Keresahan Para Mualaf

Cendekiawan Muslim
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Afif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada dasarnya silaturahmi dan ukhuwah merupakan mata pena dalam menuliskan tinta kasih sayang dengan berbagai konteks. Salah satunya pada narasi ukhuwah. Ukhuwah secara hirarki terdapat tiga klasifikasi yaitu; ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan insaniyah. Barangkali dua poin terakhir sesuai dengan realitas dari para komunitas mualaf Indonesia. Mereka menginisiasi beberapa kegiatan yang intinya ada pada realitas ukhuwah wathaniyah dan insaniyah. Namun, nilai sisi kemuliaan itu kadang disalah artikan dengan gerakan yang di-inisiasi. Ini terlihat dari beberapa kegiatan yang tidak hanya membahas redaksional Kitab Injil yang notabene merupakan pedoman para mualaf sebelumnya.
Justru, para mualaf disinggung oleh Allah dalam dalam surat Al Anfal ayat 63:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana."
Erat kaitan redaksi mualaf dengan kasih sayang. Pada tafsir yang ditulis oleh Kemenag RI dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa nilai persatuan dalam bingkai kasih sayang berada pada diri seorang mualaf yang notabene telah masuk islam. Mereka tidak perlu memperdulikan segala sesuatu yang dapat memporak-porandakan kasih sayang melalui untaian fitnah dan sebagainya. Di sini kita dapat memahami kompatibilitas antara mualaf dengan kasih sayang.
Sama halnya apa yang telah ada dalam tafsir Al Anfal ayat 63, beberapa komunitas mualaf telah membuat kajian singkat tentang simpang siurnya redaksi Injil dengan beberapa narasi yang dikurangi dan ditambah. Hal itu menimbulkan multitafsir di antara kalangan antar umat beragama, kok bisanya para mualaf tersebut berbuat demikian halnya untuk mengklarifikasi apa yang telah mereka temukan sebagai ‘ilat masuk ke agama islam. Dalam satu kajiannya Ust. Ahmad Kainama dan Ariesto seorang kristolog mualaf membahas tentang multi tafsirnya Goa Hira dalam Yesaya 29;12. Redaksi yang ada sekarang menggunakan bahasa Yunani dengan narasi Χιρά . Arti dalam Yesaya 29;12 yang ditulis dengan bahasa Greek sama dengan sebutan Hira dalam bahasa Greek aslinya. Namun, pada redaksi yang ada dalam Yesaya 29;12 tidak menyebutkan apa itu hira dan ada siapa serta apa. Seakan-akan ada beberapa redaksi yang hilang. Kuat dugaan ada kesengajaan atau tidaknya masih debatable. Hal tersebut disokong oleh beberapa redaksi serupa dari beberapa literatur manuskrip berbahasa Greek dengan persis seperti apa yang ada dalam Yesaya 29;12. Terusan dari redaksinya menyatakan ada sosok orang dalam Hira sedang melihat sebuah tulisan namun tidak dapat membacanya. Melalui kesimpulan singkatnya bahwa para kristolog mualaf tersebut condong dengan pemahaman Nabi Muhammad SAW yang sedang menerima wahyu di goa Hira dimaksud dalam pemahaman itu. Wallahu A’lam.
Terlepas dari semua itu, perlu kita cermati bahwa tidak ada sensifitas antar golongan yang membuat para kristolog mualaf menyampaikan hal ihwal tersebut. Hanya rasa ingin tahu yang mendalam mengapa ada indikasi semacam itu. Di lain pihak, para kolega mereka sebelum mualaf meyakini dengan gamblang tanpa memastikan secara proporsional melalui kajian nalar transformative untuk justifikasi.
Tentu jelas bahwa mualaf dengan kasih sayang merupakan dua rangkaian yang sama dan tidak mungkin terpisahkan. Tentu saja yang setahu penulis bahwa mualaf membuat semacam komunitas tidak untuk bertujuan mendiskreditkan agama lama mereka dengan yang baru. Orientasi mereka jelas bahwa mualaf masih butuh perhatian dari semua pihak. Bahkan dalam kajian fikih para mualaf juga tetap mendapatkan bagian harta zakat atau lebih familiar disebut mustahiq zakat. Perhatian tersebut tidak menutup pintu dari kalangan mualaf itu sendiri.
Jadi, jelaslah bahwa unsur ukhuwah wathaniyah dan insaniyah menjadi tujuan para kawan mualaf sebagai bentuk rasa kasih sayang diantara mereka. Wa Allafa baina Qulubihim.
Ahmad Afif
Komisi KUI-MUI Pusat 2020-2025
dan
Ahmad Ihsan
Kristolog Mualaf
