Generasi Muda dengan Bisnis Instan: Antara Ambisi dan Realita

penulis artikel sebagai mahasiswa universitas pamulang fakultas ekonomi dan bisnis program studi manajemen
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ahmad Fajar Romdhoni (Fajar) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua tahun terakhir, linimasa media sosial kita dipenuhi kisah sukses anak muda: dropshipper yang cuan puluhan juta, affiliator yang dapat komisi tanpa stok barang, atau reseller yang cukup bermodal ponsel di kamar kos. Survey terbaru menunjukkan sekitar 60% anak muda kini lebih tertarik pada fleksibilitas kerja mandiri ketimbang menjadi karyawan tetap. Ceritannya selalu sama yaitu bisnis tanpa modal besar, tanpa kantor, tanpa bos. Namun di balik narasi “saya bos bagi diri sendiri”, ada realita yang jarang muncul di linimasa viral.
Karena faktanya, data global menunjukkan sekitar 90% startup gagal dalam tiga tahun pertama operasional. Pertanyaannya ialah apakah kita sedang menyaksikan lahirnya generasi wirausaha tangguh, atau hanya euforia sesaat yang mengejar ilusi bisnis instan?
Budaya Serba Instan yang Menjebak Ambisi
Dari sudut pandang anak muda di lapangan, godaan bisnis instan datang dari banyak arah. Fear of missing out (FOMO) menjadi pendorong utama seperti melihat teman sukses jualan online membuat banyak yang merasa harus segra terjun, takut ketinggalan tren.
Riset Populix bahkan mencatat mayoritas Gen Z lebih memilih jalur wirausaha atau kerja lepas, didorong oleh mimpi kebebasan finansial dan keseimbangan hidup.
Masalahnya, banyak yang memulai tanpa fondasi bisnis yang matang. Modal semangat dan filter Instagram cukup untuk launching, tapi tidak cukup untuk bertahan melewati tiga bulan pertama. Fokus lebih banyak pada hype ketimbang sustainability. Seorang pengusaha muda, Iksan mengingatkan bahwa fenomena FOMO sering kali membuat anak muda terburu-buru mengambil keputusan bisnis tanpa perhitungan matang. “kalau hanya ikut tren, waktunya bisa terbuang,” katanya. Motivasi entrepreuneursip yang mulia justru berubah menjadi jebakan: ketika hasil tak kunjung sesuai ekspetasi, yang muncul bukan inovasi, melainkan kebosanan dan keputusasaan.
Jurang Antara Ambisi Digital dan Ketahanan Mental
Fenomena ini ibarat sprint di lintasan marathon: kecepatan di awal tak menjamin siapa yang yang akan mencapai garis finish. Mintzberg pernah memperingatkan jurang antara intended strategy (rencana diatas kertas) dan realized strategy (kenyataan di lapangan). Bisnis bukan soal siapa yang paling cepat punya toko online, melainkan siapa yang paling tahan menghadapi bosan, sepi pembeli, dan kegagalan beruntun.
Budaya serba instan dari hiburan hingga pengiriman telah membentuk ekspetasi yang keliru: bahwa kesuksesan bisnis bisa datang secepat kirirman sameday delivery. Riset menunjukan bahwa penyebab utama kegagalan startup meliputi kurangnya permintaan pasar, kehabisan modal, dan kesalahan strategi dasar, bukan semata-mata karena kurang gimmick viral. Di sinilah yang Kahneman sebutkan sebagai planning fallacy: kecendrungan meremehkan risiko dan melebihkan-lebihkan hasil hanya karena kita terlalu jatuh cinta dengan ide sendiri tanpa mengujinya di medan yang sesungguhnya.
Menurut saya, gelombang bisnis anak muda ini adalah angin segar yang perlu diapresiasi, tapi secara bersamaan adalah bom waktu jika tidak diimbangi dengan edukasi ketahanan bisnis secara serius.
Apresiasi perlu diberikan karena inisiatif wirausaha muda adalah respons brilian terhadap sulitnya lapangan kerja formal yang kian menyempit. Namun, mengagungkan kesuksesan instan tanpa memperlihatkan proses pahit di belakangnya adalah bentuk ketidakjujuran kolektif yang berbahaya. Gery Setiawan, pemuda Boyolali yang kini sukses dengan bisnis sewa iPhone di 8 kota, memulai semuanya dari kegagalan berulang: jualan bakso gagal, tokonya kebakaran, jualan capcay keliling dengan modal Rp50.000 pun tak berjalan baik. Baru setelah dua tahun jatuh bangun, ia menemukan momentumnya. Kisah seperti inilah yang seharusnya lebih banyak mendapat ruang, bukan hanya yang viral dengan omzet fantastis.
Kritik tajam saya, ekosistem digital kita terlalu sibuk menjual kisah sukses instan, tapi lalai membangun ketahanan mental wirausaha muda. Kita butuh gerakan nasional Slow Entrepreneurship yaitu gerakan yang mengajarkan bahwa membangun bisnis yang bertahan 10 tahun jauh lebih heroik daripada viral selama 10 hari.
Kita perlu merayakan anak muda yang berani memulai, tapi juga harus berani mengatakan bahwa tidak semua bisnis bisa instan seperti konten TikTok berdurasi 15 detik. Ambisi tanpa kesabaran adalah resep frustasi massal.
Ke depannya, pendidikan kewirausahaan harus bertransformasi: bukan sekedar mengajarkan cara bikin toko online, tapi juga mengajarkan cara bertahan saat sepi pembeli, cara mengelola keuangan mikro, dan yang terpenting, cara merayakan proses alih-alih hanya mengejar hasil. Seperti yang dilakukan Mohammad Hafizh, mahasiswa yang membangun brand cookies dari tugas kuliah dan kini produknya tersebar di banyak fakultasnya yang tumbuh perlahan tapi pasti.
Saatnya generasi muda membuktikan bahwa kita bukan sekedar generasi yang jago memulai. Kita adalah generasa yang tangguh menyelesaikan.
Ditulis Oleh: Ahmad Fajar Romdhoni Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang
