Konten dari Pengguna

Kucing Pemantik Kebahagiaan

Agus Sarkoro

Agus Sarkoro

Auditor KAP, Ketua DeWas Yayasan Al-Ikhlas Tarakan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Sarkoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kucing Tabby. Dok foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Kucing Tabby. Dok foto: Pixabay.

Setahun yang lalu, ketika saya mengantarkan istri belanja di pasar, saat hendak turun dari mobil, tiba-tiba, tidak tahu dari mana, ada seekor anak kucing mengeong tepat di bawah pintu mobil. Ekornya sempat terinjak kaki saya yang baru hendak turun dari mobil membuatnya mengeong keras.

Lengkingan keras teriakan anak kucing itu membuat kaget. Saya lantas mengamatinya dengan lebih dekat. Seekor anak kucing yang kurus, yang mungkin baru berumur 1 – 2 minggu, dengan bulu berwarna putih dan kuning kusam tak terawat nampak sedang kebingungan mencari induknya.

Kemudian, mata saya tertuju pada sebuah benda di tengah jalan, tak jauh dari posisi parkir mobil, yang ternyata seekor kucing, tergeletak penuh darah, mati tertabrak mobil yang baru melintas di depan pasar. Rupanya hewan nahas itu induk dari anak kucing yang terinjak kaki saya tadi.

Sebenarnya, saya bukanlah penggemar kucing, kalau tidak dikatakan sebagai pembenci. Kebencian bukan dikarenakan bentuk dan rupanya, tetapi sifatnya. Di mata saya, ia adalah mahluk yang pemalas dan manja. Dua sifat yang sangat saya benci dan itu bukan sifat gue banget.

Saking tidak sukanya pada binatang ini, saya sering menendangnya ketika terlihat ia sedang tertidur di karpet keset di depan pintu rumah. Benci sekali melihat kemalasannya. Bahkan, dari kecil, saya selalu mengejar dan menghempaskan kucing yang mencuri makanan di dapur. Kemarahan selalu memuncak setiap kali melihatnya tengah mengais-ngais makanan di meja makan saat tuan rumah tidak ada.

Tetapi melihat pemandangan tadi, dan anak kucing yang berteriak tanpa henti seperti sedang histeris kehilangan induknya, perasaan benci saya terabaikan, dan berubah menjadi rasa kasihan. Lalu tangan saya mengambilnya, dan memasukkan ke bagasi mobil.

Istri saya spontan berteriak ketika melihat benda yang ada di tangan saya, tak kalah histeris dengan teriakan si anak kucing saat terinjak tadi. Maklumlah, istri juga sangat fobia kucing. Dia begitu anti dengan binatang yang satu ini. Setiap kali binatang piaraan ini mepet-mepet di kakinya, dia bisa histeris, girab-girab.

“Mas, ngapain pegang pegang kucing segala? Buang!” Pinta istriku setengah berteriak. Saya tersenyum, geli, melihat rona mukanya yang nampak sekali wajah ketakutan, juga sebel bercampur sedikit kemarahan. Kemudian saya jelasin sebab kenapa saya mengambilnya.

Sejenak mata istri saya mengamati hewan yang sedang saya pegang tadi. Kemudian dia melihat ibu kucing yang terbujur di tengah jalan. Dia terdiam. Rupanya, rasa bimbang tiba-tiba melanda di hatinya. Rasa gilo-nya sama kucing bercampur dengan rasa kasihan.

“Gimana? Kita bawa saja anak kucing ini ya?" Tanyaku. Istriku terdiam sesaat. Dengan suara yang berubah pelan, ia menjawab “ Terserah, tapi aku enggak mau ngerawat ya?” “Iya, biar nanti Dika saja yang suruh ngerawat. Dia pasti suka ini,” jawabku. Dika, anak kami memang suka kucing.

Kemudian saya bergegas memasukkan anak kucing itu ke dalam bagasi mobil saya.

***

Sesampainya di rumah, Dika, kaget melihat benda yang ada di tangan Bapaknya. Dia terheran-heran, rasa tak percaya kalau Bapaknya yang pembenci kucing itu justru tiba tiba membawakan untuknya

Belum habis keheranan anak saya, dan belum sempat ia bertanya, saya langsung bilang ke dia, “Niiih, Bapak bawain binatang kesukaanmu, kamu rawat baik baik yaa.”

Saya melihat ekspresi wajah Dika yang sesaat terbengong-bengong, lantas berteriak kegirangan sambil merebut anak kucing itu dari tangan saya. Dia memang sudah lama merengek-rengek minta dibelikan. Tetapi kami, saya dan Ibunya menolak mentah mentah keinginan dia. Sampai akhirnya saya membawakannya.

Sejak hari itu, seluruh anggota rumah mulai disibukkan oleh si anak kucing pendatang baru penghuni rumah kami. Dari mulai membeli kandang, dot, dan susu, membeli makanan khusus, pasir untuk tempat BAB, sampai mendatangi dokter hewan untuk divaksin, sampai grooming segala.

***

Anak saya memberinya nama Kitty, karena mengira anak kucing itu betina, tetapi setelah besar, ternyata berjenis kelamin jantan.

Kitty, anak kucing malang ini benar benar telah berubah nasib. Dari kucing kampung yang mengais makanan dari tempat sampah, tidur di sela-sela gerobak pedagang pasar, tiba tiba pindah tidur di kasur, makan dilayani dengan makanan kualitas super, dimandikan, diperiksa kesehatan oleh dokter hewan. Sungguh mulia kehidupannya sekarang.

Tapi, kehadirannya tanpa terasa juga telah mengubah banyak sisi kehidupan kami. Dika menjadi begitu bersemangat dengan kesibukan barunya menjadi pengganti “Ibu” dari Kitty. Dia yang semula paling malas bangun pagi, sekarang tidak malas lagi, karena kepengin segera bermain dengan teman barunya. Dia juga dengan telaten merawat dan mengajari kucingnya berbagai hal, sibuk browsing segala hal tentang perkucingan.

Belum lagi kalau jatah makanan Kitty mulai menipis. Anak saya begitu gaduh meminta jatah jajan yang terhenti akibat sekolah daring diganti untuk dibelikan makanan binatang piaraan barunya.

Ada suasana baru di rumah kami. Hari-hari kami lalui dengan obrolan tentang Kitty. Kesepian saya dan istri sebagai seorang pensiunan sedikit terisi dengan kesibukan mengurus kucing. Kebencian pada sifat malas dan manja binatang ini berubah menjadi permisif, bahkan memandangnya sebagai hiburan yang menyegarkan.

Istri saya yang semula gilo sama kucing, kini berangsur-angsur hilang. Dia tidak lagi histeris saat si Kitty menggesek-gesekkan bulu di kakinya. Meskipun belum berani untuk memegang, tetapi dia sudah tidak lagi girab-girab kalau didekati kucing.

***

Kematian dan kelahiran adalah peristiwa paling dramatis di dunia, yang hampir selalu menjadi sebab sebuah perubahan. Bukan hanya kematian dan kelahiran manusia saja, tapi juga kelahiran semua mahluk hidup. Seperti kematian induk kucing dan kelahiran Kitty yang telah mengubah kebencian saya menjadi belas kasihan.

Dan alih-alih kita membenci sesuatu, seringkali dari situlah datangnya kebahagiaan baru berawal. Seperti Kitty, anak kucing malang yang kehadirannya telah memantik suasana dan kebahagiaan baru di rumah kami.

***

Sumber Foto

Kucing Tabby