SAS, Gerakan Gotong Royong dalam Pendidikan
Tulisan dari Ahmad Mustofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan merupakan sangat penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan kualitas SDM ini akan mendorong meningkatnya kualitas kehidupan dan daya saing suatu daerah atau negara. Melalui peningkatan kualitas SDM ini juga menjadikan setiap daerah atau negara akan siap dengan tantangan-tantangan dalam perkembangan dunia.
Namun saat ini pendidikan juga menjadi permasalahan yang sangat kompleks. Masih banyak terlihat anak-anak yang tidak dapat menikmati sekolah, bahkan menghabiskan waktunya di jalanan. Selayaknya anak-anak itu dapat menikmati masa kecilnya untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Terkadang miris melihat pembangunan Indonesia yang cukup pesat, namun masih banyak penduduknya yang tidak mengenyam pendidikan layak.
Indonesia tidak akan maju jika anak-anak Indonesia tidak memperoleh haknya mendapatkan pendidikan layak. Masalah pendidikan di Indonesia ini jika dilihat lebih jauh merupakan masalah sangat rumit. Faktor kemiskinan menjadi salah satu penyebab tingginya anak putus sekolah di Indonesia. Keadaan ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk berdampak pula pada pendidikan di Indonesia. Banyak sekali anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan karena biaya pendidikan yang mahal.
Kurang meratanya pendidikan juga dirasakan masyarakat Banyuwangi. Banyaknya angka putus sekolah terjadi di berbagai daerah di Banyuwangi yang melatarbelakangi munculnya program Siswa Asuh Sebaya (SAS).
Program ini bertujuan membantu anak-anak Kabupaten Banyuwangi yang kurang mampu dengan cara para siswa menggalang dana secara sukarela untuk membantu biaya pendidikan temannya yang kurang mampu.
Dana tersebut dikelola sekolah masing masing dengan memberikan laporan kepada Dinas Pendidikan setiap tiga bulan sekali. Hal ini merupakan upaya pemerintah merealisasikan program wajib belajar 12 tahun di Kabupaten Banyuwangi.
Program yang dibuat Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2011 ini sangat bagus dan menarik diterapkan di daerah-daerah lain di Indonesia. Selain membantu siswa yang kurang mampu secara finansial, SAS juga meningkatkan ikatan solidaritas antara siswa dari keluarga yang mampu dan siswa dari keluarga yang kurang mampu.
Program ini menunjukkan bagaimana para siswa, baik itu SD, SMP ataupun SMA, diajarkan bergotong royong membantu temannya yang kurang beruntung. Program SAS ini juga tidak sulit, hanya dengan memutar kotak kaca yang seperti tempat untuk berinfaq setiap sekali dalam seminggu ke setiap kelas.
Hal ini menunjukkan para siswa dapat membangun kepedulian dan rasa solidaritas antara siswa satu dengan siswa yang lain. Tidak banyak memang, paling setiap siswa mendonasikan mulai dari Rp 1.000, Rp 2.000 atau Rp 5.000. Namun langkah nyata seperti inilah modal sosial yang dibangun para siswa nantinya dan tentu akan berguna membangun pendidikan karakter para siswa.
Pengelolaannya SAS sendiri dilakukan oleh, dari, dan untuk siswa. Ujunga melalui pengumpulan donasi tersebut, uang yang terkumpul akan diwujudkan dalam bentuk barang. Hal ini dilakukan supaya dapat dimanfaatkan dengan baik dan membantu proses belajar. Sebut saja untuk beli sepeda, sepatu, tas sekolah, buku, seragam sekolah dan sebagainya.
Secara konkrit para siswa yang kurang mampu akan terbantu dengan progam SAS ini. Harapannya, akan mampu menyemangati siswa mengikuti proses pembelajaran.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 2011, saat ini SAS berhasil mengumpulkan dana hingga Rp. 12,8 miliar dengan menjangkau sekitar 10.000 siswa. Program ini membantu menangani kebutuhan siswa yang kurang mampu yang belum masuk dalam kerangka Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun dari program pemerintah lain.
Program SAS ini meraih penghargaan sebagai TOP 12 Kategori Terbaik, Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik, Provinsi Jawa Timur 2016, termasuk juga masuk sebagai Top 99 inovasi nasional.

