Konten dari Pengguna

Arti Kesunyian di Mata Emi Suy

Agus  Buchori

Agus Buchori

Saya seorang arsiparis di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan yang suka menulis. Tinggal di pesisir utara Lamongan tepatnya di Desa Paciran, Kecamatan Paciran , Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Buchori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Pribadi

Judul: Ayat Sunyi

Penulis: Emi Suy

Penyunting: Tia Setiadi

Penerbit: BASABASI, 2018

Tebal : 88 hlm

ISBN: 9786025783067

Bagi seorang Perempuan kesunyian adalah teman abadinya karena ia selalu berjalan dengannya. Sisi domestik yang jauh dari keriuhan seolah menjadi jalan takdirnya.

Sunyi memang akrab dengan perempuan. Ia akan beraktivitas dengan kesunyian di manapun bidang yang ia geluti. Baik di ranah domestik (ibu rumah tangga) maupun wilayah publik. Meski demikian, sebagai perempuan, ia bisa beraktivitas lebih maksimal bahkan bisa lebih dari satu di waktu yang sama.

Kesunyian adalah pompa semangat karena bagi perempuan kesunyian berbeda dengan kesepian. Dalam kesunyian seorang perempuan bisa berkontemplasi dan berdialog untuk menemani jiwanya yang ramai.

Emi Suy penyair perempuan yang berhasil menggauli kesunyiannya menjadi larik larik kata yang memukau. Nuansa religi banyak tertangkap dalam bait bait puisinya mungkin karena kesunyian adalah sarana untuk melihat ke dalam jiwanya. Dan memang dalam kesunyian seringkali seseorang akan begitu dekat dengan Sang pencipta. Sebagai penyair, Emi tak bisa lepas dari nuansa kedekatan dengan penciptanya.

Di Tengah kesibukan hidup di belantara Jakarta di mana ia harus beradu cepat dengan waktu, Kesunyian telah membawanya untuk menyadari sebagai makhluk tuhan yang butuh untuk sejenak lepas dari belenggu dunia yang menipu ini. Dengan larik-larik yang khusuk ia sajikan dalam Ayat Sunyi, 4;

di saat asar begini

sunyi Kembali menggenangi sudut mata

aku bersujud

rinduku padamu basah

membuncah di Panjang sajadah

lalu rindu

kembali berkelana

dalam belantara darah

zikirku pecah

pikirku hampa

Buku Ayat Sunyi ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama memuat sebanyak 34 sajak Ayat Sunyi yang diberinya nomor 1-34. Bagian kedua memuat 27 sajak dengan berbagai tema.

Apa yang menjadi garis lurus dalam buku ini adalah kemampuan Emi mengeksplorasi dunianya yang teralienasi dari gegap gempita kehidupan di Jakarta. Berasal dari kota kecil di Jawa Timur, Magetan, Emi sanggup mencuri momen-momen puitik selama menjalani keriuhan kehidupanb di Jakarta.

Kehidupan yang jumud dari pagi hingga sore ternyata menimbulkan keresahan. Pagi pergi dan sore mesti Kembali adalah rutinitas biasa bagi penghuni kota besar semacam Jakarta. Bagi penyair seringkali kebiasaan ini memunculkan momen puitik, Emi mengungkapkan dengan bernas sekali dalam tiga larik sajak Senja Melipat Kenangan,

Senja melipat kenangan

di balik ingatan paling tenang

Tentang sunyi yang berulang-ulang

Puisi di atas sangat melodius untuk dibacakan. Ada nuansa iramanya untuk didengarkan tak berlebihan jika beberapa puisi Emi Suy telah digubah oleh komponis klasik Ananda Sukarlan. Menurut Ananda, puisi-puisi Emi menimbulkan bunyi dengan kata lain puisi Emi itu sangat musikal.

Tentunya membaca puisi adalah membaca hati kita sendiri sebagai manusia. Emanasi puisi memberikan kita katarsis untuk lebih menghargai segala kondisi lingkungkan. Apakah kita memilih diam atau dirundung kesunyian terus menerus. Ayat Sunyi mengajak kita menyadari bahwa kit aini sebenarnya mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri.

Ayat Sunyi, 12

di bawah hujan

menyusuri Semak hutan

aku tersesat

mencari jalan pulang

sendiri

Selamat menikmati kesunyian Emi Suy.