Tapera: Bukan Solusi Manajemen Perumahan Karyawan, Malah Membebani Perusahaan

Ahmad Arsyil Azim
Mahasiswa S-1 Fakultas Ekonomi Bisnis, dengan jurusan Manajemen, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Kegiatan yang dilakukan pada saat ini Belajar, kuliah, main games. dan hobi saya bermain badminton
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 7:34 WIB
·
waktu baca 10 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Arsyil Azim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Logo Tapera. Foto : UMSU
zoom-in-whitePerbesar
Logo Tapera. Foto : UMSU
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Masalah keterjangkauan perumahan bagi pekerja di Indonesia telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai upaya untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah meluncurkan program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) pada tahun 2022. Program ini bertujuan untuk membantu pekerja dalam memiliki rumah yang layak dengan mewajibkan pekerja dan perusahaan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka sebagai tabungan khusus untuk pembelian rumah.
ADVERTISEMENT
Tapera diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan backlog perumahan yang diperkirakan mencapai 7,6 juta unit pada tahun 2024. Dengan adanya program ini, pemerintah berharap bahwa pekerja dapat mengakses kredit perumahan dengan lebih mudah dan terjangkau, sehingga meningkatkan kepemilikan rumah di kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Tapera Bukan Solusi Manajemen Perumahan Karyawan, Tetapi Justru Membebani Perusahaan

Meskipun tujuan program Tapera mulia, terdapat kekhawatiran bahwa pelaksanaannya justru akan memberikan beban berat bagi perusahaan dan menjadi penghambat dalam manajemen perumahan karyawan yang efektif. Alih-alih menjadi solusi, Tapera berpotensi menciptakan masalah baru bagi perusahaan, seperti peningkatan biaya operasional, penurunan daya saing, dan risiko kehilangan talenta karyawan.
Dalam artikel ini, kami akan mengeksplorasi berbagai tantangan dan dampak negatif yang mungkin timbul dari pelaksanaan program Tapera bagi perusahaan. Kami akan menganalisis beban finansial, masalah regulasi, efektivitas program dalam memenuhi kebutuhan perumahan karyawan, serta dampaknya terhadap kebijakan ketenagakerjaan perusahaan. Dengan demikian, kami berargumen bahwa Tapera bukan solusi yang tepat dan justru membebani perusahaan dalam mengelola permasalahan perumahan karyawan.
ADVERTISEMENT

Kewajiban Kontribusi Perusahaan dalam Program Tapera

Salah satu aspek krusial dari program Tapera yang menjadi beban bagi perusahaan adalah kewajiban untuk berkontribusi secara finansial. Berdasarkan peraturan yang ditetapkan, perusahaan harus menyisihkan sebagian dari gaji karyawan untuk dibayarkan ke dalam tabungan Tapera. Besaran kontribusi ini dapat mencapai hingga 3,5% dari gaji karyawan, yang harus ditanggung bersama oleh perusahaan dan karyawan.
Untuk perusahaan dengan jumlah karyawan yang besar, kontribusi ini dapat menjadi beban keuangan yang sangat besar. Sebagai contoh, perusahaan dengan 1.000 karyawan dan rata-rata gaji Rp5.000.000 per bulan, akan diharuskan membayar sekitar Rp175.000.000 setiap bulan sebagai kontribusi Tapera. Angka ini belum termasuk kontribusi dari karyawan sendiri.

Dampak Kebijakan Tapera pada Biaya Operasional dan Keuntungan Perusahaan

labour. foto : Unspplash
Kewajiban kontribusi Tapera akan secara langsung meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama dalam pos pengeluaran untuk gaji dan tunjangan karyawan. Peningkatan biaya ini dapat berdampak signifikan pada keuntungan perusahaan, terutama bagi perusahaan-perusahaan dengan margin keuntungan yang tipis atau industri yang sangat kompetitif.
ADVERTISEMENT
Sebagai contoh, jika perusahaan memiliki keuntungan bersih sebesar 10% dari pendapatan, maka kontribusi Tapera sebesar 3,5% dari total gaji karyawan dapat mengurangi keuntungan bersih hingga 35%. Angka ini dapat menjadi lebih besar lagi untuk perusahaan dengan jumlah karyawan yang lebih besar atau industri dengan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi.

