Kemampuan Kurasi di Era AI

Saya seorang arsiparis di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan yang suka menulis. Tinggal di pesisir utara Lamongan tepatnya di Desa Paciran, Kecamatan Paciran , Kabupaten Lamongan, Jawa Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agus Buchori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan telah melanda segala bidang. Dunia kreatif telah terkepung dengan AI sehingga semakin memudahkan untuk menghasilkan produk-produk kreativitas. Desain, informasi, dan manipulasi teks tak bisa dilepaskan dari keberadaan AI tersebut.
Kini, dengan memasukkan perintah tertentu pada aplikasi AI, tak menunggu waktu lama, produk sudah mampu dihasilkan oleh AI dengan hasil yang bisa dikatakan sempurna. Kemudahan ini membuat semua mampu menghasilkan produk kreativitas asal kita mampu memberi perintah secara tepat dan lengkap.
Kondisi seperti ini melahirkan melimpahnya karya-karya instan yang tersebar di berbagai media online. Yang lebih mengkhawatirkan adalah melimpahnya karya audio visual yang jika tidak disikapi oleh pengguna yang mampu menganalisa keaslian karya tersebut, karya tersebut bisa menyesatkan.
Inilah tantangan yang kita hadapi di era membanjirnya produk dari aplikasi AI ini. Sebuah potongan video bisa terlihat seperti seseorang sedang berbicara dengan modulasi suara aktor yang berada dalam potongan video tersebut. Jika kita tidak jeli maka dengan serta merta akan termakan langsung oleh informasi tersebut. Namun, senyatanya jika ditelisik dengan saksama gerak bibirnya jauh dari bunyi suara aktor tersebut.
Dibutuhkan kemampuan kurasi untuk menyiasati banjirnya produk-produk AI ini. Bagaimana kita menimbang, menilai dan mengidentifikasi sebuah hasil karya AI mutlak harus kita kuasai jika kita termakan informasi yang menyesatkan. Menggunakan Informasi tanpa verifikasi dan klarifikasi adalah sebuah kecerobohan yang perlu dihindari.
Hoax yang berlalu lalang di medsos dan media online yang tak bertanggung jawab perlu disikapi oleh para pengguna informasi untuk menjadi pribadi yang selalu waspada. Era post truth di mana kebenaran dan kebohongan sudah bisa dikemas dalam kemasan yang sama jika kita tidak pandai memilih maka kita akan mudah ditipu untuk membuat opini yang salah.
Bagaimanakah jalan untuk menjadi lihai dalam mengurasi sebuah inrmasi audio visual? Banyak membaca dari sumber primer adalah salah satu yang bisa kita pakai. Sering mencari data dari tangan pertama bukan dari tangan kedua. Kemungkinan data dari tangan kedua beresiko bias dan bahkan sudah melalui proses sunting yang tidak kita ketahui.
Pilihannya adalah apakah kita mau instan mengonsumsi informasi atau menahan diri sejenak dengan melakukan kurasi secara mandiri. Kurasi secara mandiri ini penting agar kita tidak menjadi pengguna informasi yang mudah disesatkan oleh penyedia informasi yang tak bertanggung jawab.
Mari secara bijak menyikapi semua informasi yang ada dengan tidak serta merta membaginya di medsos kita sebelum kita kurasi lebih dulu. Tentunya ini akan membawa kredibilitas kita sebagai warga yang melek informasi di tengah kemudahan akses informasi sekarang ini.
Banyak sumber terpercaya yang bisa kita jadikan referensi untuk kita turut berpartisipasi menyampaikan opini. Bukan sebuah keterlambatan jika kita mau meluangkan waktu sejenak untuk memverifikasi setiap informasi yang konsumsi. Kemalasan dalam melakukan kurasi akan berdampak mempermalukan diri sendiri atau paling buruk kita menyesatkan orang lain. Dan ini semua ada resikonya. Anda pilih yang mana?
