Cinta dan Sejarah Pada Film Habibie & Ainun

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang Semester 17
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ahmad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepertinya symbol cinta tak pernah benar-benar milik Mulana Rumi. Namun, kita mengenalnya Rumi sang pemilik cinta sejati kepada tuhannya. Cinta milik banyak orang, bahkan semua orang memiliki cinta dengan versinya masing-masing. Pertanyaanya, apakah cinta mereka sampai pada tahap cinta yang sebenarnya? Apakah cinta membuatnya semakin mengenal dirinya? Apakah cinta yang sampai dikenang sejarah?
Kisah Habibie Ainun sepertinya hal yang lumrah bagi kalangan muda maupun dewasa. Banyak orang mengenalnya lewat film yanga di sutradarai oleh Faozan Rizal yang berjudul “Habibie Ainun”. Beberapa kalangan terkadang menilai kisah mereka hanya sekedar fiksi atau hanya imajinasi dalam bentuk visual yang ditampilkan di depan layer lebar ataupun hanya sekadar kisah yang di adaptasi dari novel Habibie dan Ainun.
Padahal kalau kita menyelami lebih dalam makna yang dikisahkan lewat film tersebut, itu tak lain merupakan kisah nyata penulisnya sendiri yaitu Habibie. Bahkan di negara kita, Habibie dan Ainun mendapat anugrah symbol atau ikon cinta.
Cinta berasal dari pengetahuan Ilahiah tentang adanya cinta Tuhan terhadap manusia. Cinta yang tanpa syarat, cinta manusia terhadap Tuhannya. Yang terwujud dalam pelaksanaan ajaran-Nya berupa keluarga Sakinah. Menunjukkan bahwa cinta sejati melampaui logika dan mengedepankan kebersamaan dalam suka duka, membangun mimpi bersama, serta menjadi inspirasi bagi hubungan yang kuat berdasarkan kejujuran dan kepercayaan.
Detik-detik itu masih terpatri kuat dalam ingatan Habibie hingga sanggup menceritakannya kembali dalam buku Habibie & Ainun (2010). Buku itu ditulis Habibie sebagai salah satu terapi untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan seseorang yang selama 48 tahun 10 hari hidup bersama. Menulis, menjadi salah satu anjuran dokter agar Habibie terhindar dari gangguan psikosomatik, gejala penyakit yang erat hubungannya dengan faktor fisik, psikologis, dan sosial. Apa lacur, emosi yang tinggi dan berlebihan bisa berdampak negatif bagi kesehatan Habibie.
Diawali dengan sebuah monolog latarbelakang penulis novel ini yang memberitahu kepada pembaca karena mengatakan buku ini dipersembahkan. Kemudian pernyataan “Isteri saya tercinta” merupakan ungkapan bahwa Habibie walau memang mencintai isterinya yaitu Ainun. Perpaduan sempurna antara kecerdasan dan perasaan, di mana cinta sejati adalah kesetiaan tanpa syarat, saling melengkapi, pengorbanan tulus, dan kebersamaan yang abadi hingga manunggal jiwa di dunia maupun akhirat.
Manunggal disini adalah Manunggal jiwa, roh, batin, dan Nurani seperti yang diucapkan Habibie sendiri. Manunggal dalam ruang dan waktu. Secara sufistik puncak tertinggi cinta adalah manunggal bersama Allah. Sedangkan Habibie boleh dikatakan manunggal dengan Ainun. Inilah perkataan Habibie tersebut dalam podcast bersama Najwa Shihab.
“Terima Kasih Allah, Engkau titip bibit cinta yang murni, suci,
cinta sejati, sempurna dan abadi. Titip bukan berarti milikmu dan milikku,
tapi milik Allah. Kalau sudah waktunya saya juga akan
pulang karena tugas saya sudah selesai, kemanungglan
saya dan Ainun akan kami pelihara sampai abadi.”
Ini membuktikan bahwa cinta Habibie tak pernah luruh, cintanya kepada Ainin tak pernah runtuh. Cinta sejati memang benar adanya, cinta yang memiliki sejarah, cinta yang jelas punya arah. Cinta Habibie tak pernah padam, meski sudah merelakan, namun butuh waktu lama untuk bisa berdamai darinya.
Sudah Seribu hari Ainun pindah ke dimensi
dan keadaan berbeda. Lingkunganmu, kemampuanmu,
dan kebutuhanmu pula berbeda. Karena cinta murni,
suci, sejati, sempurna, dan abadi tak berbeda.
Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda
sepanjang masa. (Habibie Ainun: 2010)
Puisi hasil guratan Habibie bertepatan dengan seribu hari kepergian Ainun, sang terkasihnya, menjadi tesis yang sangat mudah untuk melihat betapa besar rasa cinta Habibie terhadap Ainun. Setiap kalimat dalam bait per baitnya menunjukkan kekuatan cinta yang menggelora. Dalam puisi berjudul "Seribu" itu, Habibie seolah ingin menunjukkan bahwa bagaimanapun ia dan Ainun tidak bisa terpisahakan, sekali pun maut sempat memberi jarak.
…
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
…
Ost. Habibie Ainun-Cinta Sejati (Melly Goeslaw: 2012)
Penggalan pada lirik lagu "Cinta Sejati" yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari ini secara sempurna menggambarkan kisah cinta abadi antara B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari. Lirik "Cinta kita melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh sukacita" merujuk pada perjalanan hidup mereka yang luar biasa.
Ini menunjukkan betapa nyata dan mendalamnya kasih sayang mereka, yang tetap kokoh bahkan setelah Ainun meninggal dunia, dengan Habibie yang terus setia dan mengenang istrinya hingga akhir hayatnya, menjadikan kisah mereka simbol cinta sejati yang tak padam oleh ruang dan waktu.
Kerinduan yang begitu besar membawa Habibie ingin selalu berdampingan dengan Ainun. Beberapa waktu setelah kepergian istrinya, Habibie menyiapkan tempat khusus di sebelah kekasih hatinya untuk makam dirinya kelak.
