Mesin Cetak Pelet UNY Dongkrak Produksi Pakan Ikan Petani Gunungkidul
Tulisan dari D4-Mesin Otomotif, FV, UNY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Hasil Riset Program Studi Mesin Otomotif D4, Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menyerahkan satu unit mesin cetak pelet pakan ikan kepada Kelompok Tani Marsudi Luhur di Padukuhan Kepuh, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, pada Selasa (28/7/2026).
Kegiatan yang didanai DRPM UNY ini dipimpin Dr. Agus Widyianto, M.T., bersama Dr. Ir. Paryanto, S.Pd., M.Pd., Drs. Ir. Moch Solikin, M.Kes., dan Ir. Prihatno Kusdiyarto, M.Eng., Ph.D. Empat mahasiswa turut terlibat, yaitu Seti Fani, Lutfi Dwi Arwiyanto, Nilam Anisrina, dan Reno Pamungkas.

Pakan Ikan Masih Bergantung pada Pabrikan
Kelompok Tani Marsudi Luhur membudidayakan ikan nila dan gurame di kolam tanah dan kolam terpal. Selama ini, anggota mencetak pakan secara manual dengan kapasitas kurang dari 10 kg per jam. Ukuran dan kepadatan pelet tidak seragam, dan kelompok belum memiliki standar formulasi.
Kondisi itu membuat anggota bergantung pada pakan pabrikan yang menjadi komponen biaya terbesar budidaya. Padahal, Semanu memiliki bahan pakan lokal yang melimpah, seperti dedak padi, jagung giling, ampas tahu, dan tepung ikan.
Mesin Cetak Pelet Naikkan Kapasitas Lima Kali Lipat
Mesin yang diterapkan merupakan hilirisasi riset tim tentang mesin pencetak pelet tipe vertical flat die untuk usaha mikro-kecil. Tiga roller menekan adonan menembus lubang cetak berdiameter 2–3 mm. Mesin digerakkan motor diesel 5,5 HP melalui transmisi sabuk.
Penggerak diesel dipilih bersama mitra karena sambungan listrik satu fase di lokasi tidak mampu menanggung beban motor listrik. Dengan penggerak ini, mesin dapat beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik.
Uji jalan dengan bahan lokal menghasilkan kapasitas 50–75 kg per jam, sedikitnya lima kali kapasitas cetak manual. Pelet yang dihasilkan berbentuk silinder, padat, dan relatif seragam.
"Dengan kapasitas ini, kelompok tidak lagi membuat pakan sesekali. Satu sesi kerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan anggota secara terjadwal," ujar Agus Widyianto.
Pelatihan Formulasi Pakan Ikan dan Keselamatan Kerja
Tim juga melatih anggota menyusun formula pakan dengan metode Pearson Square untuk target protein kasar 28–30% pada fase pembesaran nila dan gurame. Peserta praktik langsung menimbang bahan, mengatur kelembapan adonan, mencetak, hingga membersihkan mesin.
Materi keselamatan kerja mencakup penggunaan alat pelindung diri serta larangan membersihkan mesin saat poros masih berputar.
Evaluasi terhadap 15 peserta menunjukkan rerata skor pengetahuan formulasi naik dari 46,0 menjadi 86,7. Seluruh peserta mencapai batas ketuntasan 75, dengan rerata N-gain 0,76 yang masuk kategori tinggi.
Menjaga Keberlanjutan Mesin Cetak Pelet
Kelompok menunjuk operator tetap, menerima dokumen SOP, serta mulai menggunakan logbook produksi dan buku kas sederhana. Catatan ini menjadi dasar perhitungan harga pokok produksi pakan mandiri dibandingkan pakan pabrikan. Pemerintah Kalurahan Pacarejo dan Padukuhan Kepuh turut memfasilitasi kegiatan.
Kegiatan ini mendukung SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 4 dan SDG 17 melalui pelatihan vokasional dan kemitraan kampus dengan masyarakat. Tim akan melanjutkan pendampingan hingga akhir 2026 melalui uji produksi berulang, uji ketahanan pelet di air, dan perhitungan biaya produksi aktual.
"Mesin hanya satu bagian. Yang membuat unit ini bertahan adalah operator yang terampil, formula yang terukur, dan pencatatan yang rapi," kata Agus.

