Konten dari Pengguna

Al-Qur’an: Dari Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Abadi Umat

ahmad muttaqillah Muttaqillah

ahmad muttaqillah Muttaqillah

Mengajar di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta Mengajar di UIN Jakarta Mengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta Aktivis Yayasan Arrahman Vila Pamulang, Pondok Petir depok

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ahmad muttaqillah Muttaqillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah pesan yang dikirim langsung dari Sang Pencipta, berisi petunjuk hidup yang berlaku untuk semua zaman. Itulah Al-Qur’an — kitab suci umat Islam yang memandu manusia menuju jalan kebenaran, bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam mengatur masyarakat dan negara.

Ilustrasi Kajian Kitab Suci di Masjid Arrahman Vila Pamulang, Depo: Foto Ahmad Muttaqillah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kajian Kitab Suci di Masjid Arrahman Vila Pamulang, Depo: Foto Ahmad Muttaqillah

Kata “Al-Qur’an” berasal dari bahasa Arab qara’a (قرأ) yang berarti membaca atau menghimpun. Dalam istilah Islam, ia adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam bahasa Arab, diriwayatkan secara mutawātir, dan membacanya adalah ibadah.

Proses turunnya wahyu berlangsung selama sekitar 23 tahun, dimulai dari Gua Hira ketika Nabi menerima ayat pertama QS. Al-‘Alaq: 1–5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Para penulis wahyu — yang dikenal sebagai kuttāb al-wahy — memiliki peran penting. Nama-nama seperti Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka‘ab, dan Ali bin Abi Thalib tercatat sebagai penjaga kemurnian teks Al-Qur’an. Media tulisnya beragam, mulai dari pelepah kurma, kulit, hingga tulang.

Meskipun tulisan digunakan, metode utama pelestarian adalah hafalan. Para sahabat berlomba-lomba menghafal seluruh ayat, memastikan tidak ada satu pun kata yang hilang atau berubah.

Kodifikasi mushaf dimulai pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Perang Yamamah pada tahun 12 H menyebabkan gugurnya ratusan penghafal Al-Qur’an. Umar bin Khattab pun mengusulkan pengumpulan wahyu secara tertulis untuk mencegah hilangnya ayat-ayat.

Tugas besar ini diserahkan kepada Zaid bin Tsabit yang mengumpulkan ayat-ayat dari hafalan para sahabat dan media tulis yang ada. Hasilnya disimpan hingga masa Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa Utsman, perbedaan bacaan mulai muncul di berbagai wilayah. Untuk menjaga keseragaman, mushaf standar disusun dan disalin lalu dikirim ke pusat-pusat kekuasaan Islam.

Fungsi Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan ibadah. QS. Al-Baqarah: 2 menyebutnya sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Al-Qur’an juga menjadi sumber hukum Islam. QS. An-Nisā’: 58 memerintahkan keadilan dan amanah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Dalam urusan publik, musyawarah adalah prinsip penting. QS. Asy-Syūrā: 38 menyebut:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.

Al-Qur’an juga disebut “Al-Furqan” (pembeda) karena memisahkan yang benar dari yang salah. QS. Al-Furqan: 1 menegaskan:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Tidak hanya itu, Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit hati dan akal. QS. Al-Isrā’: 82 menyebut:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري)

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

Al-Qur’an adalah cahaya yang membimbing kita menuju hidup yang lebih baik, adil, dan damai. Ia bukan hanya untuk dibaca, tapi juga untuk diamalkan. Pertanyaannya, apakah kita sudah menjadikannya pedoman dalam setiap langkah hidup?