Membongkar Mitos Bulan Safar: Saatnya Tinggalkan Takhayul, Kembali ke Tauhid

Mengajar di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta Mengajar di UIN Jakarta Mengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta Aktivis Yayasan Arrahman Vila Pamulang, Pondok Petir depok
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari ahmad muttaqillah Muttaqillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bulan Safar sering kali dianggap sebagai bulan yang membawa sial, baik dalam tradisi Arab jahiliah maupun budaya lokal seperti Kejawen. Mitos bulan Safar ini masih bertahan hingga hari ini, bahkan sebagian orang masih menunda pernikahan atau bepergian karena takut celaka. Padahal, dalam ajaran Islam, keyakinan semacam ini tergolong takhayul dan bisa mengarah pada kesialan dalam Islam yang tidak bersumber dari wahyu. Tulisan ini akan membongkar mitos tersebut dan mengajak kita kembali kepada kemurnian tauhid, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Setiap kali bulan Safar datang, masih saja terdengar bisikan-bisikan lama: “jangan menikah dulu,” “tunda dulu bangun rumah,” atau “nanti bisa celaka di jalan.” Keyakinan bahwa Safar adalah bulan sial seolah tak kunjung pudar, padahal kita hidup di zaman di mana cahaya Islam telah membongkar kegelapan takhayul.

Warisan Takhayul yang Masih Hidup?
Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah, seringkali dianggap sebagai bulan sial oleh sebagian masyarakat, baik di masa Arab jahiliah maupun dalam budaya lokal seperti Kejawen. Banyak orang menunda pernikahan, bepergian jauh, atau memulai usaha karena takut terkena musibah. Tapi apakah keyakinan itu memiliki dasar dalam Islam?
Hadis Shahih Membantah Safar Membawa Sial
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ»
“Tidak ada penularan (yang berdiri sendiri), tidak ada tathayyur (merasa sial karena pertanda), tidak ada hamah, dan tidak ada kesialan karena bulan Safar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini dengan tegas membantah keyakinan masyarakat jahiliah yang meyakini bahwa bulan Safar membawa petaka. Rasulullah ﷺ membimbing umat agar meninggalkan takhayul dan menyandarkan nasib hanya kepada Allah ﷻ.
Ulama Menafsirkan: Safar, Jin, dan Penyakit?
Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa sebagian orang menafsirkan "Safar" sebagai nama penyakit dalam perut yang konon bisa menular secara gaib. Ada pula yang menyebutnya sebagai jin jahat yang masuk ke tubuh manusia. Namun semua itu dibantah Rasulullah ﷺ. Imam Nawawi menambahkan bahwa ini adalah bentuk warisan pemikiran jahiliah yang ditolak oleh Islam.
Thiyarah: Syirik yang Tak Disadari
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis lain:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: «الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.»
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun dari kita kecuali pernah merasakannya, namun Allah menghilangkannya dengan tawakal.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Artinya, menyandarkan nasib kepada simbol, waktu, angka, atau suara tanpa dalil termasuk dalam syirik kecil (syirik khafi). Ini bukan hanya salah, tetapi merusak akidah.
Nasib Ditentukan Amal, Bukan Waktu
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ...
“Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu...” (QS. Yunus: 106)
Dan dalam ayat lain:
مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِنَفۡسِهِۦ ۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَا...
“Barang siapa berbuat baik, maka itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka akibatnya atas dirinya sendiri...” (QS. Fushilat: 46)
Pesannya jelas: nasib tidak ditentukan bulan, tetapi oleh amal dan kehendak Allah.
Momentum Meluruskan Keyakinan
Sebagian riwayat menyebut bahwa pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah terjadi di bulan Safar. Bahkan ekspedisi militer pertama beliau (Perang Waddan) juga berlangsung di bulan ini. Maka mengapa kita masih ragu melangkah di bulan Safar?
Optimisme Lebih Baik dari Ketakutan
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ»
“Tidak ada thiyarah (takhayul), dan sebaik-baik pertanda adalah al-fa’l (berbaik sangka).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam mengajarkan untuk selalu berprasangka baik. Jangan biarkan ketakutan dan mitos mengatur hidup kita. Setiap bulan adalah milik Allah ﷻ — yang penting adalah isi dan niat di dalamnya.
Waktunya Kembali ke Tauhid
Anggapan bahwa bulan Safar membawa sial adalah mitos yang tidak punya dasar dalam Islam. Rasulullah ﷺ telah menghapus keyakinan semacam itu. Sebagai umat Islam, kita harus membangun hidup di atas tawakal dan amal, bukan pada waktu, simbol, atau pertanda. Inilah saatnya kita bersihkan hati dari syirik tersembunyi dan kembali pada tauhid murni.
