Apakah Cinta Telah Mati di Kota Rumi?

Mahasiswa Sastra Indonesia - Semester 17.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cinta adalah perasaan gejolak dalam jiwa yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata atau suara. Seringkali, cinta tanpa kata dan suara lebih kencang dentumannya. Melalui sebuah perjalanan spiritual, kita akan menjumpai hikmah-hikmah yang menerangi jalan hidup menuju lebih sempurna. Lalu, apa sebenarnya hakikat makna Cinta?
Berbicara mengenai cinta, sosok legendaris yang menggeluti dunia sufi dengan syair-syairnya bahkan sampai menjadi kiblat di balik makna kata Cinta adalah Rumi. Ia dengan nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri yang sudah melalang buana dengan syair-syair indahnya.

Maulana Rumi membawa angin segar terhadap peradaban manusia. Cinta mengantarkan jutaan manusia bisa mengenal-Nya, seperti dahaga di tengah gurun yang mengantarkan air segar. Membaca Rumi adalah membaca “Cinta”, mengenal makna dan mengantarkan bagaimana memahami esensi cinta sesungguhnya.
Kadang kala makna cinta yang yang dibawa oleh Rumi seringkali disalahpahami. Kebanyakan dari kita memandang bahwa suara cinta yang ia bawanya jauh dari napas-napas islami atau hakikat cinta yang sesungguhnya. Padahal pesan cinta yang ia bawa memberikan pesan kerinduan kepada yang Ilaihi.
Kota Konya menjadikannya saksi bahwa setiap sudut kota, angin bahkan debu jalanan bersaksi bahwa Maulana Rumi masih tetap bersemi bahwa cinta sejati itu telah sampai kepada puncak cinta sang Ilaihi, cinta yang tak pernah mendua, cinta yang tak pernah dibagi, cinta yang sebenarnya arti.
Bahkan menurut Annemarie Schimmel pada Abad ke-13 mengatakan bahwa setiap langkah ke kota Konya adalah "langkah perjalanan spiritual", begitu jelasnya. Ia kembali menuliskan "setiap batu dan pohon tampak menafsirkan pesan-pesan Rumi ke dalam bahasanya sendiri, bagi orang yang mempunyai telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat."
Membincang Maulana Jalaluddin Rumi tanpa menyebut kata cinta adalah suatu kemustahilan. Rumi dan cinta adalah dua hal yang selalu melekat, Cinta bagi Rumi adalah anugerah dari Tuhan yang menggerakkan, membahagiakan, dan tidak mengharap balasan. Dengan konsep cinta, Rumi memberi petunjuk kepada manusia untuk menapaki jalan spiritual menuju Ilahi.
Untuk mencapai cinta ilaihi, makna cinta menurut Rumi tidak mengharapkan balasan. Menjauhkan rasa memiliki ke aku-an pada diri. Menurut Rumi, kata “Aku” yang diucapkan seorang sufi dalam keadaan fana’ tidak diisyaratkan untuk dirinya sendiri, karena terdapat perbedaan kata “Aku” yang diucapkan untuk menekankan pribadi kemanusiaan dan kekaguman padanya dengan kata “Aku” yang diucapkan untuk mengisyaratkan Dzat Ilahi. Yang pertama merupakan laknat dan yang kedua merupakan rahmat.
Sesungguhnya cinta itu kekal; harus diberikan kepada yang kekal pula. Ia tidak pantas diberikan kepada yang ditakdirkan fana’ atau binasa. Sesungguhnya cinta itu mengalir dalam diri orang yang dilaluinya, seperti darah. Jika cinta diletakkan pada tempatnya yang sesuai, ia laksana matahari yang tak kunjung tenggelam atau bagai bunga indah yang tak pernah layu.
Bahkan puncak tertinggi dari cinta ketika Tuhan-mu mengatakan, “Telah Kuciptakan semua untukmu.” Lalu kau membalasnya dengan, “Telah kutinggalkan semua untuk-Mu.” Begitu kiranya penggalan puisi darinya. Begitu magis karya Rumi bagi seseorang yang mencoba memahaminya.
dalam (Akulah Angin Engkaulah Api, 1992)
Carilah cinta murni yang tak lekang oleh waktu, yang menyegarkan rasa haus akan makna, yang mampu menyegarkan rasa dahaga. Menurut Rumi, kandungan cinta yang seperti inilah yang pernah dirasakan oleh para nabi terdahulu.
Bagi Maulana Rumi cinta adalah bahasa universal. Cinta yang melampaui batas agama, identitas, dan perbedaan. “Di luar benar dan salah,” katanya, “ada sebuah taman di sanalah aku akan menunggumu.” Hingga saat ini, kata-katanya masih tetap hidup. Menyentuh jiwa-jiwa yang sedang lelah, mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah benar-benar tersesat, hanya saja sedang belajar mencintai dengan lebih dalam.
Daaaannnnn, “Cinta tak pernah mati di kota Rumi”.
