Konten dari Pengguna

Kenapa Masih Naik Panggung?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Ilham Danial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, kecerdasan buatan (AI) telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Sejak bangun tidur hingga kembali lagi ke ranjang, manusia dikelilingi asisten virtual yang siap membantu memudahkannya dalam menjalani hari. Fenomena itu terus berlangsung secara masif, tak terkecuali di dunia pendidikan tinggi.

Sebagai salah satu kampus yang secara resmi membolehkan penggunaan kecerdasan buatan dalam riset dan tugas mahasiswa, Universitas Padjadjaran (Unpad) telah mengatur secara rinci mengenai teknis penggunaan AI melalui Peraturan Rektor (PERREK) Nomor 8 tahun 2025.

Tujuannya tentu mulia. Sebagai garda terdepan dalam pengembangan peradaban, Unpad harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Apalagi, jika inovasi-inovasi yang muncul dapat berdampak pada peningkatan kualitas dan efektivitas pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Kecerdasan buatan yang semakin menjamur dipahami sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, penggunaannya tidak boleh dilakukan secara ugal-ugalan. Aturan main tetap diperlukan untuk memberikan batasan yang jelas. Tentang yang seharusnya dilakukan dan dihindari. Soal yang boleh dan tidak.

Pertanyaannya, bagaimana dengan karya-karya sastra? Bukankah, meminjam konsep Horatius dalam bukunya Ars Poetica, karya sastra itu setidaknya harus dulce et utile, yakni menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mendidik bagi pembacanya?

Bagaimana kedua konsep itu bisa dirasakan jika dosen atau mahasiswa langsung bertanya ke mesin AI tanpa meresapi tiap narasi dan dialog yang tersaji di dalam puisi, prosa, atau drama?

Tidak bisa dipungkiri, berbagai kecerdasan buatan tersebut memiliki simpanan pengetahuan yang nyaris tanpa batas. Misalnya, dalam konteks kesusastraan Rusia, ketika kita membuka platform AI tertentu dan menginput nama sastrawan besar Rusia, Lev Nikolayevich Tolstoy, maka jawaban yang muncul sudah cukup komplit, mulai dari biografi, isi karya, hingga pokok-pokok pikiran Tolstoy dalam setiap tulisannya.

Jika demikian, untuk apa lagi mahasiswa duduk terkantuk-kantuk di jam pertama kuliah mendengarkan dosennya di depan kelas agar dapat memahami secara utuh isi dari sebuah karya drama? Toh, semua sudah tersedia dan dapat diakses kapanpun, di manapun.

Saya kira, jawabannya tidak akan pernah ditemukan pada kolom obrolan chatbot. Sastra tidak hanya menawarkan informasi yang selesai dalam sekali baca. Ada pengalaman yang harus dirasakan, diperdebatkan atau bahkan dipentaskan ulang oleh generasi yang berbeda.

Refleksi atas Pementasan Drama Rusia di FIB Unpad

Selama dua tahun terakhir, sivitas akademika di Program Studi Sastra Rusia FIB Unpad berupaya untuk adaptif. Tidak mungkin rasanya melarikan diri dari kenyataan bahwa AI telah lahir dan terus bertransformasi untuk membantu manusia.

Dalam beberapa mata kuliah, mahasiswa diberikan keleluasaan agar dapat memanfaatkan kecerdasan buatan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Namun, kesadaran bahwa tujuan belajar tidak akan pernah tercapai tanpa proses berpikir yang benar dan sistematis tetap menjadi pegangan.

Poster pementasan Revizor. Arsip pribadi.

Salah satu metode pengajaran yang diterapkan adalah “memaksa” mahasiswa untuk membuat proyek pementasan, seperti yang dilakukan pada mata kuliah Drama Rusia. Mahasiswa tidak lagi hanya mendengarkan teori dan paparan tentang karya-karya utama drama Rusia dari dosen atau presentasi rekan sejawatnya, namun bersama-sama merancang proyek pertunjukkan yang dapat disaksikan oleh masyarakat luas.

Dari segi proses pembelajaran, mahasiswa dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendapatkan gambaran awal cerita yang akan dipentaskan serta bantuan alat-alat penerjemahan. Untuk melengkapinya, kepekaan terhadap konteks “kekinian dan kesinian” dilatih melalui pembacaan tuntas dan diskusi, pemaknaan ulang, serta repetisi lintas generasi agar cerita yang akan dipentaskan dapat relate dengan penonton.

Misalnya, hal tersebut muncul dalam pementasan drama Revizor karya Nikolai Gogol pada 18 Desember 2024. Tidak seperti film Tamu Agung (Usmar Ismail, 1955) dan pementasan Inspektur Jenderal (Teater Koma, 2015) yang mengadaptasi mahakarya Gogol tersebut, judul Revizor "sengaja" tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, melainkan hanya ditransliterasikan.

Keputusan tersebut lahir dari diskusi antar dosen dan mahasiswa yang mewakili dua generasi berbeda. Pengalaman pengajar dipadukan dengan konteks kekinian yang dipahami secara paripurna oleh mahasiswa diharapkan dapat memberikan pengalaman estetis kepada calon penonton.

Meski mayoritas mahasiswa telah memiliki pengalaman pentas di unit kegiatan mahasiswa atau komunitas-komunitas, namun bobot perkuliahan memberikan nuansa yang berbeda. Naskah disusun dengan presisi agar sesuai dengan konteks lokal tanpa menghilangkan "isi" yang hendak disampaikan oleh Gogol.

Latihan dilakukan berminggu-minggu untuk memastikan bahwa penonton yang datang akan pulang seraya membawa cerita baik dari pertunjukkan. Hasilnya, meskipun dipentaskan menjelang masa liburan ketika kampus terlihat semakin sepi, lebih dari 300 orang masih menyempatkan diri untuk memadati Aula PSBJ FIB Unpad yang legendaris.

Ruang yang Tak Bisa Digapai Algoritma

Mungkin, AI dapat menjawab dalam hitungan detik, tentang siapa itu Gogol, isi dari Revizor, serta relevansinya dengan kehidupan manusia hari ini. Namun, ia tidak akan pernah memberikan ruang pengalaman latihan berat hari demi hari yang selalu dirasa tidak cukup.

Pengenalan tim yang terlibat di akhir pertunjukkan. Arsip pribadi.

Lalu, rasa gugup ketika tirai dibuka dan berdiri di tengah ratusan pasang mata dan mendengar tepuk tangan membahana ketika pertunjukkan selesai. Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana belajar hidup sebagai sebuah organisasi, yang membutuhkan pemahaman antar manusia.

Di sanalah, barangkali, letak batasan dari kecerdasan buatan.