Mendorong Perubahan Melalui Pendidikan: Kontribusi Program dan Para Guru SM3T

Dosen Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ahmad Muhajir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada masa kolonial, para guru merupakan salah satu kelompok yang memiliki tingkat intelektual yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pribumi secara umum. Meskipun mereka diarahkan oleh pemerintah kolonial untuk mendukung agenda politik etis kolonialisme, mereka memiliki kemampuan untuk melihat ketidaksesuaian antara kemajuan yang dicapai oleh bangsa kolonial dan bangsa lain dengan kondisi masyarakat pribumi yang tertinggal.
Para guru tidak hanya membatasi peran mereka di dalam kelas. Mereka memiliki semangat untuk berjuang demi kemajuan bangsa, meskipun keterbatasan cakupan profesi mereka. Mereka berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengelola sekolah-sekolah.
Mereka juga berupaya menjalankan pendidikan tanpa membedakan perlakuan antara siswa-siswa dari berbagai latar belakang, serta mengajak orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Selain itu, para guru juga membentuk perkumpulan profesi di mana mereka dapat membahas nilai-nilai ideal kemajuan dan bagaimana mewujudkannya dalam konteks yang mereka hadapi.
Dalam konteks daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, peran para guru menjadi lebih penting. Daerah-daerah ini seringkali memiliki tantangan tersendiri dalam hal akses terhadap pendidikan dan pembangunan. Para guru di daerah ini tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.
Mereka harus berhadapan dengan keterbatasan infrastruktur, akses terhadap sumber daya pendidikan yang memadai, serta tantangan dalam menghadapi budaya dan lingkungan yang berbeda. Para guru di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal berperan sebagai mediator antara masyarakat setempat dan pihak berwenang, serta berusaha untuk memajukan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat meskipun keterbatasan yang ada.
Dalam hal ini, peran para guru tidak hanya sebatas memberikan pelajaran di dalam kelas, tetapi juga melibatkan upaya nyata untuk mengatasi kesenjangan dan kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat di daerah-daerah tersebut. Upaya mereka dalam memajukan pendidikan dan membentuk perkumpulan profesi menjadi salah satu langkah penting dalam mengatasi tantangan yang kompleks di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Menanti Program SM 3T Kembali
Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) adalah inisiatif yang pernah dijalankan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), di mana sarjana pendidikan berperan dalam mempercepat perkembangan pendidikan di wilayah-wilayah yang termasuk dalam kategori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) selama satu tahun.
Program ini dirancang sebagai langkah untuk mempersiapkan tenaga pendidik yang berkualitas guna mengatasi masalah kekurangan sumber daya pendidik, terutama di wilayah-wilayah yang masuk dalam kategori 3T.
SM3T memiliki tiga peran utama, yaitu: memberikan kesempatan kepada sarjana pendidikan untuk terlibat dalam kegiatan pengabdiannya, menyiapkan individu yang nantinya menjadi pendidik yang memiliki rasa empati serta tekad kuat untuk memberikan kontribusi sebagai profesional di wilayah 3T, dan mempersiapkan calon pendidik secara lebih baik sebelum mereka mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Para sarjana pendidikan masih punya harapan agar kiranya pemerintah menghidupkan kembali Program SM3T, dengan tujuan untuk mendorong pemberdayaan sumber daya manusia di wilayah 3T. Hal ini akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas pendidikan yang diterima oleh anak-anak di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Program ini diharapkan akan membantu membangun infrastruktur manusia yang lebih kuat, memastikan bahwa pendidikan berkualitas dapat diakses oleh semua anak, tanpa memandang lokasi geografis mereka.
Para sarjana pendidikan masih punya harapan agar kiranya pemerintah menghidupkan kembali Program SM3T, dengan tujuan untuk mendorong pemberdayaan sumber daya manusia di wilayah 3T
Penutup
Program SM3T telah berhasil menghasilkan para guru yang memiliki kemampuan dan semangat untuk mengatasi tantangan pendidikan yang sulit demi meningkatkan kecerdasan dan kualitas hidup bangsa. Bukti dari keberhasilan program ini dapat ditemukan sepanjang pelaksanaannya.
Para guru yang telah mengikuti program SM3T telah dibekali dengan keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman dalam menghadapi kondisi pendidikan yang kompleks di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Mereka memiliki keberanian dan ketekunan untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mungkin tidak ada di wilayah perkotaan atau lebih maju. Ini melibatkan berbagai aspek, mulai dari mengatasi keterbatasan infrastruktur, sumber daya, hingga budaya lokal yang mungkin berbeda dari tempat asal mereka.
Para guru SM3T juga menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap tugas mereka. Mereka memiliki semangat untuk berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di wilayah 3T. Kemampuan mereka dalam menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat juga menjadi kunci, karena kolaborasi antara sekolah dan komunitas menjadi penting dalam konteks pendidikan di wilayah ini.
Dengan membuktikan keberhasilannya sepanjang berjalan, Program SM3T memberikan bukti bahwa investasi dalam pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal dapat memberikan hasil positif yang signifikan. Para guru SM3T telah menjadi agen perubahan nyata dalam mengatasi tantangan pendidikan dan membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Keberhasilan ini menjadi landasan kuat untuk menghidupkan kembali program ini dan meneruskan upaya pembangunan pendidikan di wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.
