Menilik Film “Atonement,” Ketika Penebusan Dosa Tak Bertemu Pengampunannya

Akun ini dibuat untuk mengunggah tulisan keperluan tugas mata kuliah selama saya menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kyla Yasmine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah sebuah penebusan dosa selalu berakhir dengan pengampunan? Atonement (2007) adalah sebuah film garapan Joe Wright yang akan menyediakan jawaban dari pertanyaan tersebut. Film ini diadaptasi dari novel karya Ian McEwan yang menggambarkan sebuah asumsi yang salah secara signifikan berubah menjadi mimpi buruk bagi orang lain. Sang sutradara berhasil menangkap emosi para tokohnya dengan baik dan memadukannya dengan visual yang memukau sehingga atmosfer kelam, merana, dan kerinduan yang mendalam dari film tersebut dapat ditangkap oleh penonton. Hingga akhir cerita, film tersebut berhasil menghantui penonton dengan pertanyaan yang sama, “Apakah sebuah penebusan dosa selalu berakhir dengan pengampunan?”
Di sebuah musim panas di Inggris tahun 1935 menjadi latar awal dari film Atonement. Briony Tallis melihat Cecilia, kakaknya, dan Robbie Turner bercengkrama di dekat air mancur, tetapi ia salah mengartikan kejadian tersebut sebagai sesuatu yang tak beradab sebab Robbie melihat Cecilia mengenakan pakaian yang basah kuyup. Robbie kemudian tanpa sengaja mengirimkan surat berisi candaan intim kepada Cecilia, yang karena rasa keingintahuannya, Briony sebagai pengantar surat membaca tulisan tersebut sebelum menyerahkannya kepada kakaknya.
Saat Robbie menemui Cecilia secara personal untuk meminta maaf, keduanya saling menyatakan cinta. Namun, dengan segala prasangkanya, Briony justru menafsirkan pertemuan itu sebagai pemaksaan yang Robbie lakukan terhadap Cecilia. Prasangka Briony menjadi semakin liar ketika ia melihat seorang lelaki menyerang saudaranya, Lola, pada saat makan malam. Briony langsung melayangkan tuduhan bersalah kepada Robbie dan bersaksi didepan polisi serta seluruh keluarganya. Akhirnya, Robbie mendekam di penjara sebelum akhirnya diberangkatkan untuk Perang Dunia II sebagai prajurit Inggris.
Cecilia meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang perawat di Balham karena kecewa dengan tuduhan palsu yang diberikan kepada Robbie, kekasihnya. Tak lama kemudian, Briony menyusul untuk bekerja di rumah sakit tempat Cecilia dulunya bertugas. Briony tidak pernah mendapatkan keberaniannya untuk meminta maaf sehingga ia menulis buku untuk mengenang semua ingatannya berjudul “Atonement.” Buku tersebut ia terbitkan di akhir hidupnya sebagai bentuk penebusan dosa yang tak pernah ia akui kepada Cecilia dan Robbie yang meninggal pada tahun 1940 dan tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali usai penantian panjang mereka.
Konflik yang muncul sepanjang film terasa semakin berat dan semakin intens memengaruhi emosi dari para tokohnya. Suasana perang yang mencekam dan penuh kesedihan menjadikan Robbie sebagai karakter yang ekspresif dan punya perubahan emosi tajam, sekaligus menunjukkan kerinduannya yang mendalam kepada kekasihnya. Sedangkan, Cecilia menjadi seorang wanita kuat yang masih mengemban kekecewaan besar terhadap nasib yang menimpanya dan Robbie.
Briony menua bersama bayang-bayang kesalahannya. Ia mengingat semua yang ia saksikan di masa lalunya dan selalu berharap memiliki kesempatan untuk mengakui kesalahannya di depan semua orang, terutama kakaknya. Namun, permainan mimik wajah yang apik oleh aktor pemerannya menunjukkan detail-detail kontras seperti tidak adanya ketulusan dalam pengakuan Briony membuat karakter tersebut menambah impresi geram penonton terhadap sang adik. Aktor pemeran Robbie Turner (James McAvoy) dan Cecilia Tallis (Keira Knightley) juga berhasil memukau penonton dengan akting yang mumpuni dan penuh penjiwaan, menjadikan karakter mereka hidup dan memorable.
Di akhir cerita, Briony bersaksi, “Dalam buku ini, aku beri Robbie dan Cecilia apa yang tak mereka dapat dalam hidup. Aku beri mereka kebahagiaan.” Pernyataan tersebut seperti sebuah klimaks yang mempermainkan perasaan penonton karena Briony hanya menciptakan akhir bahagia Robbie dan Cecilia semata-mata untuk “menjual” cerita karangannya.
Permainan warna menyenangkan yang digunakan oleh sang sutradara membuat setiap makna dari adegan film ini tersampaikan dengan utuh. Selain itu, visualisasi Inggris pada tahun 1930 hingga 1940 menjadi sangat nyata dan mendukung penuh imajinasi penonton. Konflik kelas sosial juga cukup menarik perhatian, mengingat kedua tokoh utama film ini berasal dari latar belakang yang berbeda.
Atonement tak hanya menyuguhkan cerita yang mendayu-dayu, melainkan juga memanjakan fantasi penonton melalui latar tempat dan musik latar (backsound) yang serasi. Film ini menyuguhkan cerita romansa yang kuat dan kontras dengan keadaan geopolitik yang serba muram dan sedih. Sebagai penutup, Atonement adalah sebuah film yang layak mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dari para pecinta film romansa-tragedi.
