Konten dari Pengguna

Green Economy Bukan Tren, tapi Cara Menjaga Ekonomi Tetap Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azjahra romdhona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dok. Pribadi

Green economy sering terdengar seperti istilah yang cocok untuk seminar dan laporan tahunan perusahaan besar, tetapi terasa jauh dari urusan sehari-hari. Banyak orang menganggapnya tren mahal yang hanya bisa diikuti mereka yang berkecukupan. Saya sempat berpikir begitu. Namun semakin sering saya melihat harga kebutuhan naik karena cuaca ekstrem, pasokan terganggu, dan biaya energi berfluktuasi, semakin yakin saya bahwa anggapan itu keliru. Menurut saya, green economy bukan beban tambahan bagi ekonomi, melainkan cara menjaga agar ekonomi tetap bisa berjalan di masa depan, karena pertumbuhan yang menghabiskan sumber dayanya sendiri tidak akan bertahan lama.

Green economy dimulai dari cara pandang terhadap biaya

Salah satu alasan green economy sulit diterima adalah cara kita menghitung biaya. Ongkos beralih ke praktik yang lebih ramah lingkungan terlihat jelas di depan, sementara kerugian akibat kerusakan lingkungan tersebar dan sering ditanggung orang lain di kemudian hari.

Pencemaran sungai, lahan yang rusak, dan polusi udara jarang muncul dalam laporan laba rugi, tetapi tetap membebani kesehatan, produksi pangan, dan anggaran publik. Menurut saya, selama biaya tersembunyi itu tidak diperhitungkan, pilihan yang merusak akan terus tampak murah dan pilihan yang menjaga akan terus tampak mahal.

Green economy dan peluang yang jarang disorot

Di sisi lain, ada peluang yang sering luput. Energi terbarukan, pengelolaan sampah, pertanian yang lebih efisien, dan produk yang dirancang tahan lama membuka jenis usaha dan lapangan kerja baru. Konsumen pun mulai memperhatikan asal-usul dan dampak produk yang mereka beli.

Bagi pelaku usaha, saya melihat ini bukan sekadar soal citra. Efisiensi energi dan pengurangan limbah sering berarti biaya operasional yang lebih rendah dalam jangka panjang. Usaha yang bisa memakai ulang bahan, mengurangi pemborosan, dan menjaga kualitas biasanya lebih tahan terhadap gejolak harga bahan baku.

Green economy tidak boleh hanya jadi slogan

Saya juga ingin jujur soal sisi yang mengkhawatirkan. Istilah ramah lingkungan sering dipakai sebagai pemanis tanpa perubahan nyata, yang kerap disebut greenwashing. Kemasan bertuliskan hijau belum tentu proses di baliknya benar-benar berkelanjutan.

Menurut saya, green economy hanya bermakna jika bisa diukur dan diperiksa. Perusahaan perlu terbuka soal dampaknya, dan konsumen perlu kritis terhadap klaim yang tidak disertai bukti. Tanpa kejujuran, istilah ini akan kehilangan kepercayaan sebelum sempat memberi manfaat.

Green economy harus adil bagi mereka yang terdampak

Transisi ke ekonomi hijau tidak otomatis menyenangkan semua orang. Pekerja di sektor yang bergantung pada industri padat emisi, serta usaha kecil yang kesulitan menanggung biaya penyesuaian, bisa tertinggal jika perubahan dilakukan tanpa perencanaan.

Karena itu, saya berpendapat bahwa transisi perlu disertai pelatihan, dukungan pembiayaan, dan waktu penyesuaian yang wajar. Green economy yang hanya menguntungkan sebagian pihak akan menimbulkan penolakan, dan penolakan itu bisa menghambat tujuan yang sebenarnya baik.

Tentu ada pandangan lain yang patut dipertimbangkan. Sebagian pihak menilai bahwa negara berkembang perlu memprioritaskan pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja lebih dulu, karena standar lingkungan yang terlalu ketat bisa menghambat industri dan menaikkan harga. Ada pula yang berpendapat bahwa teknologi hijau masih mahal dan belum merata, sehingga perubahan harus bertahap. Argumen itu punya dasar yang kuat. Menurut saya, pertumbuhan dan keberlanjutan tidak selalu saling meniadakan, tetapi memang perlu urutan dan kebijakan yang cermat.

Penutup

Pada akhirnya, green economy adalah soal cara kita memilih tumbuh: dengan menghabiskan, atau dengan menjaga. Perubahan besar memang membutuhkan kebijakan dan investasi, tetapi dimulai juga dari keputusan kecil, seperti mengurangi pemborosan, memilih produk yang tahan lama, dan menuntut kejujuran dari perusahaan. Sebelum menganggap ekonomi hijau sebagai beban, mungkin kita perlu bertanya sejenak: berapa biaya yang harus kita bayar jika sumber daya yang menopang ekonomi kita habis lebih dulu?