Konten dari Pengguna

Harga dan Hati Konsumen

Ahmad Febriyanto

Ahmad Febriyanto

Forum Studi Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Febriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pasar tradisional: dokumentasi.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pasar tradisional: dokumentasi.pribadi

Fenomena tutupnya sejumlah kios di Tanah Abang menghadirkan sejumlah argumentasi yang menjadikan bahasan terkait hal tersebut kian menarik. Argumentasi utama didasarkan pada dampak atas digitalisasi bisnis yang kian mendisrupsi pelaku bisnis offline atau pelaku pasar tradisional.

Pada sudut pandang lain, argumentasi didasarkan pada harga barang yang ditawarkan lebih murah dibandingkan harga barang pada pasar tradisional. Tidak dapat dipungkiri beragam argumentasi tersebut pada dasarnya saling memiliki korelasi.

Digitalisasi yang telah mengakar tampaknya berhasil membentuk kebiasaan baru bagi konsumen. Kebiasaan pandemi yang diadopsi pada masa endemi tersebut yang menjadi stimulus utama peningkatan intensi bisnis digital.

Selain kebermanfaatan tersebut pembelian secara online diakui lebih memotong biaya. Tidak hanya beban biaya atas transportasi menuju pasar melainkan harga barang yang jauh lebih murah. Hal tersebut menjadi stimulus tambahan bagi konsumen untuk tetap memilih berbelanja secara online dibandingkan berbelanja langsung.

Harga pasar dengan konsumen memiliki keterkaitan yang sangat erat. Mengingat, Indonesia memiliki jenis konsumen yang sangat peka terhadap harga.

Suasana di Pasar Tanah Abang, Kamis (20/4/2023). Foto: Nabil Jahja/kumparan

Sederhananya, tipe konsumen Indonesia akan lebih memilih barang dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan mengeluarkan cost yang lebih tinggi untuk kualitas yang lebih tinggi pula. Meskipun hal tersebut tidak dapat digeneralisasi, sebab pertimbangan atas harga adalah preferensi konsumen.

Namun, mayoritas konsumen Indonesia yang peka terhadap harga dapat terlihat ketika produk mobil Korea atau Jepang yang lebih laku dibandingkan produk mobil Eropa atau Amerika yang menawarkan biaya lebih tinggi. Fakta tersebut menguatkan pendapat bahwa keterjangkauan harga menjadi pertimbangan utama bagi sejumlah konsumen di Indonesia.

Menjadi relevan jika kemudian kebermanfaatan belanja real time online dipadukan dengan kemurahan harga. Dalam memaknai hal tersebut dapat diungkapkan dalam ungkapan Jawa “tumbu oleh tutup” atau sangat cocok.

Bagaimana tidak, keinginan masyarakat untuk berbelanja dari rumah dan dari kantor dapat terpenuhi melalui digitalisasi dan ditambahkan dengan sejuta diskon yang menjadi semakin ramah kantong.

Artinya strategi tersebut menjadi sangat tepat sasaran untuk memenangkan pasar Indonesia. Sehingga, dampak utama akan sangat dirasakan oleh pelaku usaha offline.

Suasana pertokoan di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (25/9/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Para pelaku usaha offline yang tidak terbiasa dalam adopsi teknologi secara perlahan akan dipaksa dari persaingan pasar. Sebab pada era ini mengadopsi atau tergerus oleh perkembangan zaman menjadi suatu kenyataan.

Dalam sudut pandang yang lebih luas dan argumentasi lain juga menyatakan bahwa harga yang lebih murah akan berkaitan dengan harga predator yang dapat mempengaruhi pasar. Sehingga hal tersebut direspons cepat oleh Kementerian Perdagangan dengan mengundangkan Permendag No. 31/2023.

Langkah tersebut menjadi tanggapan pemerintah atas praktik bisnis yang tidak sehat melalui predatory pricing. Namun, praktik bisnis tidak sehat dengan asumsi predatory pricing tampaknya masih perlu diperjelas dengan mengungkap bukti tindakan yang telah dilakukan.

Hal tersebut dimaksudkan guna mendorong keadilan dan saling melindungi antar pelaku bisnis. Sisi lain pemerintah dapat berperan dalam menjadi negosiator untuk meningkatkan nilai jual pelaku bisnis offline yang didominasi oleh UMKM melalui kerja sama pelatihan digital.

Fenomena tutupnya beragam pasar tradisional tersebut dapat memberi arti bahwa digitalisasi bisnis perlu direspons secara cepat dan tepat. Alterasi digital akan terus terjadi untuk semakin memudahkan kehidupan hidup umat manusia.

Suasana pertokoan di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (25/9/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Termasuk dalam praktik bisnis yang akan terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan konsumen. Sehingga perlu untuk memaknai fenomena yang terjadi tersebut dari berbagai sudut pandang.

Dalam konteks ilmu sosial adanya sebuah fenomena akan sangat bergantung pada kejadian yang lain, meskipun intensitas pengaruh yang diberikan oleh setiap kejadian dalam membentuk fenomena tersebut berbeda. Hal serupa juga tergambar jelas pada fenomena terkikisnya pasar tradisional atas bisnis digital.