Konten dari Pengguna

Kenapa Daun Talas Bikin Gatal, tapi Tetep Enak Dimakan? Ini Penjelasannya!

Agustiansyah Amanda

Agustiansyah Amanda

Alumni Universitas Airlangga-Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mahasiswa S2 Universitas Negeri Surabaya- Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustiansyah Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daun Talas. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Daun Talas. Shutterstock

Batang daun talas atau yang sering disebut godong lompong oleh masyarakat Jawa adalah bahan masakan yang punya dua “kepribadian”. Di satu sisi ia dikenal sangat lezat, gurih dan cocok untuk berbagai hidangan tradisional. Namun di sisi lain, lompong juga mendapat reputasi sebagai tanaman yang bisa membuat kulit gatal-gatal, panas, bahkan seperti “ditusuk jarum halus” ketika disentuh. Banyak orang yang penasaran: bagaimana bisa sesuatu yang membuat kulit tidak nyaman ternyata aman dan enak saat disantap?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam batang talas, serta bagaimana teknik memasak tradisional kita mengubah “musuh kulit” ini menjadi “sahabat lidah”.

Kenapa Batang Talas Menyebabkan Gatal?

Penyebab utama batang talas terasa gatal adalah kandungan kristal kalsium oksalat yang terdapat di dalam jaringan tanaman. Kristal ini bentuknya seperti jarum-jarum kecil yang tajam. Ketika kulit bersentuhan dengan getah talas, kristal itu menempel dan “menusuk” lapisan kulit bagian luar. Hasilnya adalah sensasi panas, perih dan gatal yang bisa bertahan beberapa menit hingga beberapa jam.

Kristal oksalat ini sebenarnya bukan sesuatu yang jahat. Bagi tanaman, kristal tersebut berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri, terutama agar tidak dimakan oleh hewan herbivora di alam. Dengan adanya jarum-jarum mikroskopis ini, bagian batang dan daun menjadi tidak nyaman dimakan dalam keadaan mentah. Tanaman pun jadi lebih aman dari ancaman hewan pemakan daun.

Namun sensasi gatal ini hanya berlaku ketika talas masih mentah atau belum diproses. Begitu dimasak dengan benar, sifat “menusuk” itu akan hilang.

Kalau Bisa Bikin Gatal, Kok Aman Dimakan?

Inilah bagian menariknya. Kristal kalsium oksalat bersifat tidak stabil ketika terkena panas tinggi, asam atau ketika melalui proses remasan dan perendaman. Dalam kondisi panas, misalnya ketika direbus atau dimasak dalam santan, kristal ini akan melunak dan pecah, sehingga tidak lagi tajam atau menusuk.

Begitu pula ketika lompong direndam dengan asam (seperti belimbing wuluh atau air jeruk nipis). Asam membantu memecah struktur oksalat sehingga getah yang menyebabkan gatal menjadi netral. Itulah sebabnya, meski mentahnya membuat kulit meradang, talas yang sudah diolah justru berubah menjadi makanan lezat yang sama sekali tidak menimbulkan gatal di lidah ataupun tenggorokan.

Sama seperti singkong pahit yang beracun tetapi aman setelah direbus, sifat gatal talas juga bisa hilang melalui “ilmu dapur” yang sudah diwariskan turun-temurun.

Kandungan Gizi Lompong

Di balik reputasinya sebagai tanaman “rewel”, batang talas memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Ia mengandung vitamin C, vitamin B6, antioksidan, serta mineral seperti kalium dan magnesium. Ditambah lagi teksturnya yang lembut saat dimasak membuatnya menjadi alternatif sayuran berserat yang murah dan mudah ditemukan. Tidak heran banyak keluarga di pedesaan menjadikan lompong sebagai menu harian.

Bagaimana Cara Mengolah Godong Lompong agar Tidak Gatal?

Masyarakat Jawa sudah punya berbagai cara tradisional untuk “menjinakkan” lompong. Proses ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tapi memang terbukti secara kimiawi mampu menghilangkan sifat gatalnya.

1. Meremas dengan Garam

Langkah pertama yang sering dilakukan adalah meremas batang talas yang sudah dipotong dengan garam kasar. Garam membantu menarik keluar lendir dan getah yang kaya oksalat. Saat diremas, batang talas akan mengeluarkan cairan berlendir. Cairan inilah yang sebenarnya menjadi biang gatal. Setelah diremas hingga layu, batang talas dibilas sampai bersih. Hasilnya, sebagian besar oksalat sudah terangkat.

2. Merendam dengan Bahan Asam

Beberapa daerah menggunakan belimbing wuluh, asam jawa, atau air perasan jeruk nipis untuk merendam batang talas. Keasaman bahan-bahan tersebut dapat menetralkan dan memecah kristal oksalat. Proses ini biasanya dilakukan sekitar 10–20 menit, lalu batang talas dicuci lagi. Setelah itu baru siap direbus atau dimasak.

3. Perebusan Dua Kali

Teknik lainnya adalah merebus lompong tanpa bumbu terlebih dahulu. Setelah air rebusan pertama dibuang, talas direbus kembali dengan air bersih. Pada perebusan pertama, kristal oksalat larut ke air dan terbuang. Pada perebusan kedua, rasa gatal akan hilang sepenuhnya.

4. Memasak dengan Santan atau Bahan Pelunak Oksalat

Dalam beberapa masakan tradisional, lompong dimasak bersama santan, ikan asin, atau tempe bosok. Bahan-bahan ini memiliki sifat kimia yang membantu menetralkan oksalat. Selain itu, santan juga membuat tekstur lompong lebih lembut dan menambah rasa gurih.

5. Menggunakan Sarung Tangan

Bagi yang kulitnya sensitif, disarankan menggunakan sarung tangan ketika memotong atau memeras lompong agar terhindar dari iritasi.

Kenapa Lompong Tetap Digemari?

Meski terkenal “gatal”, lompong tetap dicintai banyak orang. Rasanya gurih alami, teksturnya unik, empuk tapi tidak lembek dan aromanya khas ketika dimasak dengan bumbu tradisional. Lompong juga identik dengan hidangan rumahan, mengingatkan pada masa kecil dan masakan ibu atau nenek di desa. Banyak orang yang merasa bahwa menikmati sayur lompong adalah bentuk nostalgia sekaligus penghargaan pada kekayaan kuliner lokal.