Laku Spiritual dalam Bertani Bukan Sekadar Mengolah Tanah

Saya seorang arsiparis di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan yang suka menulis. Tinggal di pesisir utara Lamongan tepatnya di Desa Paciran, Kecamatan Paciran , Kabupaten Lamongan, Jawa Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agus Buchori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bertani bukan hanya persoalan mengolah tanah untuk ditanami. Lebih daripada itu, ada sebuah laku spiritual yang menjadi api semangat untuk menciptakan harmoni dengan lingkungan. Berpijak pada nilai nilai keisalaman yang mengutamakan kehidupan yang harus selaras dengan alam, buku Santri Sawah hadir di waktu dan tempat yang tepat.
Bencana alam yang melanda bisa jadi adalah hasil komunikasi kita, sebagai umat manusia, dengan lingkungan yang telah gagal. Kita melupakan bahwa lingkungan khususnya bumi ini adalah makhluk Allah juga yang sama sama memujiNya. Kita seringkali egois dengan meluapkan nafsu pribadi kita dan mengabaikan kebutuhan lingkungan. Kita hanya mengeksploitasi tanpa mau memberi.
Santri Sawah mengajarkan kita bagaimana berinteraksi dengan Alam untuk menghayati nilai nilai ketauhidan melalui sejengkal tanah. Tanah menjadi simbol sifat tawadhu’ yang rendah hati yang terus terinjak namun dari situlah tumbuh kehidupan (hal.9).
Kala seorang petani menanam disertai rasa ikhlas maka benih pun tumbuh dengan keberkahan. Dan santri menghayati ini untuk membuat hatinya sebagaimana tanah yang selalu menerima meski dihajar hujan badai dan bajak karena itu adalah ujian untuk menumbuhkan sesuatu yang bermanfaat.
Bagi Anis Azhar penulis buku Santri Sawah ini, Sawah adalah madrasah kehidupan karena setiap musim tanam adalah pelajaran, setiap hujan adalah khutbah dan setiap panen adalah ujian untuk selalu bersyukur (hal.16). Dalam mengolah sawah ini setiap benih adalah doa yang dikubur dengan harapan akan tumbuh menjadi rezeki karena menanam bukan sekedar bekerja akan tetapi lebih pada mempercayakan masa depan pada kasih Allah.
Sebagai Petani yang mendapat pengetahuan dari meja kuliah di Teknologi Pertanian, Anis menyadari bahwa ikhtiar bercocok tanam harus diusahakan secara maksimal tetapi tidak harus melupakan pada sang penentu kehidupan.
Sebagai alumni pesantren yang lama nyantri di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan serta pergaulannya dengan guru spiritual di Alas Purwo Banyuwangi, Anis berhasil menginternalisasikan pengalaman religiusnya menjadi laku dalam kegiatannya bergelut dengan aneka pengembangan teknologi pertanian. Ia banyak mengembangkan tanaman organik karena menyadari bahwa memaksa tanaman untuk bergerak di luar kemampuannya adalah kejahatan.
Pertanian organik mengutamakan penggunaan mikroorganisme alami untuk memberikan nutrisi pada tanaman bukan melalui bahan kimia. Konsep ini selaras dengan prinsip halalan thayyiban yaitu yang halal dan sekalaigus baik. Dalam islam halal saja tidak cukup tapi bagaimana kehalalan itu juga mengandung nilai kebaikan, kesucian dan ramah terhadap lingkungan (berkah) adalah yang utama (hal.122).
Menikmati buku ini kita diajak untuk menyadari bahwa di setiap tetesan keringat seorang petani sebenarnya terkandung doa-doa yang akan membuai tanahnya untuk nanti bersama merayakan saat panen dengan tidak lupa bersyukur bahwa semua terjadi atas kehendakNya. Selamat membaca.
Judul: Santri Sawah
Harmoni spiritualitas dan Ekologi dalam Tradisi Pesanten.
Penulis: Anis Azhar
Penerbit: Madani Kreatif Publisher, Yogyakarta
Tebal: xx+160 Hal
Tahun: 2026
ISBN: 978-623-473-935-0
