Konten dari Pengguna

Nasib Negara Berkembang di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Global

Ahmad Dzul Ilmi Muis

Ahmad Dzul Ilmi Muis

Seorang Alumnus Jurusan Antropologi Unair

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Dzul Ilmi Muis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nasib Negara Berkembang di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Global
zoom-in-whitePerbesar

Kali ini kita akan membahas salah satu tulisan Elliot Fratkin yang juga diterbitkan dalam kumpulan teori Antropologi, dengan dieditori McGee dan Warms (2013). Dalam tulisan ini Fratkin melihat negara berkembang mengalami dominasi di tengah pertumbuhan ekonomi global. Khususnya bagi negara yang dulunya adalah bekas jajahan, mereka terjebak dalam tatanan sistem yang membuat mereka selalu berada di titik tersubordinasi. Bayang-bayang negara koloni selalu mengintai mereka dan merenggut potensi mereka untuk menjadi negara yang mampu berdiri sendiri. Fratkin menjabarkan hal ini ddengan aliran Dependency Theory, lengkap beserta penjabarannya dan kritik aliran tersebut dari berbagai aliran lain.

Teori ini melihat bahwa perkembangan ekonomi merupakan hasil dari kolonisasi yang dilakukan oleh negara-negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga. Jika sekarang kita memandang bahwa negara Barat itu adalah negara yang sangat maju, sangat modern, bahkan merupakan negara adidaya, itu semua adaah efek dari adanya negara-negara terbelakang bekas jajahan mereka. Logikanya adalah kita tidak mungkin bisa melihat suatu negara itu sangat berjaya apabila tidak ada pembanding yang menunjukkan hal berkebalikan atasnya. Dengan kita melihat negara-negara berkembang, disitu kita makin sadar akan kekuatan dan kebesaran negara kapital. Mereka melakukan eksploitasi terhadap negara berkembang, menguras habis sumber dayanya, mempekerjakan tenaga negara berkembang secara murah atau bahkan kadang dengan pemaksaan. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan menciptakan semacam ketergantungan karena adanya subordinasi ini. Maka cara agar bisa terlepas dari ketergantungan ini adalah tidak lain dan tidak bukan dengan melepaskan hubungan dengan negara-negara koloni. Negara berkembang harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri, mengolah sumber daya mereka sendiri, menciptakan surplus dari usaha mereka sendiri, dan sebagainya. Teori ketergantungan ini merupakan bantahan atas teori modern yang menyatakan bahwa kemiskinan yang dialami oleh negara berkembang itu berasal dari unsur intrinsik mereka sendiri. Para modernis berpendapat bahwa negara berkembang sepatutnya mencontoh perilaku negara-negara maju dan meninggalkan kebiasaan mereka yang malas dan terlalu konservatif.

Teori ini berkembang pada tahun 1950-an, berawal dari tulisan seorang ekonom bernama Raúl Prebisch. Beliau berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi pada negara berkembang itu bukanlah berasal dari faktor intrinsik negara itu sendiri, melainkan justru hal itu berasal dari dominasi negara-negara maju yang memonopoli dan diuntungkan dari ketentuan perdagangan yang tidak setara. Perdagangan antar negara sudah diatur sedemikian rupa supaya hanya menguntungkan pihak negara maju. Alur perdagangannya biasa berupa negara berkembang apabila hendak membeli barang, mereka akan membeli barang yang sudah diolah dan tentunya berharga mahal dari negara maju. Imbalan dari kesepakatan ini adalah dengan mengekspor bahan mentah yang bernilai rendah kepada negara maju, kemudian akan diolah oleh mereka dan dijadikan manufaktur tertentu yang akan meroketkan harganya. Apabila barang telah selesai diolah, maka negara berkembang akan membelinya dari negara maju dengan harga yang mahal. Ini seperti lingkaran setan, karena di sisi lain negara berkemang tidak mampu untuk mengolah bahan mentah mereka sendiri.

