Mengapa Sepuluh Windu Indonesia?

Ketua Komisi II DPR RI, Waketum DPP Partai Golkar, Anggota DPR RI, Founder Sinergy for Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dr H Ahmad Doli Kurnia SSi, MT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Dr Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Founder Sinergy for Indonesia
Menjelang Ramadan tahun ini, beberapa musisi mengadakan “konser” di Auditorium RRI, Jakarta. Di antaranya Pay Burman, musisi senior Indonesia, Dul Jaelani, Dimas Senopati, J-Rocks, Nowela, dan masih banyak nama lain. Mereka tidak sedang membawakan lagu masing-masing, melainkan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan karya lain bertema nasionalisme. Selaku produser dan salah satu pencipta lagu, penulis memberikan apresiasi atas dukungan para artis dan musisi pada proyek ini. Pasalnya, itu menunjukkan bahwa para pesohor juga memiliki rasa cinta tanah air dan ingin melakukan sesuatu.
Perihal niat untuk “mengampanyekan” lagu-lagu perjuangan di masa kini, berawal dari fenomena di sekitar kita yang telah berubah. Sebagaimana kita tahu, di tengah gempuran digitalisasi, terjadi juga penetrasi budaya luar yang tidak mungkin kita bendung—sebagai konsekuensi dari keterbukaan informasi yang kita lakukan. Maka satu-satunya jalan adalah memanfaatkan platform-platform yang ada dan mengisinya dengan karya-karya nasionalistik, agar bisa mengimbangi penetrasi K-Pop dan lagu-lagu Barat. Meski begitu, bila kita telisik lebih dalam lagi, fenomena ini telah terjadi jauh sebelumnya. Bahkan sejak awal reformasi, saat dimana negara ini sedang mengalami transformasi dari rezim otoriter ke demokrasi.
Pengalaman personal belasan tahun lalu, saat memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), wadah organisasi pemuda berskala nasional, medio 2010-an. Saat itu penulis terkejut sekaligus gelisah melihat fenomena yang “menyedihkan” ketika sejumlah media melaporkan ada pejabat, mahasiswa, bahkan siswa di sekolah yang tidak hafal sila-sila dalam Pancasila. Padahal itu merupakan pengetahuan basic sebelum kita bicara lebih jauh mengenai nilai kebangsaan, nasionalisme bahkan geopolitik. Dari hasil diskusi dengan berbagai kalangan, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah terjadinya perubahan besar dalam waktu cepat—Reformasi 1998—yang mengakibatkan perubahan kolektif dalam memaknai semangat kebangsaan.
Sayangnya, redefinisi baru itu tidak proporsional, dimana nilai-nilai kebangsaan dan simbol-simbol perjuangan dicampuradukkan dengan pemerintahan masa lalu. Akibatnya, nilai-nilai fundamental dan sejarah bangsa dilihat secara gebyah uyah dikaitkan dengan rejim lama. Termasuk ekspresi cinta tanah air yang dianggap usang. Padahal seharusnya kita memisahkan antara rezim atau penguasa yang anti-demokrasi dari nilai kebangsaan sebagai identitas bersama. Sayangnya, kita sempat gagal mengelola hal tersebut, sehingga semua yang dianggap masa lalu dihancurkan. Oleh karenanya, dibutuhkan pendekatan baru untuk melakukan “dakwah” kebangsaan, seiring perubahan zaman dan perilaku manusia di era kini.
Pendekatan Baru
Pendekatan lama “kampanye” cinta bangsa tidak lagi efektif, mengingat secara sosiologis juga terjadi perubahan di masyarakat. Dibutuhkan dakwah nasionalisme dengan gaya baru yang relate ke milenial dan Gen Z. Salah satunya melalui musik, yang sejauh ini menjadi bahasa universal yang diterima semua kalangan, semua generasi. Musik yang ditawarkan para musisi di atas juga harus sesuai dengan tuntutan kekinian, tidak lagi menggunakan pendekatan lama. Melainkan mengikuti genre kontemporer yang dekat dengan kalangan milenial dan Gen Z. Detailnya, lagu-lagu kebangsaan populer yang selama ini dinyanyikan anak-anak di bangku sekolah dapat diaransemen ulang dalam balutan citara-rasa baru yang bernuansa rock, ska, jazz, bahkan reggae.
Yang terpenting, maknanya tidak hilang, yaitu nilai cinta bangsa terus diperkuat, sementara jenis musiknya menyesuaikan dengan tren yang ada. Bersama Pay Burman, seorang musisi senior Indonesia, penulis sejak 2019 di bawah bendera Sinergy for Indonesia (SFI) berkolaborasi dengan Indonesia Care, yang diinisiasi oleh Pay. Pada kurun itu, 2019–2021, lahirlah Nyanyian Rumah Indonesia yang berisi sembilan lagu, baik lagu nasional klasik maupun lagu baru.
