Drama Realisme

Ahmad Lili Gojali lahir di Tangerang pada tanggal 18 November 2000. Kesibukan saat ini sebagai mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tulisan dari Ahmad lili Ghozali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aliran drama realisme ini berkembang pada tahun 1850-an, aliran ini sebagai wujud perkembangan drama dan teater modern dalam aliran kesenian. Ketidakpuasan terhadap konsepsi romantik, merupakan salah satu penyebab mengapa aliran ini berkembang. Kaum realisme menganggap bahwa idealisme yang dituntut oleh kaum romantik tidak mungkin terwujud. Karena itulah para penulis realisme berusaha menggambarkan kenyataan kehidupan yang subjektif. Kenyataan yang sebagaimana terjadi pada kehidupan sehari – hari.
Beberapa tokoh teater realisme dalam dunia teater diantaranya Dumus JR, Putu Wijaya, Augier, Ibsen (Prancis); Pinero, Joens, Galsworty, dan Shaw (Inggris); Nikolai Gogol, Ostrovsky, trugeney, dan Anton Chekov (Rusia) hal penting yang harus diketahui adalah, realisme di Rusia berbeda dengan realisme Eropa. Perkembangan realisme di Rusia dipengaruhi oleh keadaan masyarakat dan kebudayaan sendiri. Sedangkan di Eropa perkembangan aliran realisme pada masa perkembangannya muncul pula aliran yang lebih spesifik – yang sebenarnya masih sejalan dengan aliran realisme – yang disebut aliran naturalis atau Naturalisme. Namun, Aliran naturalisme ini tidak lebih spesifik dan khas dalam menampilkan kenyataan yang terjadi pada kehidupan sehari – hari di masyarakat. Sehingga aliran ini tidak berlangsung lama hanya bertahan sampai tahun 1990-an. Drama naturalisme ini seringkali menampilkan kebobrokan dan kebusukan masyarakat. Seorang tokoh aliran naturalisme yang terkenal Emila Zola mengatakan “yang harus disajikan kepada penonton bukanlah drama, tetapi kehidupan itu sendiri.” Dengan begitu penonton menjadi paham akan kehidupan yang sebenarnya.
Drama Realisme bukan lagi berbicara tentang persoalan pemujaan dewa, tetapi lebih kepada persoalan kehidupan yang berkaitan dengan kejadian nyata pada kehidupan sehari – hari seperti masalah ekonomi, hubungan persaudaraan dan sebagainya. Realisme menyajikan seni yang mengandung tujuan lain dibalik itu. Pembicaraan tentang realisme bukan mempersoalkan seberapa cocok dan pas antara lakon yang dilukiskan pada naskah dengan pementasan yang disajikan secara realitas di dalam masyarakat. Tetapi, yang dasarnya adalah bagaimana memahami dan merumuskan sehingga menghadirkan sesuatu yang dbayangkan sebagai realitas itu dan bagaimana menggunakannya untuk tujuan – tujuan tertentu.
Realisme terbagi atas dua macam yaitu:
1. Realisme Sosial
Realisme sosial ini biasanya mengangkat permasalahan sosial dan psikologis dan saling mempengaruhi keduanya jarang dipisahkan. Namun, dalam drama realistis masalah sosial dapat dipisahkan dari masalah psikologis. Ciri – ciri yang dimiliki oleh aliran realisme sosial yaitu; peran utama biasanya merupakan rakyat jelatah, dan akting yang dilakukan wajar yang dilihat dalam kehidupan keseharian tidak patetis.
2. Realisme Psikologis
Ciri – ciri pada aliran ini yaitu: pemain ditekankan pada peristiwa intern/unsur – unsur kejiwaan, secara teknis segala perhatian diarahkan pada akting yang wajar dan tekanan intonasi yang tepat dan suasana digambarkan dengan menggunakan perlambang.
Salah satu naskah drama yang termasuk aliran realisme yaitu naskah Putu Wijaya yang berjudul Bila Malam Bertambah Malam. Dalam naskah drama Bila Malam Bertambah Malam tema yang diangkat oleh Putu Wijaya yaitu permasalahan status sosial. Sebagaimana teks naskah drama tersebut yang menceritakan kehidupan seorang tokoh bernama Gusti Biang yang tinggal di daerah Bali dan begitu mementingkan derajat kebangsawaanannya. Bahkan sampai dengan kisah percintaan antara Ngurah dan Nyoman yang ditentang habis-habisan karena status sosial yang berbeda.
Keunggulan/keistimewaan drama Bila Malam Bertambah Malam, dapat dilihat dari bagaimana seorang Putu Wijaya mengonstruksi dan membuat sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam drama dan klimaks tersebut. Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Adanya campuran bahasa Bali juga semakin memperkuat latar dalam drama tersebut yang mengambil latar masyarakat Bali, meskipun demikian bahasa Bali yang digunakan dalam drama tersebut juga bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca. Akan tetapi, ada beberapa dialog percakapan yang menggunakan bahasa kasar sehingga dapat berdampak tidak baik apabila pembaca tidak dapat memahami isi drama tersebut. Drama ini tentunya memiliki pesan moral yang dapat diambil oleh pembaca yaitu mengenai perbedaan kasta yang seharusnya tidak lagi menjadi persoalan dalam kehidupan sosial masyarakat di Bali. Pandangan kaum feodal yang menganggap kaum bangsawan lebih tinggi derajatnya jika dibandingkan dengan kaum sudra sudah tidak sesuai lagi. Seseorang tidak dinilai dari derajat kebangsawanannya melainkan dari sikap dan keteladanannya.
