Konten dari Pengguna

Kompetisi Media dalam Hitungan Detik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Budiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi perhatian dan Kompetisimedia dalam hitungan detik ( Ilustrasi Generated AI )
zoom-in-whitePerbesar
Ekonomi perhatian dan Kompetisimedia dalam hitungan detik ( Ilustrasi Generated AI )

Ekonomi perhatian kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital kita, ketika media berlomba merebut waktu dan perhatian manusia hanya dalam hitungan detik.

Selanjutnya apabila kita tarik napas sebentar, lalu ingat-ingat berapa kali kita membuka ponsel dalam satu jam terakhir? Berapa detik rata-rata kita bertahan di satu video sebelum jari ini otomatis menggeser ke konten berikutnya?

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menyingkap sebuah pertempuran raksasa yang berlangsung diam-diam di genggaman kita setiap hari. Media, dalam segala bentuknya, sedang berlomba memperebutkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, perhatian kita, yang kini hanya dihargai dalam hitungan detik.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan generasi tua terhadap layar. Ia adalah kenyataan struktural yang membentuk ulang cara kita berpikir, bekerja, bahkan mencintai. Dari notifikasi yang berdenting di tengah rapat, judul berita yang sengaja dibuat menggantung, hingga algoritma yang tahu persis kapan harus menyodorkan video lucu agar kita tidak beranjak dari sofa semuanya adalah bagian dari satu industri besar yang menjual satu komoditas, detik-detik perhatian manusia.

Ekonomi Perhatian Mengubah Cara Media Merebut Waktu dan Fokus Manusia di era Digital.

Ada alasan mengapa aplikasi berlomba membuat video berdurasi kian pendek, mengapa judul berita semakin provokatif, dan mengapa fitur "autoplay" menjadi standar di hampir semua platform.

Seorang ilmuwan sekaligus ekonom peraih Nobel, Herbert A. Simon, jauh sebelum era media sosial lahir sudah mengingatkan bahwa ketika informasi melimpah, yang menjadi langka justru perhatian manusia untuk menyerapnya.

Pemikirannya ini kemudian dikenal luas sebagai konsep ekonomi perhatian, dan hari ini kita menyaksikan buktinya secara telanjang, bukan lagi konten yang bersaing untuk menjadi berkualitas, melainkan untuk menjadi yang paling cepat merebut mata kita sebelum jempol berpindah ke aplikasi lain.

Dalam keseharian, gejala ini terasa begitu dekat. Bayangkan seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya sambil menonton video resep masakan, namun sebelum video itu selesai, ia sudah membuka tab lain untuk membaca berita, lalu berpindah lagi ke pesan grup keluarga.

Tidak ada yang benar-benar "selesai ditonton" semua hanya sempat "dilirik". Media pun beradaptasi, mereka tidak lagi menyusun narasi panjang yang butuh kesabaran, melainkan merancang setiap detik pembuka agar sanggup menahan mata kita sepersekian detik lebih lama dari pesaingnya.

Media sebagai Perpanjangan Diri, Algoritma Membentuk Kebiasaan

Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari cara media itu sendiri membentuk kebiasaan penggunanya. Marshall McLuhan, salah satu peletak dasar ilmu komunikasi modern, pernah mengemukakan gagasan bahwa setiap medium sesungguhnya adalah perpanjangan dari indra dan tubuh manusia, dan bentuk medium itu sendiri bukan hanya isi pesannya yang paling besar mengubah cara manusia berpikir dan berperilaku.

Gagasan yang lahir puluhan tahun lalu ini terasa semakin relevan ketika kita melihat bagaimana format vertikal, durasi pendek, dan sistem gulir tanpa akhir bukan sekadar pilihan estetika, melainkan arsitektur yang secara sengaja dirancang untuk membentuk refleks baru dalam diri penggunanya.

Kita bisa melihatnya pada kebiasaan sehari-hari yang mungkin tidak kita sadari sebagai sesuatu yang "dirancang". Berapa banyak dari kita yang membuka ponsel bukan karena ada keperluan mendesak, melainkan karena jari sudah bergerak sendiri begitu ada jeda beberapa detik saat menunggu antrean atau lampu merah?

Itulah bentuk medium yang telah menyatu dengan tubuh kita, persis seperti yang diramalkan McLuhan jauh sebelum ponsel pintar ditemukan. Media tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, ia telah menjadi bagian dari cara kita bergerak, menunggu, bahkan berdiam diri.

Ekologi Media dan Krisis Kedalaman Berpikir

Pertanyaan yang lebih mendalam kemudian muncul: apa yang hilang ketika segala sesuatu harus disampaikan dalam hitungan detik? Neil Postman, tokoh penting dalam kajian ekologi media, mengingatkan bahwa ketika sebuah budaya bergeser dari mengandalkan tulisan menuju mengandalkan tayangan visual yang serba cepat, cara masyarakat berpikir, memahami kebenaran, dan menilai apa yang penting pun ikut berubah secara mendasar.

Ia mewanti-wanti bahwa media yang mengutamakan hiburan dan kecepatan berisiko mengikis kemampuan publik untuk berpikir kritis dan mendalam, karena segala sesuatu termasuk isu serius seperti politik, pendidikan, atau kesehatan dituntut untuk tampil ringkas, menghibur, dan cepat dicerna.

Realitas ini terasa begitu akrab bagi kita yang sering merasa "tahu banyak hal tapi tidak benar-benar memahami apa pun". Kita bisa membaca puluhan judul berita dalam sepuluh menit, namun sulit mengingat detail satu pun keesokan harinya.

Diskusi keluarga di meja makan pun kian sering terputus oleh dering notifikasi, seolah dunia di luar sana selalu lebih mendesak daripada percakapan yang sedang berlangsung di depan mata. Anak-anak tumbuh dengan rentang perhatian yang kian pendek, bukan karena mereka lebih malas, melainkan karena lingkungan media di sekitar mereka memang dirancang untuk tidak pernah membiarkan perhatian bertahan lama di satu tempat.

Menemukan Kembali Ruang untuk Berhenti Sejenak

Kompetisi media dalam hitungan detik ini bukan sekadar persoalan industri, melainkan persoalan kemanusiaan. Ia menuntut kita untuk lebih sadar bahwa setiap kali kita membuka aplikasi, kita sesungguhnya sedang memasuki arena pertarungan yang dirancang oleh banyak pihak untuk memenangkan detik-detik hidup kita.

Menyadari hal ini bukan berarti kita harus antimedia atau menjauhi teknologi sepenuhnya, melainkan mulai belajar mengambil jeda memilih kapan harus benar-benar hadir dalam sebuah percakapan, kapan harus mematikan notifikasi, dan kapan cukup melirik sekilas tanpa harus terseret arus.

Barangkali, di tengah dunia yang berlomba merebut perhatian kita dalam hitungan detik, hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan justru sederhana, berhenti sejenak, menatap layar lebih lama sebelum menggeser, atau bahkan meletakkan ponsel dan benar-benar mendengarkan orang di depan kita.

Karena pada akhirnya, perhatian adalah satu-satunya kekayaan yang benar-benar kita miliki, dan kitalah yang berhak menentukan kepada siapa ia layak diberikan.