Dikenal Luas Secara Nasional, Tapi Terlupakan di Kampung Halaman

Saya, Agus Budi Harto adalah mahasiswa Komunikasi di UIN KH Abdurrahman Wahid dan aktif sebagai writer, Batang - Pekalongan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Agus Budi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara geliat dunia sastra Indonesia, nama Aveus Har nama pena dari Suharso, seorang sastrawan yang berasal dari Pekalongan telah mendapatkan tempat tersendiri di kalangan sastrawan dan pecinta literasi tanah air. Gaya penulisannya yang mendalam, menyentuh isu-isu eksistensial dan sosial, serta kekuatan bahasanya menjadikannya sosok yang diperhitungkan di tingkat nasional. Karya-karyanya seperti Tak Ada Embusan Angin (Diva Press, 2023) dan Forgulos (Basa-basi, 2020) menjadi bukti kontribusinya yang berarti bagi sastra Indonesia.
Namun, sebuah ironi muncul: meskipun namanya harum di tingkat nasional, di kota kelahirannya sendiri, Pekalongan, keberadaan dan kiprahnya hampir tak diketahui.
Situasi semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak figur penting dari berbagai daerah di Indonesia yang justru lebih dihargai di luar daerah asalnya. Ini menunjukkan adanya jurang antara masyarakat lokal dan tokoh budaya yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama. Di Pekalongan, nama Aveus Har jarang sekali terdengar baik di institusi pendidikan, ruang publik, maupun dalam bentuk penghargaan simbolik seperti penamaan jalan, taman literasi, atau kegiatan kebudayaan yang mengulas pemikirannya.
Padahal, mengenang dan menghargai tokoh lokal bukan sekadar memberikan nama pada bangunan atau tempat. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk penghormatan terhadap ide, ilmu, dan warisan kultural yang lahir dari rahim masyarakat itu sendiri. Ketidakhadiran nama Aveus Har dari wacana publik di Pekalongan menunjukkan lemahnya perhatian terhadap literasi lokal dan sejarah kesusastraan daerah.
Pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan komunitas seni perlu mengambil peran aktif untuk menghidupkan kembali kesadaran ini. Mengenalkan kembali sosok Suharso kepada generasi muda bukan hanya sebatas upaya mengenang, melainkan juga cara membangun rasa bangga terhadap identitas daerah. Keberadaannya membuktikan bahwa dari Pekalongan, kota yang dikenal sebagai sentra batik, juga lahir suara sastra yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Kita sebagai masyarakat tidak boleh terus membiarkan ironi ini berlarut-larut. Penghargaan terhadap tokoh lokal semestinya dimulai dari kampung halamannya sendiri. Jika tidak, maka kita sedang kehilangan jejak dan melemahkan akar dari pohon kebudayaan yang seharusnya kita rawat bersama.
Agus Budi, Mahasiswa UIN. K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
