Konten dari Pengguna

Jejak Ilmu Ekologi Manusia dalam Krisis Ekologi Abad ke-20

Ahmad Muhajir

Ahmad Muhajir

Dosen Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Muhajir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi salah satu tradisi yang timbul dari interaksi manusia dengan alam sekitar. Foto: dok. https://pixabay.com/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi salah satu tradisi yang timbul dari interaksi manusia dengan alam sekitar. Foto: dok. https://pixabay.com/

Sebagai cabang ilmu pengetahuan yang relatif baru, lahirnya ekologi manusia sangat tergantung pada landasan dari ekologi-biologi sebagai disiplin utamanya. Dari segi epistemologi, perkembangan ilmu ekologi manusia ditandai oleh serangkaian proses demistifikasi terhadap beberapa pernyataan keyakinan, melalui rangkaian bukti empiris, dengan tujuan memahami dan mengkonseptualisasikan realitas hubungan antara sistem sosial (khususnya sistem manusia) dan sistem alam (sistem non-manusia) di dalam biosfer.

Ilmu ekologi manusia memiliki kemampuan untuk secara meyakinkan dan sah menjelaskan fenomena serta hubungan sebab-akibat yang terjadi dalam sistem sosio-ekologi. Selain menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian-penelitian ekologi manusia saat ini juga mengadopsi metode kuantitatif-positivistik dengan menggunakan alat analisis yang sangat ketat.

Kumpulan temuan penelitian melalui berbagai kerangka metodologi telah memperkuat posisi ekologi manusia sebagai suatu disiplin ilmu yang semakin kokoh dalam ranah ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian, perjalanan dan perkembangan ilmu ekologi manusia telah melibatkan tantangan dan variasi yang cukup kompleks. Awalnya, ekologi manusia berkembang melalui bidang antropologi budaya, yang fokusnya adalah mempelajari kehidupan komunitas asli di suatu wilayah dengan ekosistem tertentu, seperti hutan atau pesisir.

Beberapa ilmuwan juga melihat perkembangan ekologi manusia melalui pendekatan geografi budaya, yang mempelajari geografi sosial masyarakat di berbagai wilayah dengan setting geografi yang spesifik. Selanjutnya, sosiologi lingkungan, sebagai evolusi dari bidang ekologi manusia dalam konteks sistem sosial, turut menyumbangkan pemahaman dan penguatan terhadap ekologi manusia. Bidang ini mengeksplorasi isu-isu kehancuran alam dari perspektif konflik sosial dan juga menganalisis mekanisme kelembagaan dalam hubungan antara manusia dan alam, sebagaimana diungkapkan oleh Dunlap dan Catton Jr pada tahun 1979.

Dari segi ontologis, konsep-konsep dalam ekologi manusia yang telah digunakan secara luas sebenarnya sudah dikenal dalam disiplin ekologi-biologi. Konsep dasar seperti adaptasi dan maladaptasi ekologis, yang digunakan untuk mengkaji kelompok manusia atau komunitas lokal dalam bertahan hidup di suatu wilayah, menjadi dasar untuk menjelaskan perkembangan sistem sosial masyarakat berdasarkan interaksinya dengan alam.

Dharmawan, 2021 menyatakan konsep jejaring sosio-ekologis, digunakan untuk menjelaskan bentuk hubungan yang dibangun dalam konteks pengembangan human security-system di suatu wilayah atau pada aspek kehidupan tertentu. Di sisi lain, dinamika hubungan sosial-ekologis seperti proses kompetisi, suksesi, dan konflik atas sumber daya alam yang menyertai upaya kelompok orang dalam mempertahankan kelangsungan hidup di suatu wilayah (habitat), secara jelas "meminjam" konsep-konsep yang telah digunakan baik dalam disiplin ekologi-biologi maupun sosiologi. Penjelasan tentang pembentukan budaya sebagai hasil dari interaksi berkelanjutan antara manusia dan alam juga menunjukkan sejauh mana ekologi manusia terkait erat dengan antropologi.

Dari analisis epistemologis dan ontologis tersebut, awalnya dipercayai bahwa ekologi manusia hanya merupakan suatu pendekatan akademis untuk memahami fenomena sosial dalam konteks alam. Pertanyaannya, apakah sekarang ekologi manusia dapat bertahan sebagai suatu disiplin ilmu yang independen? Sampai pada tahap ini, dapat diakui bahwa ekologi manusia masih berada dalam proses mencari identitasnya, dan saat ini, bisa dilihat bahwa ekologi manusia merupakan hasil dari proses amalgamasi intensif berbagai cabang ilmu sosial dan biologi yang telah ada sebelumnya.

Ekologi manusia sedang berusaha memperkuat posisinya di dunia ilmu pengetahuan (Goldman and Schurman, 2000; Little, 2000). Perkembangan lebih lanjut menunjukkan bahwa sambil memperkuat dirinya, ekologi manusia juga mengalami "metamorfosis" struktural menuju sosiologi lingkungan dan matang menjadi bidang baru, yaitu ekologi politik.

Meskipun mengalami evolusi perkembangan, di dalam ranahnya sendiri, ekologi manusia telah mencapai kemajuan ilmiah yang signifikan, terutama ketika dilihat dari agenda riset yang terus berkembang hingga saat ini. Perkembangan kelompok penelitian dan tema-tema riset ekologi manusia kontemporer memberikan makna penting terhadap perkembangan dan eksistensi disiplin ilmu ini pada masa sekarang.

Demikian pula, relevansinya dalam menjelaskan kualitas peradaban manusia dalam konteks dinamika interaksi antara sistem alam dan sistem sosial (eko-sosial) dalam kehidupan saat ini semakin dirasakan sebagai substansial. Beberapa fenomena signifikan seperti krisis ekologi, yang mencakup proses destabilisasi kesetimbangan alam akibat peradaban late-modernity yang mengancam seluruh elemen ekosistem biosfer, menjadi agenda penelitian penting dalam bidang ekologi manusia sejak paruh kedua abad ke-20.