Aku Berpikir, Maka Aku Makan

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Tulisannya Rohani, Kelakuannya Rohalus
Konten dari Pengguna
17 September 2023 17:26
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar, dokumen pribadi
ADVERTISEMENT
Ditengah obroan pada malam yang sunyi empat orang lelaki yang haus akan ilmu mencoba mendiskusikan perihal permasalahan hidup yang sedang mereka rasakan. Mereka mengungkapkan sebuah keresahan yang sudah terlanjur terlelan walau hal itu tak mereka inginkan.
ADVERTISEMENT
Bertahan hidup di tengah situasi yang segalanya serba instan membuatnya menjadi sosok yang gampang menyerah, tutur dari salah satu mereka. Dunia selalu bergerak dinamis, semua bisa saja berubah dalam hitungan hari bahkan detik. Memikirkan segala sesuatu yang belum terjadi hanya akan membuat angan yang tak terhenti.
Hari ini kita coba memikirkan mau makan sama apa, atau besok kita masih bisa makan atau tidak. Yang anehnya, setelah makan masih saja tetap mikirkan masih bisa makan lagi atau tidak. Bukankah manusia mempunyai porsi rezekinya masing-masing, rezeki bukan melulu tentang makan dan uang. Bisa menulis dan memikirkan hal ini pun ini termasuk rezeki. Sebetulnya hal itu bukan suatu persoalan yang berat.
ADVERTISEMENT
Toh, kita punya akal dan pikiran supaya bisa berpikir, tapi tak melulu memikirkan perut. Meminjam kata bapak pendiri bangsa, "kematian yang sebenarnya bukan sehari tanpa makan, tapi sehari tanpa berpikir", begitu kata Tan Malaka. Lalu, tanpa makan, apakah manusia masih bisa berpikir? Penulis sendiri sebetulnya belum menyuap nasi beberapa hari yang lalu, toh pada kenyataannya apa yang anda baca hasil dari pikirannya.
Kita lihat hewan, apakah ia bisa berpikir? tapi ia selalu mendapatkan makanan. Kalo begitu, berarti pikiran manusia ada untuk memikirkan bisa makan atau tidak. Hewan mendapatkan makan karena ia bergerak. Tak pernah sekalipun ia memikirkan, "hari esok masih bisa makan atau tidak", kenapa begitu, karena hewan tidak punya pikiran. Nampaknya ia yakin tentang porsi rezekinya.
ADVERTISEMENT
Seorang filusuf Timur berkata bahwa "manusia adalah hewan yang berpikir". Mengacu pada paragraf sebelumnya, hewan kan tidak berfikir. Dan sekarang kita sedang memikirkan apakah hewan bisa berfikir? Mungkin yang dimaksud hewan yang berpikir itu Manusia yang memiliki sifat hewani.
Eh, tapi sebentar dulu. Apakah kita ini hewan yang menjelma diri sebagai manusia. Atau kita diberi pikiran supaya bisa memikirkan hewan berpikir atau tidak?
Lalu, siapa hewan? Siapa manusia?
Apakah anda sudah bingung, selamat! Berarti ada sedang berpikir.