Beberapa penganut Marxis yang juga terinspirasi dari karya Prebisch ini, menggambarkan bahwa adanya ketergantungan ini merupakan hasil dari ekspansi kapitalisme dalam menangkap produsen dan pasar dari negara berkembang. Liciknya mereka adalah, mereka hanya menikmati keuntungannya secara besar, padahal bahan mentah awal berasal dari negara berkembang, namun ketika barang tersebut selesai diproduksi dan dipasarkan, mau tidak mau negara berkembang sendiri laj yang akan membeli produk jadi tersebut dengan harga mahal. Apabila fenomena ini kita lihat dengan perspektif Imperialisme yang diajukan oleh Lenin, maka dia berkata bahwa Imperialisme itu merupakan kepitalisme pada tingkat paling tinggi. Keuntungan sangat besar yang diperoleh oleh negara maju dari hasil mereka memonopoli negara berkembang ini kemudian akan digunakan untuk meningkatkan upah tenaga kerja mereka supaya tidak akan pernah terjadi yang namanya revolusi sosialis, sebagaimana yang diramalkan oleh Marx. Beberapa tokoh seperti Paul A. Baron, Andre Gunder Frank, dan Walter Rodney menegaskan bahwa hubungan ketidaksetaraan antara negara maju dibanding negara berkembang itu berasal dari berbagai aspek bahkan hingga ke aspek pengerukan sumber daya alam. Mereka juga merumuskan bahwa negara berkembang merupakan negara yang sangat tidak diuntungkan, karena selain dari mereka mengalami ketergantungan jika perspektifnya dilihat secara makro – hubungan antar negara, negara berkembang juga mengalami ketergantungan lain yang berasal dari faktor intrinsik mereka. Dari mana hal tersebut berasal? Hal tersebut ternyata berasal dari para elit lokal negara berkembang itu sendiri. Para elit ini akan menindas kaum miskin di negara tersebut dan akan menjadikan keuntungan negara menjadi keuntungan pribadi. Nasib sangat malang ditimpa oleh negara berkembang karena harus merasakan dependency atau ketergantungan ini secara ganda.

Kesadaran akan perlawanan negara berkembang sangat dibatasi oleh mereka kaum modernis. Mereka membuat teori modern yang seolah-olah merumuskan bahwa tahap tumbuh kembang masyarakat itu ada pada satu garis linear yang sama dan berlaku secara universal. Penduduk negara berkembang dianggap sebagai penduduk yang masih bar-bar dan mereka harus meniru atau mencontoh nilai-nilai dari negara Barat supaya mereka bisa mejadi negara yang maju pula. Hal itu akan membuat transisi di negara berkembang, yang awalnya mereka adalah masyarakat tradisionalis dan irasional menjadi seperti negara Barat. Padahal teori modern ini merupakan produk dari negara maju yakni Amerika Serikat yang saat itu konteksnya sedang Perand Dingin melawan Uni Soviet dengan gagasan komunisnya. Amerika menciptakan teori ini supaya negara-negara berkembang tidak bisa dan bahkan tidak memikirkan semangat revolusi serta khawatir kalau nantinya negara-negara ini akan bergabung ke golongan Komunis dan mendukung Uni Soviet. Modernisasi berusaha menciptakan kekangan bagi negara-negara berkembang supaya selalu di bawah dominasi negara maju dengan sistem kapitalis mereka. Sedangkan teori ketergantungan ini diajukan untuk melawan dan membebaskan negara berkembang supaya mereka mampu untuk berdiri secara mandiri dan tidak bergantung lagi kepada negara maju.

Dependency Theory ini memiliki asumsi dasar bahwa akan selalu ada hubungan yang mendominasi antara negara maju terhadap negara berkembang. Teori ini melihat sistem internasional secara luas dan secara makro, bahwa antar negara pasti akan saling menjalin hubungan. Namun hubungan tersebut tidaklah melulu merupakan hubugan yang saling menduntungkan kedua belah pihak. Lebih lanjut, teori ketergantungan ini berasumsi bahwa kekuatan eksternal itu merupakan hal dasar yang menentukan kegiatan ekonomi atau bahkan status ekonomi dari negara berkembang. Jadi bukanlah berasal dari kesalahan intrinsik negara berkembang, namun memang karena berasal dari sistem kapitalis yang mendominasi mereka. Hubungan dominasi antara negara maju dengan negara yang bergantung ini merupakan proses eksploitasi berkelanjutan yang ada hingga era sekarang.

Kritik atas teori ini berasal dari beberapa pihak. Dari politik sayap kanan yang konservatif menilai bahwa teori ini menyatakan hal yang berkontradiksi. Di satu sisi mereka mendukung atas kemandirian suatu negara, tapi di sisi lain mereka mengamini adanya suatu ketergantungan atau dominasi yang dialami oleh negara berkembang. Maka jika anggapan mereka bahwa ada ekoomi yang bergantung seperti ini, berarti harusnya tidak ada yang namanya ekonomi otonom. Dari pihak pendukung World Bank menyatakan bahwa modernisasi itu bukanlah hal yang mengacu kepada eksploitasi, melainkan justru kepada perkembangan bidang pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur yang semuanya itu juga bisa diambil manfaatnya oleh negara berkembang sekalipun. Kritik lain lagi mempertanyakan bahwa paradigma Dependency Theory ini terlalu statis dalam melihat perkembangan ekonomi suatu negara. Mereka mempertanyakan bagaimana dengan negara yang awalnya merupakan negara miskin, namun kini mereka berubah menjadi negara yang kaya seperti Mexico, Brazil dan Taiwan? Kemudian mereka menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi global itu akan dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali meskipun titik awal mereka tidaklah setara. Kritik ini dijawab oleh penganut Dependency Theory dengan menyatakan bahwa negara-negara yang telah maju tersebut masihlah bergantung kepada perusahaan multinasional, memiliki kepemimpinan yang otokratis, memiliki serikat buruh yang masih saja tertindas, lingkungan yang tidak dilindungi atau setidaknya tidak ada kepastian akan perlindungan lingkungan, dan yang paling parahnya lagi biasanya mereka masih merasakan dependency ganda karena elit lokal mereka masih menindas rakyat miskinnya sendiri.