Sentuhan aransemen yang baru di lagu-lagu nasional itu ternyata mendapat apresiasi masyarakat, yang terlihat dari views di sejumlah platform media sosial. Melanjutkan kesuksesan album pertama, pada 2023, kami kembali menuntaskan Nyanyian Anak Negeri, Pusaka Nusantara, album berisi 9 lagu, baik lagu nasional maupun lagu baru, yang hadir dengan sentuhan berbeda. Saat itu juga menghadirkan penyanyi dan musisi muda seperti Dul Jaelani dan Shanna Shannon. Terbaru, pada rangkaian HUT Kemerdekaan RI ke-80 lalu, kami merilis Album Ketiga, bertajuk Sepuluh Windu Indonesia.
Project kali ini hadir dengan kejutan baru, tidak hanya dikemas dalam format album musik, tetapi juga menyajikan video dokumenter yang memvisualkan proses produksi secara interaktif, egaliter dan aktual dalam format Cinematic Dokudrama. Termasuk konser di RRI tersebut, yang berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama penyedia platform musik digital. Lalu mengapa sepuluh windu? Di sini menariknya, karena kita ingin menunjukkan kekayaan bangsa ini. Delapan puluh tahun tidak hanya bisa dimaknai sebagai delapan dekade, melainkan juga sepuluh windu.
Anak-anak muda saat ini sepertinya kurang akrab dengan kata windu. Jadi, melalui album ini, juga menjadi sarana untuk mensosialisasikan kekayaan diksi dalam bahasa Indonesia. Delapan lagu yang akan mengisi Sepuluh Windu Indonesia, di antaranya dua lagu nasional rearansemen, yaitu Ibu Pertiwi dan Satu Nusa Satu Bangsa. Sementara enam lagu kebangsaan baru ciptaan penulis dan Pay, diantaranya Raja Ampat, Indonesia Juara, dan 80 Kali Merdeka. Sementara video dokumenter produksi album dikemas menjadi 3 seri, mulai dari proses pra-rekaman, produksi rekaman, dan pasca-rekaman.
Tidak “Jadul” Lagi
Setiap episode akan menjelaskan tahapan proses dalam produksi album, mulai dari awal koordinasi persiapan kreatif dengan Pay selaku produser dan komposer, koordinasi dengan artis-artis pendukung, proses teknis produksi rekaman hingga selesai. Semua komunikasi ini akan dibalut dengan diskusi tentang budaya, sejarah dan kebangsaan. Alhamdulillah, meski lagu-lagu kebangsaan kerap dianggap “jadul” dan tidak memiliki nilai jual, bergabungnya beberapa entitas bisnis di belakang album tersebut menunjukkan bahwa ternyata bila dikelola secara profesional, album perjuangan dan kebangsaan juga memiliki nilai jual di market.
Dan auditorium RRI menjadi saksi bagaimana market mechanism itu berputar. Lengkingan suara Dimas Senopati berpadu dengan atraktifnya gaya panggung J-Rock membawakan lagu kebangsaan. Nowela dari Papua juga menawarkan standar baru dalam membawakan album musik perjuangan. Sementara Dul Jaelani, yang selalu sopan di depan siapa pun, menunjukkan bahwa anak-anak masa depan tidak kehilangan jati diri mereka.
Lebih jauh, musik menjadi pilihan untuk memperkuat nasionalisme karena mampu membangkitkan emosi kolektif dan membentuk identitas bersama. Melalui melodi, lirik, dan simbol budaya, musik menanamkan rasa memiliki terhadap bangsa serta mempererat solidaritas masyarakat. Lagu kebangsaan seperti “Indonesia Raya” atau lagu perjuangan seperti “Halo-Halo Bandung” dan “Bagimu Negeri” menjadi media yang menyatukan rakyat dalam momen penting—upacara, peringatan sejarah, maupun perjuangan kemerdekaan.
Ketika dinyanyikan bersama, lagu-lagu tersebut menciptakan pengalaman emosional yang sama sehingga memperkuat rasa persatuan, kebanggaan nasional, dan kesadaran akan sejarah serta cita-cita bangsa. Di sinilah pemerintah perlu lebih memberikan perhatian pada pendidikan budaya, termasuk musik. Sebagaimana ditulis Ki Hadjar Dewantara pada 1930, kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat. Itu artinya ia harus menjadi instrumen dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam memperkuat semangat persatuan.
Dengan demikian, musik tidak hanya alunan nada semata. Melainkan kekuatan dalam membentuk nilai dan identitas masyarakat. “Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination,” sebagaimana ditulis Plato dalam The Republic, yang terbut berwindu-windu lalu, atau berabad-abad lalu. Merdeka!
