Viral Kemiskinan di Media Sosial dan Etika Konten Berbagi

Saya Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Komunikasi dan Desain, yang sedang menempuh pendidikan dalam Program Studi Ilmu Komunikasi di semester 4
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ahmad Yani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda sedang asyik mengusap layar ponsel, lalu tiba-tiba beranda TikTok atau Instagram Anda berubah sendu?
Skenarionya hampir selalu sama. Seorang kreator konten dengan kamera menyala menghampiri sosok marginal mulai dari lansia penjual sapu lidi, pemulung ringkih, hingga anak jalanan. Selembar uang ratusan ribu berpindah tangan. Detik berikutnya, kamera melakukan close-up ekstrem, menangkap bulir air mata haru sang penerima bantuan. Sebagai penyempurna, musik instrumental bernada minor diputar sebagai latar belakang demi mengaduk-aduk emosi penonton.
Dalam sekejap, kolom komentar dibanjiri puja-puji. Frasa seperti "panjang umur orang baik" atau "mengandung bawang" diulang ribuan kali oleh netizen.
Namun, mari kita letakkan ponsel sejenak dan berpikir kritis: Apakah fenomena viral ini murni gerakan kemanusiaan (altruisme), atau justru bentuk modern dari industri eksploitatif yang memanen rupiah dari air mata sesama?
Jerat Poverty Porn di Balik Ramahnya Algoritma
Dalam kajian media, eksploitasi kesedihan demi mendulang simpati ini memiliki nama khusus: poverty porn (pornografi kemiskinan).
Istilah ini merujuk pada taktik komunikasi visual yang menggunakan potret kemiskinan ekstrem sebagai objek tontonan demi memicu rasa iba (pity) instan. Celakanya, tujuan akhir dari konten jenis ini jarang sekali menyentuh akar masalah kemiskinan. Alih-alih memberdayakan, empati publik justru dikonversi menjadi metrik digital yang menguntungkan: jumlah penonton (views), suka (likes), komentar, dan pembagian (shares).
Secara ekonomi politik media, konten seperti ini sangat disukai oleh algoritma platform digital. Algoritma media sosial dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu reaksi emosional yang kuat.
Rasa haru dan bersalah adalah komoditas emosi yang bernilai sangat tinggi. Ketika jempol kita mengetuk tombol share karena merasa tersentuh, secara tidak sadar kita sedang menyuplai bahan bakar bagi ekosistem digital yang melanggengkan komodifikasi kemanusiaan ini.
Masalah Etis: Ketika Persetujuan Kalah oleh Kebutuhan
Para pembela konten "berbagi" ini sering berdalih, "Yang penting kan membantu, dan mereka yang dibantu juga tidak keberatan direkam."
Namun, argumen ini abai terhadap satu hal penting: ketimpangan relasi kuasa.
Ada jurang pemisah yang lebar antara si pemberi bantuan yang dominan (memegang uang dan kamera) dengan si penerima yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi. Dalam posisi lapar dan serba kekurangan, apakah si penerima benar-benar memiliki kebebasan untuk menolak kamera?
Atau jangan-jangan, mereka terpaksa menukar privasi dan harga diri mereka demi sekotak nasi atau selembar uang? Ironisnya, nominal bantuan tersebut sering kali tidak sebanding dengan pendapatan iklan (AdSense) atau nilai kontrak endorsement yang diraup sang kreator dari video yang viral tersebut.
Membedah Framing Versus Realitas Struktural
Kita harus ingat bahwa media tidak pernah netral. Video berdurasi satu menit yang kita tonton adalah hasil dari proses seleksi yang ketat: penyuntingan (editing), penambahan musik sedih, hingga penulisan takarir (caption) yang melankolis. Proses ini disebut sebagai framing (pembingkaian).
Melalui pembingkaian ini, penonton digiring untuk mempersonifikasi kepahlawanan sang kreator konten. Kita dibuat percaya bahwa aksi bagi-bagi uang di jalan adalah solusi nyata atas kemiskinan.
Padahal, kenyataannya jauh dari itu. Begitu kamera dimatikan dan kru konten pulang membawa rekaman berharga, subjek dalam video tersebut kembali ke realitas hidupnya yang getir. Nasib mereka tidak benar-benar berubah secara struktural.
Lebih jauh lagi, narasi "kebaikan instan" ini mereduksi persoalan kemiskinan yang sistemik menjadi sekadar urusan moralitas individu. Masalah kesejahteraan sosial yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan kebijakan publik yang adil, seolah-olah selesai hanya dengan aksi bagi-bagi uang di jalanan yang dikemas dramatis.
Menjadi Pembaca yang Emansipatif dan Kritis
Tulisan ini tentu tidak bertujuan untuk melarang orang berbuat baik di ruang digital. Kita tentu harus mengapresiasi para kreator yang menggunakan platform mereka untuk menggalang dana secara transparan, mengedukasi publik, atau melakukan advokasi sosial tanpa harus menelanjangi harga diri subjeknya.
Namun, sebagai masyarakat digital yang cerdas, kita dituntut memiliki kecakapan untuk membedakan mana "altruisme yang menginspirasi" dan mana "komodifikasi yang mengeksploitasi".
Kebajikan yang tulus selalu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan (human dignity). Ia tidak akan memamerkan air mata dan kemalangan orang lain secara vulgar demi mengejar metrik keterlibatan (engagement) publik.
Oleh karena itu, setiap kali menyaksikan konten serupa, pertanyaan utama yang harus kita ajukan bukanlah seberapa besar nominal uang yang diberikan, melainkan: "Apa motif di balik kamera yang terus menyala?"
Sudah saatnya kita berhenti memberikan panggung dan validasi sosial kepada konten-konten yang menjadikan kemiskinan sebagai komoditas jualan. Membantu sesama esensinya adalah tentang meringankan beban hidup mereka dengan penuh rasa hormat, bukan menjadikan beban hidup mereka sebagai panggung sirkus digital demi kepentingan sepihak.
