"Overthinking Membunuhmu Perlahan, Tanpa Kamu Sadari"

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Ilmu Hadis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ahmad Addaelami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial media, overthinking atau kebiasaan berpikir berlebihan menjadi salah satu fenomena yang umum dialami banyak orang, terutama kalangan muda. Istilah ini merujuk pada kondisi dimana seseorang terus-menerus memikirkan sesuatu hal secara berlebihan hingga menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan bahkan stres berkepanjangan.
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, overthinking seringkali terjadi karna seseorang terlalu fokus pada kemungkinan terburuk dari suatu situasi. "Mereka sulit mematikan pikiran. Padahal, tidak semua hal perlu dianalisi terlalu lama," ujar Ratih dalam wawancaranya dengan Kompas (2022).
Namun, jika tidak dikendalikan, overthinking bisa berdampak pada kesehatan mental. Gejala bisa sulit tidur, sullit membuat keputusan, hingga merasa terjebak dalam pikiran sendiri. Sebuah laporan dari Word Health Organization (WHO) pada 2022 menunjukan bahwa gangguan kecemasan meningkat sebesar 25% pasca pandemi COVID-19 dan salah satu penyebabnya adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Untuk mengatasi overthinking, beberpa hal yang bisa dilakukan antara lain:
Menulis jurnal untuk mengekspresikan pikiran
Melakukan mindfulness atau meditasi singkat
Berbicara dengan teman atau tenaga profesional
Membatasi paparan media sosial
Intinya, kita tidak perlu mengusir overthinking sepenuhnya, melainkan belajar mengelolanya. Ketika mampu di kendalikan, Pikiran yang sibuk itu bisa menjadi alat untuk tumbuh dan mengenali diri lebih dalam.
Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu termasuk orang yang sering overthinking? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar!
#Overthinking #KesehatanMental #GenerasiZ #SelfAwareness #PsikologiPopuler
