Konten dari Pengguna

Dampak Kuliah Online terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa

Agustina Wiji Pertiwi

Agustina Wiji Pertiwi

Mahasiswi Program studi S1 Bisnis Digital Institut Teknologi Telkom Purwokerto

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustina Wiji Pertiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi mental health  (sumber : https://images.app.goo.gl/nwTeEhaAdfgwEdHw9)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi mental health (sumber : https://images.app.goo.gl/nwTeEhaAdfgwEdHw9)

Dampak kuliah online bagi mahasiswa sangat dirasakan oleh mahasiswa termasuk saya sendiri. Semenjak pandemi COVID-19 yang menimpa Indonesia pada awal tahun 2020 tepatnya bulan Maret lalu menyebabkan banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti kehidupan sosial budaya, pendidikan, ekonomi, hingga sistem politik. Pemerintah pun menetapkan dan menerapkan kebijakan yaitu distancing sosial untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

Kebijakan tersebut seperti menjaga jarak satu sama lain, menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan. Dalam dunia pendidikan, kebijakan ini membuat sistem pendidikan di Indonesia mengubah kegiatan belajar mengajar termasuk perkuliahan yang awalnya dilakukan secara tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan aplikasi seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Classroom, dan sebagainya.

Perkuliahan yang dilakukan secara online atau daring tersebut bukan suatu hal yang mudah bagi saya, teman saya hingga dosen, kesulitan baru yang dialami dalam proses perkuliahan seperti kendala jaringan di setiap perangkat hp atau laptop, kuota internet yang kurang memadai, perkuliahan sendiri menurut saya kurang interaktif sehingga membuat mahasiswa merasa jenuh dan malas, penyerapan materi mata kuliah yang kurang baik, penilaian harian maupun ujian yang kurang berintegritas.

Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock

Hal tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk ke depannya agar mahasiswa dan dosen dapat beradaptasi dengan baik serta dapat menciptakan kegiatan perkuliahan yang efektif. Ini berdampak ke kesehatan mental mahasiswa yang harus diperhatikan dalam perkuliahan secara online.

Muncul rasa stres dan kecemasan yang dialami mahasiswa semakin meningkat ketika melakukan perkuliahan secara online karena berbagai faktor dan sebab. Mayoritas mahasiswa merasa kesehatan mental pribadinya semakin memburuk selama perkuliahan online termasuk saya sebagai mahasiswa baru sudah merasakan.

Apalagi jika ada tugas pada dasarnya sudah berat dan kami merasa bahwa tugas tersebut ada yang di luar batas kemampuan mahasiswa sendiri, sehingga tidak membantu menjaga mental kami sebagai mahasiswa, tetapi juga sebabkan perasaan stres tambahan. Ada juga hal lain penyebab yaitu terbatasnya ruang gerak mahasiswa dalam bersosialisasi dengan orang lain yang berdampak langsung pada kesehatan mental

Kesulitan yang kami alami sebagai mahasiswa saat perkuliahan online telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu faktor yang membuat tingkat stress dan kecemasan meningkat. Selain itu, kesepian dan rasa bosan juga mendorong timbulnya setres dan kecemasan. Terlebih, kebiasaan bertemu banyak orang di luar rumah terpaksa hilang sejak pandemi COVID-19.

Jika dilihat dari situasi dan keadaan mental mahasiswa sekarang yang menurun akibat perkuliahan online, maka harus ada upaya yang dilakukan supaya kesehatan mental mahasiswa tetap baik mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk pertama kali yaitu dengan membangun cara berpikir yang positif dalam menghadapi tantangan yang akan dihadapi serta percaya terhadap kemampuan diri sendiri.

Dikutip Pat Walker Medical Center, cara meminimalisasi gejala kecemasan akibat pandemi yaitu melalui perawatan pribadi meliputi perawatan fisik, emosional, dan spiritual. Bentuk lain perawatan diri yang dapat saya rekomendasikan buat semua orang adalah istirahat dengan cukup, sering untuk berolahraga, dan memenuhi kebutuhan tubuh dengan makanan dan minuman sehat.

Ilustrasi sekolah daring atau online. Foto: Shutter Stock

Saya mengutip dari sebuah karya yang berjudul “Menulis Di Kala Badai Covid-19” oleh Prof. Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M. Pd., dan Ibu Neka Erlyani, M. Psi menjelaskan bahwa manusia terlahir dalam bingkai yang disebut tabularasa yang dibentuk oleh lingkungan sosialnya dengan pola pemikiran atau mindset untuk menangkap informasi yang diterima ke dalam pikiran.

Maka dari itu dengan berpikir dan bertindak positif secara tidak sadar dapat memberikan stimulasi pada diri sendiri sehingga nantinya kita benar-benar mampu melakukan dan mengerjakan tugas tersebut dengan baik.

Namun apakah lingkungan sekitar kita sadar akan kesehatan mental? Nyatanya masih sedikit yang sadar akan kesehatan mental.Hal ini dikarenakan masih banyak diluar sana beranggapan seperti jika orang terganggu kesehatan mentalnya termasuk orang yang gila, masyarakat sekitar kita banyak yang masih menganggap kesehatan mental bukan hal yang penting, dan masalah kesehatan mental dianggap sebagai suatu kelemahan, sehingga seseorang yang mengalami kesehatan mental malu untuk mencari pertolongan.

Demikianlah opini dari saya yang dapat di garis bawahi bahwa dari topik ini diperlukan sosialisasi yang menyeluruh dan efektif agar masyarakat lebih aware mengenai kesehatan mental diri sendiri.

Yang dialami oleh diri sendiri ataupun individu di sekitarnya karena mengingat kesehatan mental perlu dijaga dengan baik agar orang dapat menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dan dapat secara produktif orang dapat menghadapi tantangan dalam kehidupan keseharian. Terutama bagi mahasiswa untuk sekarang ini yang rentan akan kesehatan mental yang mudah down dan stres.

Agustina Wiji Pertiwi, Mahasiswi S1 Bisnis Digital Institut Teknologi Telkom Purwokerto