Konten dari Pengguna

Menjaga Nilai Budaya Melalui Sanggar Titisan Karuhun

Ahmad Haetami

Ahmad Haetami

Penulis & Pengajar

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pentas seni lengser Desa Loji. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pentas seni lengser Desa Loji. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital, masih ada anak muda yang memilih untuk menjaga akar budayanya, salah satunya budaya lengser.

Mendengar kata lengser bagi masyarakat Sunda pastinya bukan hal yang asing lagi. Lengser yang diperankan Aki Lengser atau Ki Lengser biasanya ditemukan dalam rangkaian upacara adat pernikahan Sunda.

Seniman lengser jarang terdengar apalagi ini merupakan budaya Sunda. Namun di sebuah desa sebelah ujung Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Simpenan, tradisi kesenian Sunda ini masih terus dipertahankan

Lengser bisa disebut dengan sesepuh atau orang yang dituakan dalam adat istiadat Sunda. Sebut saja Sansan Ariansyah atau yang dikenal dengan nama panggung Kang Sansan, salah satu sosok yang berkecimpung sebagai budaya sekaligus pegiat kesenian lengser di Kecamatan Simpenan, Desa Loji tepatnya di Kampung Cilangkap.

Penampilan seni legser. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Ia menggeluti seni lengser semenjak duduk di bangku sekolah SMA. Lengser menjadi unsur yang penting dari rangkaian upacara adat pernikahan dengan nuansa Sunda. Dalam rangkaian upacara adat, lengser ada di dalam mapag panganten atau menyambut pengantin.

"Untuk sekarang ini lengser bukan hanya di pentaskan pada acara pernikahan saja, pada acara kelulusan sekolah dan juga acara agustusan sering kita tampilkan", ujarnya.

Menurutnya, dalam waktu dekat ini, seni lengser juga akan ikut memeriahkan hari kemerdekaan RI yang ke 81 tahun. Rencananya dalam acara gelaran di Desa Loji, Kecamatan Simpenan.

Selain kegiatan seni lengser, sosok anak muda tersebut turut mendirikan sanggar dengan nama “Titisan Karuhun”. Melalui sangar yang di bangunnya, Kang Sansan berupaya kembali untuk menghidupkan kecintaan generasi muda terhadap budaya melalui pendidikan serta pertunjukan dengan menanamkan nilai-nilai kesundaan.

Sanggar Titisan Karuhun. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Menurutnya, budaya dan seni bukan hanya sekedar warisan masa lalu yang hanya dipentaskan secara seremonial, melainkan sebuah identitas yang harus dipahami dan dirawat secara turun-temurun.

Sesuai dengan nama yang diberikan dalam Bahasa sunda yaitu Titisan Karuhun. Jika kita bedah ke dalam Bahasa Indonesia “Titisan” memiliki arti sebagai penerus atau generasi yang meneruskan semangat yang telah diwariskan oleh leluhur. Sedangkan “Karuhun” memiliki arti “leluhur” atau secara etimologi memiliki arti tradisional, warisan orang tua terdahulu yang lahir sebelum kita.

Oleh karena itu sanggar Titisan Karuhun memiliki kesimpulan arti yang menyatukan para penerus untuk menjaga, merawat serta mewariskan apa yang telah ditemukan oleh leluhur terdahulu untuk dirawat oleh generasi mendatang.

Semangat ini diwujudkan dengan cara merawat adat istiadat, menampilkan tradisi budaya Sunda, menggali sejarah serta menghidupkan kembali tadisi gotong royong yang telah diwariskan oleh leluhur terdahulu.

Pertungujan Seni Lengser. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Sanggar Titisan Karuhun hadir sebagai ruang belajar bagi remaja, hingga masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat berbagai kesenian dan nilai-nilai karuhun (leluhur)”, begitu ujarnya.

Melalu sanggar yang dibentuknya, Kang Sansan ingin mengajak bahwa untuk melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan menggunakan pakaian adat atau pakaian tradisional. Lebih dari itu, generasi muda diajak untuk memahami sebuah filosofi yang terkandung dalam ajaran Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh yang mengandung arti saling mengasihi, saling mengajarkan dan saling membimbing.

Melalui semangat yang dibawa olehnya mengingatkan kita bahwa budaya akan tetap hidup selama masih ada generasi yang mau belajar mencintai budaya dan meneruskannya. Melalui sanggar yang dibentuknya, ia menunjukan bahwa menjadi anak muda bukan berarti meninggalkan tradisi budaya, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan masa depan.