Kritik yang cukup unik dari kaum Marxis ortodoks adalah bahwa gagasan berdikari dari pendukung aliran Dependency Theory ini justru akan membuat revolusi sosialis terhambat. Kenapa hal tersebut dapat terjadi? Karena jika para pekerja sudah tidak mengalami ketertindasan lagi, maka mereka akan sulit untuk diajak bangkit dan melawan. Justru bagi kaum Marxis ortodoks kapitalisme itu memiliki “sisi baik” tertentu, yakni akan menimbulkan semnagat juang kelas pekerja akan ketertindasan yang mereka alami dan pada waktu yang tepat mereka akan mampu mengulingkan para elit kapitalis sendiri. Bahkan kritik juga disampaikan dari para Non-Marxis yang menilai bahwa penindasan bukanlah hanya berasal dari kapotalisme, melainkan kaum sosialis dan para sekutu Uni Soviet pun melakukan penindasan.

Bagi para Antropolog sendiri, ketimpangan yang terjadi pada wilayah negara-negara berkembang itu memanglah nyata adanya. Mereka mengetahui hal tersebut bahkan karena penelitian mereka yang terlibat dan terjun langsung ke lapangan di masyarakat terpinggirkan. Meskipun para Antropolog mengamini adanya dominasi dan diskriminasi atau ketimpangan yang nyata terjadi, namun banyak dari Antropolog yang kurang setuju dengan cara pandang Dependency Theory ini. Karena lingkup penelitian Antropologi itu biasanya cenderung lebih kecil, jadi mereka tidaklah melihat permasalahan ini secara makro dan menyimpulkan bahwa semua hal tersebut berasal dari kekuatan eksternal. bagi seorang Antropolog bernama Jean Comaroff, di satu sisi memang ada benarnya pendapat dari Dependency Theory kalau ada kekuatan dari kapitalis dunia yang merancang sistem dunia. Namun teori ini luput untuk melihat pengaruh hubungan antara material, ideologi, dan moral dari suatu masyarakat. Para Antropolog medis pun juga memiliki pandangan atas Dependency Theory. Mereka melihat bahwa tujuan utama kapitalisme itu adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, dan bukanlah kepada pengembangan aspek kesehatan di masyarakat. Jadi meskipun kita melihat seolah-olah dari aspek kesehatan, manusia telah meraih kemajuan yang luar biasa pesat, namun semua itu ujung-ujungnya hanyalah mencari keuntungan.

Berbeda dari sudut pandang Antropolog, bagi penganut Posmodern justru memiliki cara pandang yang unik dalam melihat perdebatan ini. Mereka justru menolak kedua pendekatan antara Dependency Theory dengan Modernisasi. Arturo Escobar sebagai orang yang mengemukakan pendapa ini, menyatakan bahwa kedua teori tadi merupakan pandangan ang sangat amat bias dari Barat dan ujung-ujungnya hanyalah mempromosikan kemajuan Barat. Seluruh proses atau kebijakan pembangunan, bahkan hanya sekedar paradigma pembangunan itu merupakan wacana yang berasal dari Barat sendiri yang dengan sengaja mengelola Negara Dunia Ketiga dengan tetap menerapkan berbagai bias untuk berbagai kebijakan hasil pembangunan tadi. Escobar lebih setuju kepada “endogenous discourses” yang intinya mendukung supaya pembangunan itu dilakukan masing-masing oleh masyarakat lokal sendiri. Tokoh Postdevelopment lainnya seperti Vandana Shiva dan Frederique Marglin mengajukan supaya pembangunan itu dilakukan dari akar rumput dan mengakomodasi otonomi lokal daerah masing-masing ketimbang harus meihatnya secara global. Akan tetapi premis utama Dependency Theory tetap mereka terima bahwa ada bekas kekuatan kolonial yang berusaha untuk membuat negara berkembang tetap miskin, terdominasi, dan memiliki ketergantungan.

Referensi:

McGee, R. J., & Warms, R. L. (Eds.). (2013). Theory in social and cultural anthropology: An encyclopedia. Sage Publications.