Konten dari Pengguna

Tidak Semua Orang Punya Kemewahan untuk Tenang

Ahmad Ripai

Ahmad Ripai

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Ripai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar hasil AI

Belakangan, pembahasan mengenai mindfulness kembali ramai setelah konten Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News mendapat kritik di media sosial. Dalam konten tersebut, Maudy membagikan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk yang membuat dirinya merasa kewalahan secara emosional. Ia kemudian membahas pentingnya mengatur konsumsi informasi, termasuk mengetahui kapan harus berhenti membaca berita agar kesehatan mental tetap terjaga.

Secara pribadi, gagasan tersebut sebenarnya masuk akal. Kita memang tidak harus membaca setiap berita, mengikuti setiap konflik, atau terus-menerus melihat penderitaan orang lain sampai diri sendiri kehilangan ketenangan. Menjaga kesehatan mental bukan berarti kita tidak peduli terhadap keadaan sekitar. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk dibicarakan: bagaimana jika seseorang tidak punya pilihan untuk menjauh dari masalah tersebut?

Bagi sebagian orang, berita buruk mungkin hanya sebuah informasi yang muncul di layar ponsel. Bisa ditutup, di-mute, atau dibaca kembali keesokan harinya. Namun bagi sebagian lainnya, berita buruk bukan sekadar berita. Ketika harga kebutuhan pokok naik, ada orang yang harus memikirkan apakah uangnya cukup untuk makan sampai akhir minggu. Ketika kebakaran hutan membuat kualitas udara memburuk, ada masyarakat yang tidak bisa sekadar mematikan layar karena udara yang mereka hirup memang sedang bermasalah.

Begitu pula ketika sebuah kebijakan pemerintah berdampak pada pekerjaan, pendidikan, atau penghasilan keluarga. Seseorang tidak selalu punya kemewahan untuk berkata, “Saya berhenti mengikuti berita dulu agar lebih tenang.” Persoalannya bukan lagi tentang apa yang mereka lihat di layar, tetapi tentang sesuatu yang sudah masuk ke kehidupan mereka.

Di sinilah pembicaraan mengenai mindfulness menjadi lebih kompleks. Mindfulness dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga diri agar tidak tenggelam dalam kecemasan. Tetapi kemampuan untuk mengambil jarak dari suatu masalah juga tidak dimiliki semua orang dalam kadar yang sama. Ada orang yang bisa memilih untuk berhenti mengikuti berita karena masalah tersebut tidak berdampak langsung pada kehidupannya. Ada pula orang yang justru harus terus mengikuti perkembangan karena keputusan yang diberitakan dapat menentukan pekerjaan, kondisi keluarga, bahkan keselamatan mereka.

Karena itu, nasihat untuk “mengambil jeda” bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Seseorang yang memiliki ruang aman, pekerjaan yang stabil, kebutuhan dasar yang terpenuhi, dan lingkungan yang relatif nyaman mungkin memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengatur kapan harus berhenti menerima informasi. Sementara bagi seseorang yang setiap hari harus memikirkan makanan, tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, atau keselamatan, ketenangan tidak selalu bisa didapat hanya dengan menjauh dari berita.

Menariknya, Maudy kemudian mengakui persoalan tersebut dalam klarifikasinya. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege dan tidak semua orang memiliki pilihan itu, terutama ketika suatu persoalan berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka. Menurut saya, pengakuan tersebut justru membuat pembahasannya menjadi lebih luas daripada sekadar memperdebatkan apakah Maudy salah atau benar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita selama ini terlalu sering membicarakan kesehatan mental seolah-olah semua orang memiliki kondisi hidup yang sama?

Nasihat yang baik bagi satu orang belum tentu terasa sama bagi orang lain. Kita tidak bisa memisahkan kesehatan mental dari kondisi sosial seseorang. Ada perbedaan besar antara seseorang yang sedang kewalahan karena terlalu banyak membaca berita dan seseorang yang membaca berita karena kehidupan keluarganya bergantung pada apa yang sedang terjadi.

Namun, kritik terhadap mindfulness juga jangan sampai membawa kita pada kesimpulan bahwa seseorang harus terus-menerus terpapar penderitaan agar dianggap peduli. Kita tidak harus menghancurkan kesehatan mental sendiri untuk membuktikan bahwa kita memiliki empati. Menjaga diri tetap penting, tetapi menjaga diri seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepekaan terhadap keadaan orang lain.

Mungkin yang kita butuhkan bukan memilih antara mindfulness atau kepedulian, melainkan menemukan keseimbangannya. Tetap peduli tanpa membiarkan diri tenggelam, tetap mengetahui keadaan tanpa harus mengonsumsi semua penderitaan setiap saat, dan tetap menjaga kesehatan mental tanpa menjadi tidak peka terhadap orang-orang yang sedang menghadapi masalah secara langsung.

Sebab mindfulness seharusnya bukan tentang menutup mata terhadap realitas. Kesadaran justru seharusnya membuat kita mampu melihat realitas dengan lebih jernih. Jika kita sedang beruntung dan memiliki kemampuan untuk mengambil jeda, mungkin pertanyaan berikutnya bukan hanya, “Bagaimana saya bisa tetap tenang?” tetapi juga, “Apa yang bisa saya lakukan agar orang lain memiliki kesempatan untuk merasakan ketenangan yang sama?”

Karena tenang memang penting. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua orang sedang berada di tempat yang memungkinkan mereka untuk tenang. Sebelum meminta seseorang berhenti memikirkan berita buruk, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu: apakah berita itu hanya sesuatu yang sedang mereka baca, atau justru sesuatu yang sedang mereka jalani?