Konten dari Pengguna

Riba: Saat Keinginan Mengalahkan Akal dan Prinsip

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Al Muta'ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi riba. Foto: Pexels/RDNE Stock Project
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi riba. Foto: Pexels/RDNE Stock Project

Di zaman sekarang, segalanya bisa dicicil. Dari HP keluaran terbaru, motor, mobil hingga peralatan rumah tangga. Satu klik di aplikasi, semua langsung di tangan. Tapi sayangnya, yang nggak kelihatan sering kali jadi yang paling berbahaya. Salah satunya adalah riba.

Riba hari ini bukan lagi soal “uang rentenir di bawah meja”. Ia menyamar dalam bentuk yang lebih rapi: bunga cicilan, denda keterlambatan, dan sistem pinjaman digital yang licin dan nyaris tak terlihat. Dalam waktu singkat, ia menjebak jutaan orang bukan hanya dari kalangan bawah, tapi juga kelas menengah yang ingin “terlihat mampu”.

Pinjol, Paylater, dan Riba Gaya Baru

Siapa sangka, fitur yang katanya “memudahkan” justru bikin banyak orang terperosok. Pinjaman online yang awalnya tampak ringan, ternyata punya bunga yang bisa dua sampai tiga kali lipat dari nominal pinjaman. Paylater yang katanya fleksibel, ujung-ujungnya menumpuk tagihan sampai akhir bulan terasa seperti "neraka kecil".

Fenomena ini nyata. Di media sosial, tak sedikit cerita orang yang kehilangan ketenangan karena utang. Dikejar-kejar penagih, dijemput di kantor, bahkan ada yang sampai kehilangan pekerjaan karena stres berlarut. Semua bermula dari satu hal yang sering disepelekan, riba.

Mengapa Riba Diharamkan?

Riba bukan sekadar larangan agama. Ia adalah bentuk ketidakadilan yang dibungkus kemudahan. Dalam transaksi riba, pihak yang memberi pinjaman selalu untung, sementara yang meminjam bisa terjerat selamanya. Dalam ajaran Islam, riba diibaratkan sebagai bentuk eksploitasi ekonomi yang halus tapi sangat merusak.

Allah menyebutkan dengan tegas dalam Al-Qur’an, bahwa riba dan keberkahan tidak akan pernah bisa berdampingan. Harta yang tumbuh dari riba terlihat banyak, tapi sebenarnya rapuh. Dan kalau kita jujur melihat sekitar, hal itu terbukti.

Jalan Lain: Ekonomi Tanpa Riba

Menariknya, tren sekarang justru memperlihatkan kebangkitan gaya hidup keuangan yang lebih sadar. Makin banyak orang muda yang memilih produk keuangan syariah. Pegadaian syariah, bank tanpa bunga, hingga koperasi syariah mulai tumbuh di berbagai kota. Bahkan di media sosial, kita bisa temukan komunitas-komunitas yang saling mengingatkan pentingnya hidup bebas riba.

Mereka sadar, bahwa hidup sederhana tapi tenang, lebih nikmat daripada hidup terlihat mewah tapi digerogoti utang.

Bukan Soal Tak Mampu, Tapi Soal Pilihan

Di tengah dunia yang serba instan, kita diuji apakah mau ikut arus konsumtif yang ditopang oleh riba, atau belajar menahan diri dan hidup lebih jujur dengan kemampuan sendiri?

Menolak riba memang tidak selalu mudah. Tapi kalau kita sadar bahwa setiap keputusan finansial punya dampak jangka panjang, baik secara ekonomi maupun spiritual, maka kita tahu, ini bukan cuma soal uang. Ini soal ketenangan dalam hidup.

Jadi, sebelum klik “bayar nanti” atau “ajukan pinjaman”, coba tanya diri sendiri "yang kamu bayar nanti itu hanya uang atau juga ketenanganmu?"

Ahmad Al Muta'ali, mahasiswa sarjana Ekonomi Syari'ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.