Risiko Penurunan Daya Saing dan Investasi Perusahaan dari kebijakan Tapera

Peningkatan biaya operasional akibat kontribusi Tapera dapat berdampak pada daya saing perusahaan, baik di pasar domestik maupun global. Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di negara-negara tanpa program serupa akan memiliki keunggulan biaya yang signifikan, sehingga dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan perusahaan di Indonesia.
Selain itu, beban finansial dari Tapera juga dapat menghambat investasi perusahaan dalam hal pengembangan produk, penelitian dan inovasi, serta ekspansi bisnis. Sebagian dana yang seharusnya dapat dialokasikan untuk investasi tersebut harus digunakan untuk membayar kontribusi Tapera, sehingga mengurangi kemampuan perusahaan untuk tumbuh dan bersaing di pasar global.
ADVERTISEMENT
Dalam jangka panjang, situasi ini dapat memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya dengan cara yang kurang menguntungkan, seperti mengurangi jumlah karyawan, memangkas tunjangan, atau bahkan merelokasi operasi bisnis ke negara lain dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah. Hal ini tentunya akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia dan kesejahteraan para pekerja.

Masalah Regulasi dan Implementasi : Ketidakjelasan Regulasi dan Kebijakan Pelaksanaan Tapera

Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program Tapera adalah ketidakjelasan regulasi dan kebijakan yang mengaturnya. Meskipun program ini telah dicanangkan sejak tahun 2022, masih terdapat banyak pertanyaan dan kekaburan dalam hal peraturan pelaksanaan, mekanisme kontribusi, dan pengelolaan dana Tapera.
Ketidakjelasan ini menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan dalam mempersiapkan dan menerapkan program Tapera. Perusahaan kesulitan untuk merencanakan anggaran dan strategi yang tepat karena kurangnya panduan yang jelas dari pemerintah. Situasi ini dapat memicu kebingungan, kesalahpahaman, dan bahkan potensi sengketa hukum di kemudian hari.
ADVERTISEMENT

Tantangan dalam Administrasi dan Pengelolaan Tapera

Selain masalah regulasi, pelaksanaan program Tapera juga menghadapi tantangan dalam hal administrasi dan pengelolaan dana. Perusahaan harus membangun sistem dan infrastruktur baru untuk menghitung, memotong, dan menyetor kontribusi Tapera secara akurat dan tepat waktu. Hal ini tentunya membutuhkan investasi dalam sumber daya manusia, pelatihan, dan sistem teknologi informasi yang memadai.
Di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan pengelolaan dana Tapera yang efisien, transparan, dan akuntabel. Terdapat kekhawatiran bahwa kompleksitas administrasi dan jumlah dana yang besar dapat membuka peluang untuk penyalahgunaan atau korupsi jika tidak dikelola dengan baik.

Potensi Penyalahgunaan Dana dan Korupsi dari kebijakan tapera

cicil rumah. foto : Kaltim Post
Salah satu keprihatinan utama terkait program Tapera adalah potensi penyalahgunaan dana dan korupsi. Program ini akan menghimpun dana dalam jumlah besar dari kontribusi perusahaan dan pekerja, yang rentan terhadap penyelewengan jika tidak ada pengawasan dan tata kelola yang ketat.
ADVERTISEMENT
Pengalaman dari program-program sejenis di Indonesia, seperti dana pensiun atau asuransi kesehatan, telah menunjukkan adanya kasus-kasus penyalahgunaan dana dan korupsi di masa lalu. Hal ini mengundang keraguan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola dana Tapera secara transparan dan akuntabel.
Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa dana Tapera dapat disalahgunakan untuk kepentingan politik atau proyek-proyek yang tidak terkait dengan perumahan rakyat. Hal ini tentunya akan menghilangkan tujuan utama program Tapera dan merugikan kepentingan pekerja dan perusahaan yang telah berkontribusi.

