Perundungan, Kapan Berujung?

Pemerhati Sosial Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agus Jatmika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa di SMAN 72 Jakarta seperti mengulang cerita yang sudah terlalu sering kita dengar , seorang siswa dirundung, lingkungan sekolah tak mampu mendeteksi lebih awal, dan situasi merembet menjadi ledakan emosi yang tak mampu dibendung. Pergulatan ini memperlihatkan bagaimana perundungan di sekolah bukan lagi sebatas konflik remaja, melainkan fenomena sosial yang terus berputar tanpa ujung. Bahkan, banyak siswa menyebut perundungan sebagai “tradisi gelap” yang diwarisi dari angkatan ke angkatan. Jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka kita sedang membiarkan sekolah menjadi ruang yang membentuk luka, bukan masa depan.
Tidak sedikit kasus perundungan terjadi bukan karena pelaku benar-benar jahat, tetapi karena sistem sosial di sekolah memelihara ketimpangan relasi. Senioritas yang berlebihan, budaya bercanda yang kelewat batas, hingga tekanan untuk diterima oleh kelompok tertentu membuat banyak siswa terjebak dalam pola saling melukai tanpa sadar.
Tekanan Ekosistem Digital yang Mendorong Anak Makin Terpojok
Remaja hari ini hidup dalam dunia yang tidak lagi punya batas antara ruang sekolah dan gawai. Apa yang terjadi di kelas bisa menyebar dalam hitungan menit ke media sosial. Oleh karena itu mengapa bentuk perundungan sekarang jauh lebih mematikan secara psikologis. Mereka bukan hanya berhadapan dengan satu atau dua orang, tetapi dengan ratusan mata yang menilai, menertawakan, atau membagikan ulang aib mereka.
Saat ini tekanan sosial yang dialami korban bukan hanya hasil interaksi langsung, tetapi juga amplifikasi dari ruang digital yang membuat seseorang mudah sekali dikucilkan. Hal ini menunjukkan bahwa perundungan hari ini tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bergerak mengikuti algoritma, mengikuti ritme komentar, dan menyebar seperti kabar viral. Bagi remaja, kondisi ini menciptakan ketakutan berlapis yang sering tak tertangani.
Sekolah Sibuk Mengajar, Lupa Mengasuh
Sementara itu tidak sedikit sekolah lebih fokus pada target akademik, lomba, dan administrasi, sedangkan relasi sosial siswa sering dibiarkan berjalan sendiri. Guru disibukkan dengan perangkat ajar dan laporan, sementara guru BK bekerja seperti pemadam kebakaran yang dipanggil hanya ketika kejadian sudah terlanjur besar. Padahal, kebutuhan terbesar siswa saat ini bukan sekedar pengetahuan, melainkan keberadaan figur dewasa yang stabil, dekat, dan bisa dipercaya.
Di banyak kasus perundungan yang muncul, para siswa mengaku tidak tahu harus curhat ke siapa. Bila melapor ke teman takut dianggap lemah, melapor ke guru takut dibully balik atau dianggap melebih-lebihkan. Kekosongan ruang aman inilah yang membuat perundungan berkembang menjadi siklus yang panjang dan mematikan. Ketika tidak ada telinga yang siap mendengar, maka yang muncul adalah frustrasi, kemarahan, bahkan tindakan ekstrem.
Harapan Berujung pada Perubahan Cara Pandang
Sehingga pertanyaan “kapan berujung?” bukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan untuk membuka kesadaran bahwa perundungan hanyalah gejala dari rusaknya ekosistem sosial di sekolah. Perundungan tidak akan berakhir jika sekolah masih melihatnya sebagai konflik personal, bukan sebagai kegagalan sistem. Sehingga butuh perubahan cara pandang, bukan hanya penanganan insidental.
Dengan demikian sekolah perlu menghadirkan budaya empati yang nyata, bukan hanya berupa slogan. Mereka perlu membangun sistem pelaporan yang anonim namun efektif, memperkuat peran guru sebagai pendamping emosional, serta menciptakan interaksi yang lebih manusiawi antara siswa, guru, dan orang tua. Selain utu tidak cukup hanya membuat poster atau edaran seperti perubahan harus hadir dalam kelas, ruang istirahat, grup WhatsApp, hingga aturan keseharian yang benar-benar menata ulang relasi antar siswa.
Peristiwa di SMAN 72 seharusnya menjadi titik tolak, bukan sekedar berita viral. Kita membutuhkan sekolah yang tidak hanya mendidik otak, tetapi juga menjaga jiwa. Pada akhirnya sebelum cerita perundungan ini benar-benar menemukan ujungnya, kita harus memastikan bahwa setiap anak memiliki ruang aman untuk tumbuh, bukan ruang yang membuat mereka terluka dan akhirnya meledak dalam sunyi.
