Mengapa Empati Remaja Perlu Dilatih, Bukan Sekadar Diajarkan?
Tulisan dari Ahmad Fadil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Empati remaja bukan sekadar kemampuan memahami perasaan orang lain. Pada masa sekolah, empati remaja perlu dilatih melalui pengalaman agar dapat berkembang menjadi kepedulian dan perilaku sosial yang positif.
Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai semakin banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pertemanan menjadi semakin penting, perbedaan pendapat mulai sering muncul, dan kemampuan memahami sudut pandang orang lain menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Namun, dalam kehidupan sekolah, tidak semua siswa memiliki kemampuan sosial yang sama. Rendahnya kepedulian terhadap teman, kesulitan menghargai perbedaan, konflik antarsiswa, hingga kecenderungan perilaku agresif dapat menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.
Karena itu, membangun hubungan sosial yang sehat tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat agar siswa "lebih peduli" atau "lebih menghargai teman". Empati perlu dilatih dan dialami secara langsung.
Belajar Empati Melalui Pengalaman
Gagasan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program Penguatan Empati Berbasis Psikologi Positif kepada 50 siswa sekolah menengah kejuruan.
Program ini menggunakan pendekatan experiential learning. Artinya, siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai pengertian empati dan perilaku prososial, tetapi juga diajak untuk mengalami, merefleksikan, dan mempraktikkan respons sosial dalam berbagai situasi.
Kegiatan dilakukan melalui beberapa aktivitas, mulai dari ice breaking, penyampaian materi, studi kasus, role play, diskusi kelompok, refleksi pengalaman, hingga penyusunan komitmen perilaku prososial.
Melalui role play dan studi kasus, siswa diajak melihat suatu persoalan tidak hanya dari sudut pandangnya sendiri. Mereka belajar mempertanyakan apa yang mungkin dirasakan orang lain, bagaimana sebuah tindakan dapat memengaruhi teman, serta respons seperti apa yang lebih tepat ketika menghadapi situasi sosial tertentu.
Pada tahap refleksi, siswa kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan kehidupan sehari-hari di sekolah.
Misalnya, membantu teman yang mengalami kesulitan belajar, menghargai perbedaan pendapat, memberikan dukungan ketika teman menghadapi masalah, dan bekerja sama dalam kelompok merupakan bentuk sederhana dari perilaku prososial yang dapat dilakukan dalam kehidupan sekolah.
Apa yang Berubah Setelah Pelatihan?
Untuk melihat perubahan yang terjadi, peserta mengikuti pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan menggunakan Basic Empathy Scale (BES) dan Prosocialness Scale.
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pada kedua aspek.
Skor rata-rata empati peserta meningkat dari 72,98 menjadi 83,12. Jika dibandingkan dengan skor sebelum kegiatan, terjadi peningkatan sebesar 13,89%.
Sementara itu, skor rata-rata perilaku prososial meningkat dari 65,36 menjadi 66,48, atau meningkat sebesar 1,71%.
Angka tersebut memberikan sebuah pelajaran menarik.
Empati meningkat lebih besar dibandingkan perilaku prososial.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pada pemahaman dan kapasitas psikologis seseorang tidak selalu langsung berubah menjadi perilaku nyata.
Seseorang mungkin sudah memahami bahwa temannya sedang mengalami kesulitan. Namun, memahami kondisi tersebut belum tentu membuatnya secara otomatis memberikan bantuan.
Di sinilah pentingnya pembiasaan.
Mengapa Perilaku Prososial Membutuhkan Waktu?
Perilaku prososial bukan hanya persoalan mengetahui apa yang baik. Perilaku tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang bertindak dalam situasi nyata.
Ketika seorang siswa melihat temannya kesulitan, misalnya, terdapat banyak kemungkinan respons. Ia bisa membantu, mengabaikan, atau bahkan tidak menyadari bahwa temannya membutuhkan bantuan.
Empati dapat menjadi salah satu dasar untuk mengenali kebutuhan tersebut. Namun, agar berkembang menjadi perilaku prososial, siswa membutuhkan kesempatan untuk mempraktikkannya secara berulang.
Karena itu, peningkatan perilaku prososial sebesar 1,71% tidak seharusnya dipandang sebagai kegagalan program. Sebaliknya, hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku sosial membutuhkan proses yang lebih panjang dibandingkan perubahan pemahaman atau kapasitas empati.
Pelatihan dapat menjadi titik awal, tetapi lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mempertahankan perubahan tersebut.
Sekolah sebagai Ruang Latihan Empati
Penguatan empati sebaiknya tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai.
Guru Bimbingan dan Konseling dapat melanjutkan kegiatan melalui diskusi kasus, role play, refleksi, maupun kegiatan kelompok. Siswa juga perlu diberikan kesempatan untuk mempraktikkan perilaku prososial dalam situasi sehari-hari.
Dengan demikian, empati tidak berhenti sebagai materi yang dipahami siswa, tetapi berkembang menjadi bagian dari kebiasaan mereka dalam berinteraksi.
Sekolah pada akhirnya bukan hanya tempat siswa belajar matematika, bahasa, teknologi, atau keterampilan kejuruan. Sekolah juga merupakan ruang tempat siswa belajar menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Kemampuan memahami orang lain, menghargai perbedaan, bekerja sama, memberikan dukungan, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif merupakan keterampilan yang akan terus digunakan siswa bahkan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.
Dari "Tahu" Menjadi "Melakukan"
Program Penguatan Empati Berbasis Psikologi Positif memberikan gambaran bahwa pendekatan berbasis pengalaman dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan kompetensi sosial siswa.
Peningkatan empati sebesar 13,89% menunjukkan perubahan positif setelah program dilaksanakan. Pada saat yang sama, peningkatan perilaku prososial sebesar 1,71% mengingatkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan pembiasaan dan tindak lanjut yang konsisten.
Karena itu, tujuan penguatan empati bukan sekadar membuat siswa mampu menjawab pertanyaan:
"Apa itu empati?"
Lebih jauh dari itu, siswa perlu sampai pada pertanyaan:
"Apa yang akan saya lakukan ketika melihat orang lain membutuhkan saya?"
Sebab, empati yang bermakna bukan hanya kemampuan memahami perasaan orang lain.
Empati menjadi berarti ketika pemahaman tersebut diterjemahkan menjadi tindakan.