Analisis Kebutuhan Perumahan Karyawan dan Kesesuaian dengan Tapera

rumah Dan KAryawan. foto : Unsplash
Meskipun program Tapera dirancang dengan tujuan mulia untuk membantu pekerja memiliki rumah yang layak, terdapat pertanyaan mendasar tentang sejauh mana program ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan perumahan karyawan. Analisis mendalam terhadap preferensi, daya beli, dan kondisi perumahan karyawan sangat penting untuk menilai efektivitas Tapera.
ADVERTISEMENT
Pertama, perlu diperhatikan bahwa kebutuhan perumahan karyawan sangat beragam, tergantung pada lokasi kerja, status sosial-ekonomi, dan gaya hidup mereka. Sebagian karyawan mungkin lebih memilih untuk tinggal dekat dengan tempat kerja, sementara yang lain lebih menginginkan akses ke fasilitas pendidikan atau hiburan yang memadai. Tapera harus dapat mengakomodasi kebutuhan yang beragam ini agar benar-benar efektif.
Selain itu, daya beli karyawan juga menjadi faktor penting. Meskipun Tapera dimaksudkan untuk membuat perumahan lebih terjangkau, masih perlu dipertimbangkan apakah harga rumah yang ditawarkan sesuai dengan kemampuan finansial karyawan, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah atau memiliki tanggungan keluarga besar.

Pertanyaan mengenai Aksesibilitas dan Kualitas Perumahan yang Ditawarkan

Bahkan jika program Tapera berhasil menyediakan perumahan dengan harga yang terjangkau, masalah lain yang perlu dipertimbangkan adalah aksesibilitas dan kualitas perumahan yang ditawarkan. Lokasi perumahan yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi atau fasilitas umum dapat mengurangi minat karyawan untuk berpartisipasi dalam program ini.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, jika kualitas bangunan atau fasilitas pendukung tidak memadai, seperti kurangnya akses ke transportasi umum, sekolah, atau layanan kesehatan, maka hal ini juga dapat mengurangi daya tarik program Tapera bagi karyawan. Perumahan yang dibangun harus memenuhi standar kualitas dan kenyamanan yang layak agar benar-benar dapat meningkatkan kualitas hidup karyawan.

Alternatif Solusi Lain yang Lebih Efektif dibanding tapera

Mengingat berbagai tantangan yang disebutkan di atas, perlu dipertimbangkan alternatif solusi lain yang mungkin lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan perumahan karyawan. Salah satu opsi yang dapat dieksplorasi adalah program kepemilikan rumah karyawan (employee home ownership program) yang dikelola secara mandiri oleh perusahaan.
Dalam program seperti itu, perusahaan dapat bekerja sama dengan pengembang properti untuk menyediakan perumahan khusus bagi karyawan dengan harga yang terjangkau dan lokasi yang strategis. Perusahaan dapat memberikan subsidi atau skema cicilan yang lebih fleksibel kepada karyawan, sehingga mereka dapat memiliki rumah dengan lebih mudah.
ADVERTISEMENT
Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah bantuan perumahan langsung, di mana perusahaan menyediakan fasilitas perumahan bagi karyawan sebagai bagian dari paket tunjangan. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun kompleks perumahan karyawan atau menyewa unit-unit hunian untuk disewakan kepada karyawan dengan biaya yang terjangkau.
Solusi-solusi alternatif ini memungkinkan perusahaan untuk memiliki kendali yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan perumahan karyawan mereka, tanpa harus bergantung pada program pemerintah yang mungkin kurang fleksibel atau tidak sepenuhnya sesuai dengan preferensi dan kemampuan karyawan.

Dampak pada Kebijakan Ketenagakerjaan : Potensi Penurunan Daya Tarik bagi Calon Karyawan

karyawan depresi karena taperea. foto : Unsplash
Salah satu dampak signifikan dari program Tapera bagi perusahaan adalah potensi penurunan daya tarik bagi calon karyawan, terutama bagi talenta-talenta terbaik di pasar tenaga kerja. Kewajiban untuk berkontribusi pada Tapera dapat dianggap sebagai beban tambahan bagi calon karyawan, yang dapat mempengaruhi keputusan mereka dalam memilih tempat bekerja.
ADVERTISEMENT
Bagi calon karyawan yang memiliki banyak pilihan, mereka mungkin akan lebih tertarik pada perusahaan yang tidak mengikuti program Tapera atau menawarkan paket kompensasi yang lebih menguntungkan. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan kehilangan kesempatan untuk merekrut talenta-talenta terbaik dan menempatkan mereka dalam posisi yang kurang kompetitif di pasar tenaga kerja.
Selain itu, program Tapera juga dapat menjadi faktor penghambat bagi perusahaan dalam menarik minat calon karyawan dari luar negeri atau ekspatriat. Bagi mereka yang terbiasa dengan sistem kompensasi dan tunjangan di negara lain, kewajiban untuk berkontribusi pada Tapera mungkin dianggap sebagai sesuatu yang asing dan kurang menarik.

