Ekonomi TikTok Membuka Peluang Usaha, tapi Jangan Lupa Risikonya

Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Azjahra romdhona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi TikTok kini bukan lagi sekadar cerita tentang joget dan video lucu. Aplikasi yang dulu dianggap hiburan telah menjadi tempat orang berjualan, mencari penghasilan, dan menemukan produk baru. Pedagang kecil berjualan lewat siaran langsung hingga larut malam, kreator membangun penghasilan dari konten, dan konsumen membeli barang yang muncul begitu saja di beranda. Saya mengikuti perubahan ini dengan antusias sekaligus waspada. Menurut saya, ekonomi TikTok membuka peluang yang nyata bagi pelaku usaha kecil, tetapi peluang itu datang bersama risiko yang jarang dibicarakan.
Ekonomi TikTok mengubah cara orang menemukan barang
Dulu orang mencari barang karena butuh. Di platform seperti ini, orang sering membeli karena tertarik pada sesuatu yang tidak sedang mereka cari. Video yang menarik, penjelasan yang meyakinkan, dan suasana siaran langsung yang ramai membuat keputusan membeli terasa cepat dan spontan.
Bagi usaha kecil, ini peluang besar. Produk sederhana dari rumah bisa dikenal luas tanpa biaya promosi yang besar. Namun saya juga memperhatikan sisi lain: belanja yang digerakkan emosi cenderung impulsif, dan tidak semua pembeli benar-benar membutuhkan barang yang dibelinya.
Penghasilan kreator dalam ekonomi TikTok tidak sepasti kelihatannya
Kisah kreator yang sukses sering menjadi inspirasi, dan saya tidak meragukan kerja keras mereka. Tetapi yang jarang tampak adalah ketidakpastiannya. Jangkauan konten bergantung pada algoritma yang bisa berubah kapan saja, dan satu video yang ramai tidak menjamin yang berikutnya.
Menurut saya, menggantungkan penghasilan sepenuhnya pada satu platform adalah posisi yang rapuh. Aturan, komisi, dan sistem rekomendasi ditentukan pihak lain. Kreator yang bijak biasanya membangun jalur lain, seperti pelanggan tetap, jaringan sendiri, atau keterampilan yang bisa dipakai di luar platform.
Perang harga dan tekanan bagi pelaku usaha
Salah satu hal yang paling saya khawatirkan dalam ekonomi TikTok adalah perang harga. Ketika platform mendorong diskon besar dan promo terus-menerus, konsumen terbiasa dengan harga sangat murah. Pelaku usaha kecil yang tidak sanggup menekan margin sering kesulitan bersaing.
Persaingan sehat memang baik bagi konsumen, tetapi persaingan yang hanya bertumpu pada harga bisa membuat usaha kecil tersingkir oleh pemain bermodal besar atau barang impor. Karena itu, menurut saya pelaku usaha perlu mencari pembeda selain harga: kualitas, cerita produk, layanan, dan kepercayaan pelanggan.
Bagaimana pelaku usaha sebaiknya menyikapi ekonomi TikTok
Saya tidak menyarankan menjauhi platform ini. Peluangnya terlalu besar untuk diabaikan. Saran saya sederhana: manfaatkan, tetapi jangan bergantung penuh. Hitung biaya sebenarnya, termasuk komisi, ongkos kirim, retur, dan waktu yang tersita untuk siaran langsung. Pastikan stok dan layanan siap bila pesanan tiba-tiba melonjak.
Dan, yang menurut saya paling penting, bangun hubungan langsung dengan pelanggan, misalnya lewat kontak atau komunitas sendiri, agar usaha tidak hilang jika aturan platform berubah.
Tentu ada pandangan lain yang patut dipertimbangkan. Sebagian pihak menilai bahwa platform seperti ini justru memberi akses pasar yang sebelumnya hanya dinikmati pemain besar, sehingga ketergantungan adalah harga yang wajar. Ada pula yang berpendapat bahwa regulasi perlu ketat demi melindungi usaha lokal dari praktik harga yang tidak sehat. Keduanya punya dasar. Menurut saya, pelaku usaha perlu cerdas memanfaatkan peluang, sementara regulator menjaga agar persaingan tetap adil.
Penutup
Pada akhirnya, ekonomi TikTok adalah alat, bukan jaminan. Ia mempercepat siapa pun yang siap, dan menggilas yang hanya mengikuti arus. Sebelum ikut berjualan atau membangun penghasilan di sana, tanyakan pada diri sendiri: kalau besok algoritmanya berubah, apakah usaha saya masih bisa berdiri? Jawaban jujur atas pertanyaan itu sering menentukan apakah peluang akan menjadi pijakan atau ketergantungan.
