Generasi Melek Finansial yang Terjebak Utang Digital

Mahasiswa aktif Program Studi S1 Manajemen di Universitas Katolik Santo Thomas Medan. Memiliki ketertarikan pada topik mamanejen bisnis, pemasaran digital, dan pengembangan diri.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Agustina Purnama Sari Hutabarat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemajuan teknologi keuangan telah mengubah cara masyarakat mengakses layanan finansial. Jika dahulu seseorang harus datang ke bank dan melalui berbagai proses administrasi untuk memperoleh kredit, kini fasilitas pinjaman dan cicilan dapat diakses hanya melalui telepon genggam. Salah satu bentuk inovasi yang berkembang pesat adalah layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai paylater.
Di satu sisi, layanan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan secara cepat dan praktis. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga melahirkan persoalan baru, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi pengguna paling aktif berbagai platform digital. Fenomena ini memunculkan sebuah paradoks menarik: semakin tinggi akses dan pengetahuan keuangan yang dimiliki seseorang, belum tentu semakin bijak pula perilaku keuangannya.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia telah mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin mudah mengakses berbagai produk dan layanan keuangan. Namun, pada saat yang sama, kesenjangan antara tingkat pemahaman dan tingkat penggunaan produk keuangan masih cukup besar. Artinya, masyarakat lebih cepat menggunakan layanan keuangan dibandingkan memahami risiko yang menyertainya.
Ketika Literasi Tidak Menjamin Perilaku Bijak
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa peningkatan literasi keuangan otomatis akan menghasilkan perilaku keuangan yang sehat. Sayangnya, kenyataan tidak selalu demikian. Banyak individu yang memahami konsep pengelolaan keuangan, mengenal risiko utang, bahkan mengetahui pentingnya perencanaan keuangan, tetapi tetap terjebak dalam keputusan finansial yang kurang rasional.
Fenomena ini terlihat jelas pada penggunaan layanan paylater. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemudahan pembayaran cicilan mendorong peningkatan minat berbelanja secara online. Fitur "bayar nanti" membuat konsumen merasa beban pengeluaran menjadi lebih ringan, padahal kewajiban pembayaran hanya bergeser ke waktu yang akan datang.
Dalam praktiknya, keputusan menggunakan paylater sering kali tidak didasarkan pada kebutuhan yang mendesak. Banyak transaksi dilakukan karena adanya diskon, promosi terbatas, cashback, atau tren konsumsi yang sedang berkembang. Kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh faktor psikologis dan sosial.
Perspektif ekonomi perilaku menjelaskan bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional dalam mengambil keputusan ekonomi. Emosi, lingkungan sosial, dan dorongan sesaat sering kali lebih dominan dibandingkan pertimbangan logis. Seseorang dapat memahami bahwa berutang untuk memenuhi keinginan konsumtif bukanlah keputusan yang bijak, tetapi tetap melakukannya karena tergoda oleh kemudahan yang ditawarkan platform digital.
Situasi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena fear of missing out (FOMO). Di era media sosial, seseorang tidak hanya membeli barang karena membutuhkan, tetapi juga karena ingin mengikuti tren yang sedang populer. Keinginan untuk terlihat relevan dalam lingkungan sosial membuat banyak orang melakukan pembelian yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Ketika kemampuan finansial tidak mencukupi, layanan paylater hadir sebagai solusi instan yang tampak aman dan tidak berisiko.
Padahal, utang yang terlihat kecil dapat berkembang menjadi beban yang besar apabila tidak dikelola dengan baik. Akumulasi cicilan dari berbagai platform berpotensi mengganggu kondisi keuangan pribadi, terutama bagi generasi muda yang sebagian besar belum memiliki pendapatan tetap.
Membangun Kontrol Diri di Era Kredit Instan
Karena itu, persoalan utama penggunaan kredit digital sebenarnya bukan sekadar rendahnya literasi keuangan, melainkan lemahnya pengendalian diri dalam menghadapi berbagai godaan konsumsi. Kemampuan mengelola keuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak seseorang mengetahui konsep finansial, tetapi juga oleh kemampuannya mengendalikan keputusan sehari-hari.
Saat ini berbagai aplikasi digital dirancang untuk membuat pengguna terus bertransaksi. Notifikasi promo, rekomendasi produk yang dipersonalisasi, program diskon berkala, hingga sistem cicilan instan merupakan strategi yang efektif untuk mendorong konsumsi. Dalam situasi seperti ini, kontrol diri menjadi benteng utama yang menentukan apakah seseorang akan menggunakan layanan keuangan secara bijak atau justru terjebak dalam perilaku kredit berisiko.
Oleh karena itu, pendidikan keuangan perlu mengalami perubahan pendekatan. Selama ini program literasi keuangan lebih banyak berfokus pada peningkatan pengetahuan mengenai tabungan, investasi, kredit, dan pengelolaan anggaran. Padahal tantangan terbesar generasi digital bukan lagi kurangnya informasi, melainkan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan keuangan harus mulai menekankan pentingnya pengendalian diri, kesadaran terhadap risiko perilaku konsumtif, serta kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami cara kerja produk keuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang lebih rasional ketika berhadapan dengan berbagai tawaran konsumsi digital.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi keuangan tidak dapat dihindari dan memang membawa banyak manfaat. Namun kemudahan akses kredit harus diimbangi dengan kedewasaan dalam mengelola keuangan. Sebab di era ketika utang dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, kemampuan menahan diri untuk tidak berutang secara berlebihan justru menjadi bentuk literasi keuangan yang paling penting.