Risiko Pemutusan Hubungan Kerja atau Relokasi Bisnis

ADVERTISEMENT
Dampak lain dari program Tapera pada kebijakan ketenagakerjaan adalah risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) atau relokasi bisnis ke negara lain. Bagi perusahaan yang menghadapi tekanan finansial akibat beban kontribusi Tapera, salah satu opsi yang mungkin dipertimbangkan adalah pengurangan jumlah karyawan atau bahkan merelokasi operasi bisnis ke negara lain dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
Skenario ini tentunya akan sangat merugikan bagi karyawan yang terkena PHK, serta berdampak negatif pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, relokasi bisnis ke negara lain juga dapat menghambat pertumbuhan investasi asing di Indonesia dan memperburuk persepsi negara sebagai tujuan investasi yang menarik.

Kebutuhan untuk Merevisi Kebijakan Ketenagakerjaan yang Lebih Kompetitif

Untuk mengatasi dampak negatif dari program Tapera pada kebijakan ketenagakerjaan, perusahaan mungkin perlu merevisi kebijakan mereka agar lebih kompetitif dan menarik bagi calon karyawan maupun karyawan existing. Hal ini dapat dilakukan dengan menawarkan paket kompensasi dan tunjangan yang lebih menguntungkan, seperti gaji yang lebih tinggi, program pensiun yang lebih baik, atau fasilitas lainnya yang dapat mengimbangi beban kontribusi Tapera.
ADVERTISEMENT
Namun, strategi ini tentunya akan menambah beban biaya bagi perusahaan dan dapat mengurangi daya saing mereka di pasar global. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, asosiasi pengusaha, dan serikat pekerja untuk mencari solusi yang adil dan menguntungkan bagi semua pihak.
Selain itu, perusahaan juga perlu mempertimbangkan untuk mengoptimalkan kebijakan dan praktik manajemen sumber daya manusia mereka, seperti pelatihan dan pengembangan karyawan, program kesejahteraan, serta budaya organisasi yang inklusif dan mendukung. Dengan demikian, perusahaan dapat mempertahankan talenta-talenta terbaik dan menjaga daya saing mereka di pasar tenaga kerja.
Sebagai kesimpulan Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang diluncurkan pemerintah pada tahun 2022 bertujuan untuk membantu pekerja memiliki rumah yang layak dengan mewajibkan perusahaan dan pekerja untuk berkontribusi. Namun, pelaksanaan program ini justru berpotensi memberikan beban berat bagi perusahaan melalui peningkatan biaya operasional, penurunan daya saing, risiko kehilangan talenta, masalah regulasi, tantangan administrasi, dan potensi penyalahgunaan dana. Selain itu, program Tapera juga dipertanyakan efektivitasnya dalam memenuhi kebutuhan perumahan karyawan yang beragam dan terjangkau. Dampak lain yang signifikan adalah potensi penurunan daya tarik bagi calon karyawan, risiko PHK atau relokasi bisnis, serta kebutuhan untuk merevisi kebijakan ketenagakerjaan agar lebih kompetitif. Oleh karena itu, artikel ini berargumen bahwa Tapera bukan solusi yang tepat dan justru membebani perusahaan dalam mengelola permasalahan perumahan karyawan.
ADVERTISEMENT

Daftar Bacaan

Mengenal Tapera: Program Tabungan Perumahan rakyat Indonesia (2024) Blog Nusawork. Available at: https://nusawork.com/blog/2024/06/mengenal-tapera-tabungan-perumahan-rakyat/ (Accessed: 11 June 2024).