Konten dari Pengguna

Jenderal Hoegeng; Pahlawan Untuk siapa?

Agus  Buchori

Agus Buchori

Saya seorang arsiparis di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan yang suka menulis. Tinggal di pesisir utara Lamongan tepatnya di Desa Paciran, Kecamatan Paciran , Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Buchori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Kumparan.com

Di tengah kontroversi pengusulan gelar pahlawan bagi mantan Presiden soeharto, mari kita tengok kembali arti kepahlawanan bagi kita. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian atau perjuangannya dalam membela kebenaran. Apakah seseorang layak disematkan gelar pahlawan bagi dirinya tentunya kita bisa kembali merujuk arti kata pahlawan tersebut.

Pahlawan sebagaimana kita tahu adalah mereka-mereka yang berjuang tanpa pamrih. Mereka berjuang untuk membuat perubahan pada lingkungannya tanpa mengharap sesuatu. Mereka melakukan pekerjaan hanya untuk membantu sesama tanpa risau dengan pamrih yang ia dapatkan. Mereka beraktivitas semata-mata untuk melakukan bakti pada kemanusiaan.

Tentunya dengan standar ini semua negara harus mampu memilah dan memilih sosok-sosok mana saja yang layak dianggap sebagai Pahlawan negara. Dalam konteks Negara Indonesia Pahlawan adalah mereka-mereka yang menginisiasi lahirnya Negara Indonesia dan juga mereka mereka yang turut mengangkat senjata dalam revolusi kemerdekaan maupun yang turut serta dalam mempertahankan kemerdekaan dalam kaitannya dengan Agresi belanda I dan II.

Untuk katagori ini ada banyak figur yang layak diangkat sebagai Pahlawan Nasional baik dari unsur sipil maupun militer. Mereka adalah orang-orang yang telah mengorbankan pikiran dan tenaganya untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankannya. Terutama adalah mereka-mereka yang tidak sempat menikmati jerih payahnya. Mereka inilah yang seharusnya lebih dulu mendapat gelar pahlawan Nasional.

Lain lagi jika pemberian gelar itu diberikan oleh mereka yang masih sempat menikmati hasil perjuangannya. Seleksi pemberian gelar pahlawan harus lebih selektif mengingat rekam jejak sosok tersebut dalam mengisi kemerdekaan. Pahlawan di negara kita terlalu banyak bahkan negara dianggap terlalu royal memberikan gelar tersebut. Bahkan dalam unsur militer banyak sekali purnawirawan yang dimakamkan di taman makam pahlawan.

Tentunya ini tidak menjadi persoalan jika sosok tersebut menang sosok yang jujur dan tanpa pamrih sepanjang hidupnya. Tentunya kita masih ingat penolakan Jenderal Polisi Hoegeng un6tuk dimakamkan di Kalibata. Alasan penolakan tersebut adalah karena ia tidak mau berdampingan dengan para pencoleng. Jenderal Hoegeng tahu bahwa banyak tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak layak untuk dimakamkan di sana.

Melihat rekam jejak mantan presiden Soeharto, mungkin para pejabat negara dan semua masyarakat tahu kelayakannya apakah dia termasuk salah satu yang pantas mendapat gelar itu. Meski dalam masa perjuangan kemerdekaan maupun saat mempertahankan kemerdekaan peran dia tidak kecil tentunya rekam jejak setelah Soeharto menjadi presiden bisa menjadi tolok ukur.

Unsur kehati-hatian dalam pemberian gelaqr Pahlawan harus betul-betul diterapkan agar kita tidak menyakiti hati masyarakat. Suara-suara setiap elemen masyarakat harus menjadi pertimbangan untuk memutuskan seseorang layak menjadi Pahlawan.

Tentunya apa yang pernah dilakukan Jenderal Polisi Hoegeng bisa menjadi pertimbangan. Sebagai sosok yang diakui kejujurannya saat menjabat tentunya pendapat yang pernah diutarakannya adalah referensi yang cukup kredibel untuk dijadikan pedoman sebelum kita salah memberikan gelar Pahlawan pada seseorang.

Ini berlaku untuk siapa saja, bahwa kepahlawanan tentunya harus diberikan oleh orang-orang yang tak punya pamrih dalam perjuangan. Tentunya kita tak rela menyematkan gelar pahlawan pada mereka-mereka yang pernah mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadinya. Bukankah sejak tahun 1960-an Mochtar Lubis telah mengkritisi mereka-mereka yang memanfaatkan kekayaan negara untuk kepentingan pribadinya baik itu sipil maupun militer.

Pahlawan sebuah gelar prestisius bagi warga negara dalam kaitannya mengisi catatan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga gelar itu tidak menjadi sebuah penghormatan yang tak lagi punyai prestise di mata masyarakat. Dan mari kita meneladani Jenderal Hoegeng bersama-sama.