapat dua nama yang menarik perhatian. Mereka adalah Irfan Bachdim dan Christian Gonzales.
Untuk nama pertama banyak orang yang menyalahartikan bahwa ia merupakan produk naturalisasi, di mana sebetulnya Irfan sudah mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia sejak berusia 17 tahun namun memang memilih menetap di Belanda. Sedangkan untuk ‘El Loco’ julukan Gonzales, ia merupakan salah satu gerbong awal naturalisasi di sepak bola Indonesia.
Mengutip dari panditfootball.com, sampai dengan saat ini kurang lebih terdapat 35 pemain naturalisasi pada sepak bola Indonesia, yang sayangnya hanya sekitar 20 orang yang pernah menebus tim nasional Indonesia. Lebih disayangkannya lagi, prestasi Indonesia pun belum ada peningkatan sampai dengan saat ini. Jadi apakah naturalisasi adalah sebuah solusi?
Polemik yang Tak Kunjung Usai
Menjelang Piala AFF 2020, isu naturalisasi kembali berkembang. Hal ini juga membawa nama pelatih tim nasional sepak bola Indonesia, Shin Tae-yong yang dikabarkan mengajukan naturalisasi beberapa pemain keturunan kepada PSSI, namun sampai saat ini belum di proses. Disisi lain kritik hadir dari seorang legenda tim nasional Indonesia sekaligus mantan pelatih tim nasional usia muda Indonesia terkait proses naturalisasi ini.
Tujuan naturalisasi sudah seharusnya untuk meningkatkan kualitas dari tim nasional Indonesia, seminimalnya dapat bersaing di ranah Asia Tenggara dan Asia. Namun kenyataannya, pada perhelatan Piala AFF terakhir kita malah babak belur di tangan negara-negara Asia Tenggara.
Dengan banyaknya pemain yang sudah di naturalisasi, kenapa prestasinya malah ‘jalan di tempat?’
Kembali lagi ke tujuan bahwa proses naturalisasi ini sudah seharusnya untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia, khususnya tim nasional. Bukan untuk kepentingan segelintir kelompok di mana mengakali regulasi yang sudah ada supaya dapat memainkan 'pemain lokal rasa asing'.
Perbaikan “Naturalisasi” dan Pengembangan Usia Dini
Perbaikan pada “Naturalisasi” pemain sudah dilakukan untuk mencapai tujuan yaitu perbaikan kualitas dan prestasi tim nasional sepak bola Indonesia. Dengan melakukan proses pemilihan pemain harus berdasarkan kualitas yang si pemain serta bagaimana kebutuhan dari tim nasional itu sendiri.
Banyak nama seperti Jordi Amat, Sandy Walsh, dan lain-lain menjadi nama yang santer diisukan ingin di naturalisasi. Dengan mereka yang sedang bermain di liga eropa diharapkan memiliki kemampuan yang mumpuni dan di atas rata-rata pemain lokal Indonesia. Namun kembali lagi harus disesuaikan dengan kebutuhan tim nasional Indonesia supaya proses naturalisasi ini tidak berjalan sia-sia.
Seiring dengan berjalan proses naturalisasi, ada hal yang tak kalah penting yang menjadi pr penting asosiasi sepak bola kita, yaitu pembinaan usia dini. Memang mungkin proses naturalisasi bisa jadi ‘jalan pintas’ untuk meningkatkan kualitas dan prestasi tim nasional Indonesia, namun tidak untuk jangka panjang.
Pembinaan usia dini bisa jadi investasi jangka panjang tim nasional Indonesia, di mana kita tidak akan kehabisan talenta sepak bola.
Prosesnya dapat dimulai dengan perbaikan infrastruktur bagi pembinaan usia muda, perbaikan kurikulum sepak bola, serta perbaikan liga usia muda tentunya harus berjenjang sampai dengan senior. Dengan perbaikan-perbaikan tadi, baik pada naturalisasi, pembinaan usia muda, serta didukung dengan perbaikan diberbagai sektor sepak bola Indonesia, diharapkan tim nasional dapat meningkat kualitasnya dan beriringan dengan prestasi yang akan diraih oleh tim nasional.
