Relasi Kuasa Media Sosial

Jurnalis Warta Perwira, menulis opini dan feature. Alumnus Journalism Course Thomson Foundation (UK) & University of Derby (UK). Anggota Society for Features Journalism (USA) & Hostwriter.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Agus Budiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika berbicara kekuasaan, dalam era digitalisasi kekuasaan dapat disebarkan pada pihak-pihak lainnya dengan cepat yang masih ada relasinya dengan sumber kuasa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dukungan kemajuan teknologi komunikasi yang berkembang dengan cepat dan masif memberikan andil bagaimana suatu informasi bekerja dan disebarkan.
Di era pra digital kekuasaan sebelumnya sering terpusat pada satu-satunya sumber kuasa yang dapat menentukan apapun melalui otoritas kekuasaannya. Namun kondisi sekarang bergeser pada konsep pembagian kekuasaan untuk membentuk opini publik sekaligus merengkuh dukungan partisipatif dari publik melalui relasi kuasa yang dijalankannya.

Media sosial telah mengubah lanskap ruang publik secara drastis, memunculkan relasi kuasa yang kompleks dan multidimensional. Dengan kehadiran media sosial, setiap individu kini berpotensi menjadi produsen dan penyebar informasi menciptakan dinamika kekuasaan yang lebih terdistribusi, walaupun kenyataannya tidaklah selalu setara. Keli (2024) menegaskan bahwa, melalui media sosial setiap orang memiliki ruang untuk mengungkapkan pemikiran, perasaan, tindakan dan sikap mereka dengan mudah dan cepat. Sifat kepribadian, minat, dan preferensi setiap individu dapat dibaca, diselidiki, dan dimonitor.
Relasi kuasa di media sosial mampu menciptakan opini publik melalui penyebaran informasi dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya. Informasi yang viral dapat menciptakan efek bola salju dan mempengaruhi opini publik secara massal. Artinya pembentukan opini publik bukan hanya pemilik tunggal penguasa, ataupun kelompok-kelompok tertentu. Namun siapapun yang memiliki akses dan mampu memanfaatkan media sosial dengan baik, serta menyebarkannya pada relasi relasi yang dianggap satu pemahaman dan kesukaan yang sama, disinilah relasi kuasa hadir.
Platform media sosial dapat memberikan ruang bagi suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan untuk didengar dan berpartisipasi dalam wacana publik. Selaras dengan pendapat Susanto (2025) Media sosial telah menciptakan ruang publik baru yang lebih terbuka dan inklusif di mana individu apat berbagi ide, berpartisipasi dalam diskusi dan terlibat dalam gerakan sosial. Algoritma cenderung menyajikan konten yang sesuai dengan keyakinan pengguna sehingga terciptanya echo chamber dimana setiap individu hanya terpapar pada pandangan yang memperkuat bias mereka.
Relasi kuasa bekerja
Relasi kuasa di media sosial bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah proses yang terus-menerus berlangsung dan berkembang. Proses ini melibatkan interaksi dinamis antara berbagai aktor dan mekanisme yang pada akhirnya menentukan siapa yang memiliki kendali atas narasi? siapa yang paling didengar? dan siapa yang dapat mempengaruhi perilaku publik di ruang digital?.
Kemampuan seseorang didalam memproduksi suatu konten, merupakan awal pertama kali di kongkritkan melalui kemampuan seseorang atau entitas untuk menghasilkan dan mengunggah informasi, opini ataupun suatu kreasi. Pengguna biasa mengunggah up date status, foto, video atau membagikan tautan. Meskipun skala pengaruhnya kecil, namun secara kolektif mereka mampu berkontribusi pada data besar yang membentuk ekosistem media sosial.
Influencer, mereka memproduksi konten dengan personal branding yang kuat seringkali berbayar atau bermitra dengan merk tertentu dan langsung mempengaruhi basis pengikut mereka. Media massa juga mempunyai andil dalam produksi berita analisis dan liputan peristiwa yang kemudian disebarluaskan melalui akun media sosial mereka.
Pemerintah dan organisasi tertentu menyebarkan informasi resmi, kampanye publik dan atau narasi-narasi politik. Tidak kalah penting adalah kelompok kepentingan membuat konten yang menyerukan suatu perubahan mengkritisi, memprotes atau memobilisasi dukungan.
Selanjutnya platform menggunakan algoritma untuk menentukan konten mana yang akan ditampilkan kepada pengguna. Faktor-faktor interaksi (likes, comment, shares ) dan durasi tontonan akan mempengaruhi jangkauan konten. Algoritma seringkali menguntungkan konten yang memicu emosi tinggi atau kontroversial karena cenderung menarik banyak interaksi. Proses yang dilakukan algoritma akan menciptakan Filter Bubble dan Echo Chamber dimana seseorang hanya terpapar pada pandangan yang memperkuat keyakinan mereka. Hal ini tentunya merupakan kekuasaan algoritma dalam membentuk realitas yang dilihat oleh individu.
Bahwa relasi kuasa di media sosial ini menunjukkan kekuasaan di media sosial tersebar, tidak terpusat pada satu entitas. Meskipun pemerintah dan pemilik plaform (Algoritma mereka seperti Facebook: Algoritma Feed, Reels, Stories. Instagram Algoritma Feed, Reels Stories, Explore page. Google : youtube) memegang kendali infrastruktur dan regulasi. Namun kekuatan pengguna individu dan kolektif melalui produksi interaksi dan mobilisasi secara signifikan mempengaruhi arus informasi dan narasi yang mendominasi.
