Konten dari Pengguna

FOMO Investasi Membuat Kita Membeli Mahal dan Menjual Panik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azjahra romdhona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

FOMO investasi mungkin salah satu perasaan paling umum di kalangan investor pemula, dan saya mengakui pernah merasakannya. Kita melihat teman bercerita untung besar, linimasa penuh tangkapan layar hasil investasi, dan grup obrolan ramai membahas aset yang katanya akan naik terus. Rasa takut ketinggalan muncul diam-diam, lalu mendorong kita membeli sesuatu yang belum kita pahami. Menurut saya, FOMO investasi adalah jebakan psikologis yang berbahaya, karena ia menyuruh kita mengambil keputusan besar berdasarkan perasaan orang lain, bukan berdasarkan tujuan dan kemampuan kita sendiri.

FOMO investasi bekerja lewat cerita yang hanya separuh

Penyebab utamanya sederhana: kita hanya mendengar cerita keberhasilan. Orang yang untung senang membagikannya, sedangkan yang rugi cenderung diam. Akibatnya, gambaran yang sampai kepada kita timpang, seolah semua orang menang kecuali kita.

Saya melihat ini sebagai ilusi yang kuat. Ketika sebuah aset sudah ramai dibicarakan, biasanya kenaikan terbesarnya sudah terjadi. Kita datang di ujung pesta, membeli pada harga tinggi, lalu menjadi pihak yang menanggung penurunan. Pola ini berulang dari satu tren ke tren berikutnya, hanya nama asetnya yang berganti.

FOMO investasi mendorong membeli mahal dan menjual panik

Yang membuat FOMO investasi merugikan adalah dua keputusan buruk yang biasanya mengikutinya. Pertama, membeli saat harga sedang tinggi karena takut harga naik lagi. Kedua, menjual saat harga turun karena takut rugi lebih dalam.

Menurut saya, dua perilaku itu sama-sama lahir dari emosi, bukan perhitungan. Orang yang tidak tahu mengapa ia membeli akan sulit tenang ketika harga bergejolak, sehingga mudah mengambil keputusan terburu-buru. Hasilnya, kerugian sering muncul bukan karena asetnya pasti buruk, tetapi karena waktu masuk dan keluarnya salah.

Melawan FOMO investasi dengan tujuan yang jelas

Cara paling ampuh yang saya yakini adalah menulis tujuan sebelum membeli. Untuk apa uang ini diinvestasikan, kapan akan dibutuhkan, dan berapa risiko yang sanggup saya tanggung? Pertanyaan itu membuat kita menilai investasi dari kebutuhan pribadi, bukan dari kehebohan di sekitar.

Dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat sebaiknya tidak dipertaruhkan pada hal yang nilainya bisa turun tajam. Dana darurat juga perlu tersedia lebih dulu, supaya kita tidak terpaksa menjual aset di saat paling buruk. Menurut saya, ini bukan nasihat yang membosankan, melainkan pagar yang menjaga kita tetap waras ketika pasar sedang ramai.

FOMO investasi bisa diredam dengan kebiasaan sederhana

Selain tujuan, ada kebiasaan kecil yang membantu. Beri jeda sebelum membeli sesuatu yang sedang ramai, misalnya beberapa hari, dan gunakan waktu itu untuk mempelajarinya. Kurangi paparan pada konten yang memancing rasa panik atau iri. Dan pilih satu pendekatan yang konsisten, seperti menyisihkan dana secara rutin, daripada mencoba menebak waktu yang tepat.

Saya juga menyarankan untuk jujur menilai pemahaman sendiri. Jika kita tidak bisa menjelaskan kepada orang lain bagaimana sebuah investasi menghasilkan keuntungan dan apa risikonya, kemungkinan kita belum siap membelinya.

Tentu ada pandangan lain yang patut dipertimbangkan. Sebagian orang berpendapat bahwa ikut tren tidak selalu salah, karena ada kalanya tren memang mencerminkan peluang nyata yang tidak terlihat bila terlalu lama menunggu. Ada pula yang menilai bahwa pengalaman rugi sedikit adalah bagian dari belajar, selama jumlahnya kecil dan tidak mengganggu kebutuhan pokok. Pandangan itu masuk akal. Menurut saya, yang penting adalah ukuran: gunakan dana yang siap dilepas, bukan uang yang menopang hidup sehari-hari.

Penutup

Pada akhirnya, FOMO investasi bukan musuh yang bisa dihilangkan, tetapi perasaan yang perlu dikenali. Pasar akan selalu menyuguhkan peluang baru, dan tidak ada yang benar-benar tertinggal bila ia tetap memegang tujuan sendiri. Sebelum menekan tombol beli lain kali, tanyakan satu hal: apakah saya membeli karena paham dan butuh, atau semata karena takut ketinggalan? Jawaban jujur atas pertanyaan itu sering menyelamatkan lebih banyak uang daripada tips apa pun.